
Rapka yang bertugas membeli empat tiket sementara Imel dan Yuri membeli popcorn dan minuman, setelah masuk ke dalam ruangan Noah duduk di paling ujung kemudian Rapka, Yuri dan Imel.
Sayangnya Yuri tidak tahu kalau film yang ingin Rapka tonton adalah film thriller, banyak jumpscare yang membuat Yuri kaget hingga memegang tangan Rapka dengan erat.
Awalnya tentu Rapka kaget dan kesakitan, tapi melihat wajah Yuri yang pucat ia pun merasa bersalah.
"Apa kau baik-baik saja?" bisik Rapka tepat di depan Yuri yang sedang menunduk di bahu Rapka.
"Ah ya," sahut Yuri mencoba tersenyum sambil mengangkat wajah.
Tapi ia malah mendapat jumpscare nyata, wajah Rapka sangat dekat dengannya hingga terkejut. Namun kali ini Yuri justru malah terpaku bukannya bersembunyi, ia menatap Rapka cukup lama sampai sadar dan melepaskan tangannya.
"Jika kau merasa tidak baik kita bisa keluar saja," ujar Rapka tak ingin Yuri memaksakan diri.
"Aku baik-baik saja," sahut Yuri yang justru tidak ingin keluar saat ia bisa begitu dekat dengan Rapka.
Bahkan ia bisa memegang tangan Rapka cukup lama, kesempatan ini tentu tidak akan datang dua kali.
"Aaahhh... filmnya memang seru! benar-benar memacu adrenalin," seru Imel saat mereka keluar ruangan.
Tanpa terasa hari sudah begitu siang, mereka pun memutuskan untuk berjalan-jalan sambil mencari makanan atau minuman.
Puas berjalan sampai kaki terasa lelah barulah mereka pergi ke taman untuk istirahat, menikmati danau buatan yang tak begitu besar namun cukup indah untuk dinikmati.
"Nyaman sekali," ujar Imel menikmati udara sejuk dan damai.
Mereka mengangguk setuju, kemudian membiarkan suara alam mengambil alih keheningan itu untuk menenangkan jantung mereka yang telah bekerja sangat keras karena sebuah film.
__ADS_1
Tanpa terasa hari semakin senja, Yuri segera berpamitan sebab ia tak mau ketinggalan bus terakhir. Maka mereka pun berjalan menemani Yuri sampai ke halte sambil bercakap-cakap.
"Imel awas!" seru Rapka tiba-tiba menarik tangan Imel hingga jatuh ke pelukannya.
Kejadian itu cepat sekali sampai mereka tak tahu apa yang terjadi, tapi Yuri mengetahuinya. Imel terlalu berjalan ke pinggir sampai satu motor hampir saja menyerempetnya, andai Rapka tidak menarik tangannya mungkin saat ini Imel sudah jatuh dan mengalami cedera serius.
"Kau baik-baik saja?" tanya Rapka memastikan.
Imel mengangguk dengan wajah kaget, sementara Rapka masih memberi pertanyaan hanya untuk memastikan Imel benar-benar baik.
Saat itulah Yuri sadar akan siapa gadis yang sudah mengisi hati Rapka, gadis yang Imel ketahui, gadis yang baik, perhatian dan memiliki senyum yang manis. Gadis itu sekarang masih berada di dalam dekapan Rapka, gadis itu adalah Imel.
Bodoh sekali, kenapa Yuri baru sadar bahwa selama ini mereka memang sudah dekat. Sebelum kedatangannya sebagai murid baru mereka pasti sudah dekat, mungkin karena terlalu dekat sebagai seorang teman sehingga Rapka belum berani untuk menyatakan cinta.
Menyadari hal ini harusnya ia senang sebagai teman, tapi nyatanya hatinya justru semakin sakit dan hancur lebih dari kemarin. Seakan ia tidak senang bahwa gadis itu adalah Imel, seakan ia berhak atas Rapka padahal dia bukan siapa-siapa.
Ia harus ikut bahagia dan mendukung Rapka, maka pagi itu saat mereka bertemu di parkiran Yuri yang sudah mengumpulkan banyak keberanian selama semalaman siap untuk bicara.
"Tentang pertanyaan mu waktu itu," ujarnya dengan suara yang cukup dapat di dengar Rapka meski kepalanya masih menunduk.
"Apa?" tanya Rapka yang bahkan sudah lupa.
"Kau harus menyatakan perasaan mu apa pun yang terjadi, aku mendukung mu!" ujar Yuri tegas kini dengan mata yang tajam menatap Rapka.
Tentu Rapka sangat kaget mendengarnya apalagi dengan tatapan Yuri yang langsung kepadanya, tapi keberanian itu hanya bertahan beberapa detik saja. Setelahnya Yuri kembali menundukkan kepala dan membisu, namun meski tak ada kata ulang Rapka senang mendengar kalimat itu dari Yuri.
Sejak saat itu inginnya Yuri bersikap biasa saja, tapi hati tak dapat berbohong. Setiap ia bicara atau sekedar dekat dengan Rapka ia merasa patah hati dan tak mampu menahannya hingga satu-satunya jalan hanyalah menjaga jarak.
__ADS_1
Tentu Rapka sadar akan perubahan sikap Yuri, itu membuatnya tak nyaman hingga menjadi murung.
Yuri yang lebih murung lagi menjadi tak bersemangat saat jam pelajaran maupun latihan, saat mengisi air untuk teman-teman clubnya sebelum latihan di mulai tanpa sengaja ia melihat Imel berjalan ke arah taman belakang.
Yuri yang penasaran akhirnya mengikuti kemana Imel pergi, saat ia mengetahui Imel ternyata menemui Rapka seketika ia segera bersembunyi.
Jantungnya berdegup sangat kencang, telinganya terasa berdengung dan kepalanya sedikit pening dengan mata yang berkunang-kunang.
Akhirnya waktu pernyataan cinta itu akan segera di mulai, Yuri ingin sekali mendengar bagait cara Rapka menyatakan cinta. Tapi jika ia tetap berdiri di sana maka yang selanjutnya terjadi justru ia akan jatuh pingsan, menundukkan kepala ia kembali untuk mengisi air.
Namun setelah masuk lapangan ia meminta ijin untuk tidak ikut latihan sebab badannya terasa tidak sehat, pelatih mengijinkan dan dia pun bergegas pergi.
Entah langit sedang mengejeknya atau ikut bersedih dengannya, hari yang cerah itu tiba-tiba mendung dan hujan lebat mengguyur bumi.
Yuri yang sudah sampai di parkiran tak peduli pada tubuhnya yang menjadi basah kuyup, ia mengambil sepedanya untuk mulai mengayuh.
Tapi tiba-tiba atas kepalanya teduh, Yuri yang kaget melihat Noah tepat di sampingnya sambil memegangi payung.
"Aku tidak mungkin membiarkan mu seperti ini," ujar Noah dengan suara dingin seperti biasa.
Namun Yuri justru merasa hangat, hatinya yang hancur seakan di perbaiki hingga dapat merasakan nyaman dan tenang. Air mata mengalir di pipinya, dengan sigap Noah mengeluarkan sapu tangan dan memberikannya kepada Yuri.
Perlakuan sederhana itu rupanya begitu menyentuh Yuri, dalam keadaan kacau tanpa sadar ia melepaskan sepedanya dan memeluk Noah.
Tentu Noah kaget akan tindakan Yuri yang tiba-tiba, tapi dia yang mengerti membiarkan Yuri menangis dalam dekapannya hingga puas.
Tanpa mereka sadari Rapka melihat apa yang sedang mereka lakukan dari teras sekolah.
__ADS_1