
Begitu pulang ke rumah Yuri di sambut oleh sepeda yang sudah terparkir di samping pintu rumah, rupanya nenek telah membelikannya.
Melihat tinggi dan modelnya sangat cocok untuk Yuri, itu membuat Yuri bingung bagaimana bisa neneknya bisa membeli sepeda yang tepat untuknya.
"Dengan begini kau tidak perlu takut jika ketinggalan bus," ujar nenek.
Yuri mengangguk, esoknya ia bangun lebih awal sebab pergi menggunakan sepeda kecepatannya tentu lebih lambat dari bus jadi ia ingin mengantisipasi keterlambatan.
Sayangnya Yuri tidak menonton berita pagi sehingga ia tak tahu ramalan cuaca hari ini, setelah kegiatan club selesai ia harus perpaku di depan parkiran menatap hujan yang deras.
Menatap langit yang begitu mendung dengan curah hujan yang deras ia memprediksi sendiri hujan baru reda nanti malam, tak ada pilihan ia harus menunggu.
Mengulurkan tangan ia merasakan tetesan air hujan yang membasahi telapak tangannya, terasa dingin dengan sensasi geli yang membuatnya tertawa kecil.
Andai ia bawa jas hujan pasti saat ini ia sudah bersepeda sambil menikmati hujan.
"Kau tidak membawa payung atau jas hujan?" tanya Rapka tiba-tiba.
Yuri mematung, akibat hujan yang terlalu deras ia sampai tidak menyadari Rapka datang menghampirinya.
Merasa canggung Yuri yang menundukkan kepala, untuk menjawab pertanyaan Rapka pun ia hanya meenggeleng.
"Aku juga lupa membawanya," ujar Rapka.
Keheningan kemudian hadir diantara mereka, membuat Yuri semakin canggung dan gugup. Apalagi saat ia sadar mereka hanya berdua.
Duaaaaaarrr...
Aaaa......
Tiba-tiba petir menyambar dengan hebatnya, suaranya yang kencang membuat Yuri ketakutan hingga merunduk sambil menutup telinga.
Melihat hal itu Rapka yang tidak tega tiba-tiba berdiri di hadapannya, seakan melindunginya dari petir.
"Tidak apa-apa," ujarnya sambil tersenyum.
Duaaaaaarrr...
Kali ini saking takutnya Yuri reflek memegang tangan Rapka dengan kencang, beberapa detik kemudian saat ia membuka mata dan mencoba menenangkan degup jantungnya tatapannya tertuju pada Rapka yang menatapnya.
"M-maaf," ujarnya segera menjauh.
__ADS_1
"Tidak apa-apa," sahut Rapka.
"Ah! itu... " tunjuk Yuri pada tangan Rapka yang terluka akibat ia terlalu kencang berpegangan hingga membenamkan kukunya.
"Oh, hanya luka kecil. Tidak masalah," ucap Rapka seraya tersenyum.
Tapi Yuri tak meremehkannya, untung ia selalu membawa kotak obat kecil di tasnya. Itu menjadi kebiasaan setelah ia di bully, jadi ia bisa membalut lukanya di mana pun ia berada.
Dengan cekatan Yuri menempelkan plester di luka itu, membuat Rapka bingung sebenarnya seperti apa sifat Yuri yang sebenarnya.
"Kenapa kau begitu baik padaku?" tanya Rapka tiba-tiba.
Tentu Yuri terkejut mendengar pertanyaan itu, kenapa ia baik? ia justru merasa tidak bersikap baik karena sudah melukai Rapka.
"Awalnya kau selalu menghindar ku, menganggap ku tidak ada. Selama ini aku bertanya-tanya apa bahumu begitu sakit hingga membuatmu membenciku sedemikian rupa," ujar Rapka.
Yuri semakin tersentak kaget, ia tak pernah membenci Rapka. Sebaliknya justru ia merasa menyukai Rapka, setiap hari ia menghindari Rapka karena tidak memiliki keberanian bahkan untuk menyapa.
"Kau... salah paham," ungkap Yuri pelan.
"Apa?" tanya Rapka sebab ia tidak mendengar dengan jelas.
"Aku tidak membenci mu," ujar Yuri kini dengan suara yang lebih kencang.
"Aku tidak bisa!" seru Yuri memotong ucapan Rapka.
"Aku... selalu gugup jika dihadapan orang yang ceria, aku... tidak bisa... berteman dengan orang seperti mu," lanjutnya tanpa bisa mengangkat wajah.
"Maafkan aku!" seru Yuri tiba-tiba.
Tanpa memperdulikan hujan yang masih begitu deras Yuri bergegas berlari menerjangnya, mengayuh sepedanya tanpa peduli matanya yang perih karena air hujan yang menusuk wajahnya bagai jarum.
"Kau belum pulang?" tanya Noah tiba-tiba.
Rapka yang masih bengong menatap kepergian Yuri akhirnya tersadar dan menggeleng.
"Bagaimana tadi?" tanya Noah sambil menghampiri.
"Yah... pelatih tetap tidak mengijinkan ku masuk," jawabnya.
"Begitu ya," sahut Noah dingin seperti biasa.
__ADS_1
Sejenak mereka menatap hujan yang masih deras dalam keheningan.
"Kita baru kelas dua, semester depan kau masih punya kesempatan untuk ikut dalam pertandingan dan masih ada tahun depan juga," ujar Noah tanpa ekspresi.
Rapka tersenyum, meski wajah Noah datar dan selalu bicara dengan nada dingin tapi diam-diam Noah adalah orang yang perhatian. Cara dia menghibur Rapka yang sedih karena tidak bisa ikut turnamen akibat kecelakaan memang unik, tapi itu membuatnya bersemangat kembali.
......................
Pulang dengan keadaan basah kuyup meski Yuri langsung ganti baju dan makan sup hangat tetap saja esoknya ia terserang demam, akibatnya ia tak bisa masuk sekolah dan harus tetap berbaring di ranjangnya.
Kepalanya yang terasa pening menatap langit-langit dan lampu yang seakan bergoyang, badannya juga terasa sangat pegal dan sakit.
Rasanya begitu tidak nyaman, ia ingin pergi keluar setidaknya untuk jalan-jalan saja.
Aneh, padahal dulu ia selalu sengaja membuat diri sakit entah demam atau apa pun itu. Alasannya karena ia malas masuk sekolah, ia ingin terus berada di kamarnya sepanjang waktu dan untuk selamanya.
Jika di pikir lagi belum genap dua pekan ia tinggal di desa bersama neneknya, tapi ia sudah merasa nyaman dengan kehidupan di sana.
Sekolah yang dulu selalu ia hindari kini ingin ia datangi setiap hari, padahal jika masuk sekolah ia akan lelah saat bertemu Rapka karena debaran jantungnya yang kencang. Ia juga akan lelah karena harus mengikuti kegiatan eskul, setiap pagi ia juga harus menyiapkan dua bekal. Bukankah semua itu melelahkan dan merepotkan? tapi kenapa kali ini ia bisa menikmatinya.
"Yuri... apa kau sudah bangu?" tanya nenek dari luar kamar.
Yuri mengerjap, rupanya tadi pagi setelah sarapan ia kembali tertidur hingga siang.
"Iya.. " jawabnya dengan suara serak.
Pintu kamar pun di buka, nenek masuk dan segera memeriksa suhu badannya.
"Astaga... sudah siang begini tapi demam mu tidak turun juga, apa sebaiknya kita pergi ke dokter saja?" tanya nenek.
"Tidak perlu, tolong buatkan aku teh saja," sahutnya.
"Baiklah, ada teman-teman mu menjenguk. Apa nenek boleh mengijinkan mereka masuk?" tanya nenek yang membuat Yuri terkejut.
"Teman-teman?" tanyanya.
"Iya, anak yang bernama Imel dan dua laki-laki datang menjenguk. Mereka bahkan repot-repot membawakan buah-buahan untuk mu," jawab nenek.
Entah Yuri harus bersikap seperti apa, pada akhirnya ia mengijinkan mereka masuk.
"Yuri... aku mendengar kau demam, apa kau sudah baikan?" tanya Imel ricuh padahal ia baru masuk kamar.
__ADS_1
Yuri tak dapat bicara, apalagi saat dua pria yang nenek maksud adalah Rapka dan Noah. Matanya kemudian tertuju pada Rapka, mereka saling menatap cukup lama sampai akhirnya Yuri memalingkan pandangan.