Si Pengecut Yuria

Si Pengecut Yuria
Bab 14 Perasaan Yang Tak Dimengerti


__ADS_3

Entah mengapa nasihat nenek begitu melekat di benaknya, saking melekatnya ia sampai hanya terfokus pada setiap kata dalam benaknya hingga tak menyadari bahwa Rapka dan Noah tidak masuk kelas hari ini.


Baru setelah Imel yang memberitahu di jam istirahat ia tahu mereka berdua sengaja bolos hanya untuk memberi dukungan kepada tim sekolah mereka.


Imel benar-benar di buat tidak mengerti saat mengetahui hal itu, padahal Rapka sudah bukan lagi anggota tim tetap tapi ia masih rela meluangkan waktu hanya untuk hal semacam itu. Noah lebih aneh lagi menurutnya, ia anggota club bisbol tapi rela meninggalkan perlajaran demi menonton club lain.


"Noah dan Rapka sudah berteman sejak SMP, mereka selalu bersama dan hampir tidak pernah terpisah. Aku yakin Rapka berserikeras ingin menonton dan Noah menemaninya," ujar Imel seakan membaca benak Yuri.


Meski sudah mendapatkan penjelasan tapi rupanya Yuri tetap tidak memahaminya, ia merasa mereka hanya buang-buang energi untuk hal yang tidak penting.


Mengibaskan pikiran tentang Noah dan Rapka ia kembali fokus pada pelajaran setelah jam istirahat selesai, begitu juga saat latihan.


Pulang ke rumah ia mendapati neneknya sedang merajut sebuah sarung tangan padahal biasanya neneknya sedang sibuk di dapur menyiapkan makan malam.


"Oh kau sudah pulang," ujar neneknya dengan hanya melirik saja.


"Hari ini nenek tidak masak, apa kau tidak masalah jika makan mie?" tanya nenek.


"Baik," sahut Yuri.


Ia segera mengganti pakaian dan kali ini duduk menemani neneknya di ruang tamu, memperhatikan bagaimana tangan keriput itu masih lincah memainkan benang.


"Teman nenek besok berulang tahun, dia sangat baik jadi nenek ingin memberikan sebuah hadiah," ujar nenek memberitahu padahal Yuri tidak bertanya.


"Bukankah itu merepotkan?" tanya Yuri yang merasa lebih praktis jika neneknya membeli sesuatu saja di toko.


"Memang, nenek sudah mulai dari siang dan sampai sekarang belum selesai juga. Tapi sesuatu yang dibuat sendiri lebih berarti dan mudah diterima sebab teman nenek bisa merasakan kerja keras dan merasa tulus nenek," sahutnya.


Yuri mengerutkan kening, lagi-lagi ia tak mengerti mengapa orang-orang bisa berbuat sesuatu yang aneh hingga tak masuk akal untuk oranglain hanya karena mereka dekat.


Tak bertanya apa pun lagi setelah makan malam Yuri masuk kamar, berkutat dengan komik-komiknya yang kini jarang ia sentuh.


Diantara banyak komik yang semalaman itu habis ia baca ada satu komik yang dimana ceritanya cukup membuatnya tersentak kaget, dalam komik itu bercerita tentang sebuah perjuangan seorang pria yang mencoba memberikan segala hal demi gadis yang ia cintai.

__ADS_1


Hingga pria itu telah berkorban banyak hal sayangnya gadis itu tidak sepenuhnya mencintainya, namun sang pria bukannya marah malah tersenyum dan tetap mencintai dengan caranya.


Satu ucapan si tokoh pria yang membuka benak Yuri adalah 'Perasaan ku tulus tanpa mengharap imbalan, jika kau tidak bisa membalas maka tidak masalah sebab cintaku adalah urusanku sementara membahagiakan mu adalah keinginan ku.'


Sedikit demi sedikit kini Yuri mulai mengingat bagaimana keinginannya membahagiakan Rapka dengan memberikan buku edisi khusus Gyou setelah mengetahui kesedihan Rapka.


Perasaan yang membuatnya berjuang keras untuk membuka mulut dan bicara, perasaan yang tidak ia mengerti namun selalu ia rasakan.


Bukankah kepada Imel pun ia sampai berjuang bangun pagi hanya untuk membuatkan bekal makanan? mungkin semata hanya untuk membuatnya tetap menjadi teman tapi perasaan puas saat Imel menyukai hasil makanannya tak bisa ia lupakan.


Kalau begitu harusnya ia mengerti mengapa Noah mau repot menemani Rapka, juga nenek yang meski sudah malam masih saja merajut.


Menutup buku komiknya Yuri merebahkan diri diatas ranjang, menatap langit-langit yang putih.


Awalnya ia lakukan semua hanya agar terbebas dari nasihat ibunya, tapi dalam waktu dua pekan saja ia sudah merasa senang mendapat teman meski mungkin hanya dirinya yang menganggap hubungan itu.


......................


"Selamat pagi," sapa Rapka lebih sopan dari biasanya.


"Pagi," sahut Yuri.


"Apa kemarin ada tugas?" tanyanya sambil memarkir sepeda.


Yuri menggeleng, ia pun berjalan sambil menundukkan kepala seperti biasa saat berjalan bersama Rapka.


"Kemarin benar-benar pertandingan yang sangat seru, tim kita berhasil mencetak gol sebanyak empat kali!" seru Rapka menceritakan bagaimana keseruan pertandingan kemarin.


Ia ceria seperti biasa dan lebih terlihat bahagia lagi pagi itu, sementara Yuri hanya sesekali melirik untuk melihat senyum Rapka.


Hingga mereka sampai di kelas Rapka masih bercerita dan duduk tepat di samping Yuri, dikursi milik Noah hingga cerita itu pun selesai dan keheningan sejenak menghampiri mereka.


"Kau itu... mirip Noah ya?" ujar Rapka tiba-tiba.

__ADS_1


"M-maksudmu?" tanya Yuri tak mengerti tanpa mau memandang Rapka yang sejak tadi memperhatikannya.


"Kalian tidak banyak bicara dan acuh," jawabnya.


Itu memang benar dan Yuri juga menyadarinya, itulah mengapa ia merasa tidak gugup di hadapan Noah karena sifatnya yang dingin.


"Kalian juga sangat perhatian," ujar Rapka lagi sembari tersenyum.


Perlahan Yuri memberanikan diri untuk menatap Rapka, menemukan tatapan hangat ia segera terpikat dan tak bisa mengedipkan mata.


"Terimakasih untuk bukunya," ujar Rapka lagi kini dengan senyum yang akan membuat Yuri masuk rumah sakit karena mendapat banyak gula.


Murid-murid lain mulai berdatangan, membuat Yuri segera tersadar dan memalingkan wajah.


Pelajaran pun di mulai seperti biasa di jam yang sama, namun di tengah pelajaran tiba-tiba Yuri di panggil untuk datang ke ruang guru.


Tentu ia merasa heran sementara satu teman sekelasnya penasaran, saat tiba rupanya ia mendapat telepon dari nenek.


"Halo nek!" seru Yuri.


Nenek tak menjawab, tapi Yuri mendengar sebuah isakan yang cukup keras. Setelah menunggu beberapa detik barulah nenek bicara, memberi kabar yang membungkam mulutnya mungkin untuk selamanya.


Telepon di tutup, Yuri segera bicara dengan wali kelasnya dan kembali ke kelas untuk mengambil tasnya.


Setelah mengambil sepedanya yang terparkir dengan cepat ia mengayuhnya, membuat angin menerbangkan rambutnya bagai bendera yang berkibar.


Lima belas menit kemudian Yuri sampai di stasiun kereta, di dekat pintu masuk itu dengan mudah ia menemukan neneknya.


Memasang ekspresi datar ia menghampiri neneknya yang justru berwajah getir.


"Ayo pergi! nenek sudah beli dua tiket," ajak nenek.


Yuri mengangguk dan mereka pun segera masuk kedalam stasiun.

__ADS_1


__ADS_2