
"Yuri besok adalah ulangtahun Imel, apa kau mau mencari hadiah bersama kami?" tanya Rapka di sela jam kosong.
"Besok?" tanya Yuri.
"Mm, aku ingin memberikan hadiah tapi tidak tahu apa yang harus ku berikan. Jadi pulang sekolah nanti aku dan Noah akan pergi berbelanja, apa kau mau ikut?" tanya Rapka lagi.
Tentu Yuri mengangguk, mereka adalah teman jadi tidak mungkin di hari ulangtahun Imel ia tak memberikan apa pun.
Namun satu hal yang cukup mengganggu ia tak menyangka Rapka begitu perhatian kepada Imel sampai ingin memberi hadiah, tapi jika di pikir lagi mereka memang sangat dekat.
Pulang sekolah Yuri ijin tak ikut latihan dan pergi ke pusat perbelanjaan, mereka masuk ke berbagai toko untuk mencari hadiah yang tepat.
Setelah berjam-jam mencari mereka akhirnya kelelahan dan memutuskan untuk istirahat di sebuah kafe, karena cuaca yang cukup terik ketiganya memesan eskrim untuk menyegarkan diri.
"Aaaaahhh... ini sangat enak!" seru Rapka merasakan sensasi dingin dan manis di mulutnya.
"Aku mau ke toilet dulu," ujar Yuri yang tak tahan dengan keringat di lehernya yang terasa gatal meski telah di lap.
Mereka mengangguk, membiarkan Yuri pergi sendirian. Toilet itu berada di paling belakang dekat pintu keluar untuk para staf membuang sampah, karena tak dapat sinar matahari lorong menuju toilet sedikit remang sebab lampunya yang tidak terlalu terang.
Yuri menelan ludah saat berjalan menyusuri lorong itu, ia teringat akan film horor dimana psikopat atau hantu keluar dari ujung lorong yang gelap.
"Hhhhh, sepertinya aku tidak usah ke toilet," gumamnya menatap ngeri.
Ia berbalik dan hendak kembali tapi tiba-tiba.
Aaaaaaaaaa....
Seorang pria jangkung berdiri tepat di hadapannya dengan tatapan dingin, Yuri yang kaget sekaligus takut melangkah mundur sampai ia tersandung kaki sendiri dan jatuh.
"Kenapa kau berteriak?" tanya Noah tanpa ekspresi.
"Aaahh... kau membuatku kaget," ujar Yuri sambil menenangkan jantungnya yang berdebar.
Noah mengulurkan tangan membantu Yuri bangun dan meminta maaf, setelah beberapa menit Yuri baru bisa tenang.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Yuri.
"Aku juga mau ke toilet," sahut Noah sambil menunjuk toilet pria yang bersebelahan dengan toilet wanita.
"Oohhh," ujar Yuri.
Ia pun berjalan kembali di susul Noah yang mengikuti dari belakang, saat Yuri masuk ke dalam toilet Noah berdiri di samping pintu toilet sampai Yuri selesai dengan urusannya.
__ADS_1
"Eh kau masih disini?" tanya Yuri heran sebab Noah seakan menunggunya.
"Kau sudah selesai? ayo pergi!" ajak Noah tak memperdulikan pertanyaan Yuri.
Mereka pun berjalan keluar, kembali duduk di kursi dan menikmati eskrim yang sudah meleleh sebagian.
Berhasil menemukan hadiah yang cocok untuk Imel mereka pun berpisah untuk pulang ke rumah masing-masing, Yuri yang rumahnya paling jauh mulai mengayuh sepedanya sendirian.
Esoknya mereka berkumpul di taman, Yuri yang dengan sengaja membuat bekal lebih banyak sudah memberitahu Noah dan Rapka bahwa ia akan membuat bekal untuk semua.
Tentu saja Imel sangat senang akan hadiah yang ia terima dari semua, apalagi mereka bisa menikmati masakan Yuri yang enak.
"Kau membuat semua ini sendiri?" tanya Rapka tak percaya sambil menatap bekal yang banyak itu.
"Kalian tidak tahu ya? selama ini Yuri yang membuatkan ku bekal, dia ini sangat pandai memasak!" ujar Imel meninggikan.
"Mmmm rasanya sangat enak!" seru Rapka saat ia mencicipi.
Mendapatkan banyak pujian tentu Yuri merasa tidak enak sebab seharusnya semua perhatian tertuju pada Imel, tapi di sisi lain ia juga senang apalagi yang memuji adalah Rapka.
"Bagaimana menurut mu?" tanya Yuri kepada Noah sebab ia tak menunjukkan ekpresi apa pun.
"Enak," sahut Noah dengan wajah datar seperti biasa.
"Hei nanti pulang sekolah datanglah kerumahku, ibuku membuatkan pesta kecil untuk ku," ujar Imel.
Tentu mereka tak bisa menolak ajakan Imel, maka sepulang sekolah mereka berempat berjalan bersama.
Orangtua Imel menyambut kedatangan mereka dengan senang, pesta kecil yang awalnya sederhana menjadi lebih meriah karena kedatangan mereka.
Tawa tak pernah berhenti di wajah Imel, ia keliatan senang sampai tanpa sadar sifat memaksanya timbul. Ia membuat permainan yang mengharuskan semua orang ikut, saat malam hampir tiba barulah Imel melepaskan mereka untuk pulang.
Melambaikan tangan Imel tetap berdiri di pintu sampai ketiga temannya pergi, rasa lelah habis berpesta membuat mereka berjalan dalam kebisuan.
Beberapa menit berjalan Rapka berpamitan sebab jalan menuju rumahnya berbeda, ia melambaikan tangan sebelum mengayuh sepedanya dan pergi.
Kini tinggallah Noah dan Yuri, mereka masih berjalan dalam keheningan.
"Apa tidak merepotkan membuat bekal setiap hari untuk Imel?" tanya Noah tiba-tiba.
"Memang cukup merepotkan, tapi aku senang melakukannya. Jika kau mau aku juga bisa buatkan untuk mu," sahut Yuri.
"Tidak perlu," tukas Noah.
__ADS_1
Mereka kembali membisu sampai tiba di pertigaan menuju arah rumah Noah, waktunya untuk berpisah.
"Tugas yang kita kerjakan waktu itu mendapat nilai yang bagus, kau bisa mengejar ketinggalan mu selama seminggu jika kau rajin masuk sekolah mulai hari ini," ujar Noah.
Yuri tertegun, butuh waktu beberapa menit sampai ia mengerti bahwa Noah sedang mencoba menghiburnya.
"Jika kau butuh bantuan ku katakan saja, aku yakin kau mudah di ajari," lanjutnya.
"Terimakasih, meski bolos terlalu lama tapi aku bisa menjamin nilai ku tidak akan merosot," sahut Yuri sembari tersenyum.
"Syukurlah, kalau begitu sampai nanti."
Noah melambaikan tangannya satu kali dan berbalik, sementara Yuri masih berdiri di sana untuk melihat punggung Noah yang lebar.
......................
Di panas terik itu tentu murid-murid merasa malas berolahraga, meski guru menyemangati tetap saja mereka berlari mengelilingi lapangan dengan lesu.
Selesai pemanasan guru menyuruh untuk bermain voli, tentu saja Imel senang sebab itu keahliannya.
Sementara Yuri bersikap biasa saja karena memang ia tidak begitu pandai melakukannya, terlebih ia memang tidak suka olahraga.
"Yuri kau masuk club voli kan?" tanya seorang teman sekelasnya.
"Ah iya," sahutnya.
"Kalau begitu kau masuk tim kami," ujarnya sebab guru menyuruh mereka membuat tim untuk saling melawan.
"Baik," sahut Yuri yang tak bisa menolak.
"Aaaawaaassss..... " seru seseorang.
Buk
"Yuri... " seru Imel cemas sebab bola melayang itu tepat mengenai wajahnya.
"Yuri kau tidak apa-apa?" tanya yang lain.
Seketika semua orang mengerubunginya, sementara si pemukul bola segera minta maaf dengan perasaan takut.
"Ah aku tidak apa-apa," sahutnya cepat agar mereka menjauh darinya.
"Yuri...hidungmu!" seru Imel menatap ngeri.
__ADS_1
Yuri yang merasa aneh sebab ada banyak tatapan cemas tertuju padanya segera sadar bahwa darah mengalir keluar dari hidungnya.