Si Pengecut Yuria

Si Pengecut Yuria
Bab 15 Kematian Orang Tua Yuri


__ADS_3

Hari yang cerah itu seakan mencoba menghibur Yuri dari kesedihan hatinya, memang tak ada air mata yang mengalir namun bukan berarti dia baik-baik saja.


Masih berpakaian serba hitam setelah acara selesai Yuri duduk di ruang makan, menatap tiga kursi kosong yang hanya akan di duduki orang tuanya saat makan malam.


Ruangan itu sepi, rumah itu sepi seperti biasanya. Ia sudah biasa akan keheningan itu tapi rasa kesepian yang satu ini membuatnya tak tahan, membuatnya merasa seakan berada di antara langit dan bumi tanpa bisa melakukan apa pun.


Nenek berjalan menghampiri, menepuk pundak Yuri dengan lembut.


"Tidak perlu menahannya," ujar nenek dengan suara tertahan.


Entah mengapa perintah itu kemudian membuatnya benar-benar menangis, deras air mata mengalir dengan cepat membasahi pakaiannya.


Kemudian dalam pelukan nenek hatinya terbuka untuk sepenuhnya, memuntahkan kesedihan dan penyesalan akan takdir malangnya.


Tak ada kata puas untuk menangis, tapi Yuri terlelap kemudian setelah beberapa menit menangis. Di kamar yang memang biasa ia habiskan waktu sendirian mata sembabnya tertutup, tapi sesekali raut wajahnya mengerut dan kembali menangis.


Nenek yang merasa kasihan menatap sebuah foto keluarga dimana orangtua Yuri berdiri diantara Yuri, itu adalah foto saat kelulusan SMP.


Nampak ada senyum menyungging di wajah mereka meski kecil, membuat nenek ikut tersenyum.


Beberapa waktu yang lalu paman Yuri yang tak lain adalah adik ibunya berinisiatif untuk mengajak Yuri tinggal dengan keluarganya, tapi Yuri menolak. Nenek juga tidak mengijinkan, ia sudah mengambil keputusan bahwa Yuri akan tetap tinggal di desa bersamanya.


Tapi satu hari berlalu Yuri mengurung diri di kamarnya, tanpa mau makan ataupun minum. Ia sendiri heran bisa merasa begitu sedih hingga hilang nafsu makannya, ia begitu merasa kehilangan padahal ia sudah terbiasa di tinggalkan.


Menghela nafas panjang nenek mencoba membujuk Yuri, mengajaknya keluar kamar meski hanya untuk duduk di ruang tamu. Tapi Yuri benar-benar enggan melakukannya, seakan tubuhnya di rantai di dalam kamar itu.


Ting Tong

__ADS_1


Bel rumah berbunyi, nenek segera pergi ke depan untuk membuka pintu. Seorang pria paruh baya dengan stelan jas berdiri tepat di belakang pintu, mengenalkan diri sebagai pegawai bank yang mengurus tabungan mendiang orangtua Yuri.


Dia hanya datang untuk mengucapkan bela sungkawa dan memberitahu tentang tabungan yang kini menjadi milik Yuri, dia berhak menerima buku tabungannya dan bisa mengambil uangnya kapan pun dia mau.


Setelah kepergian pria itu nenek memberikan buku tabungannya kepada Yuri, namun Yuri nampak tak peduli.


Ia bahkan tak tahu apakah hari itu masih siang atau malam, sepanjang hari hanya ia habiskan untuk tidur dan melamun sampai ia tahu sudah berapa hari ia lewati dengan keadaan seperti itu.


Awalnya nenek dapat memahami keadaan Yuri, tapi semakin lama ia mulai khawatir sebab Yuri tidak menunjukkan keinginan untuk menjalani hidup.


"Kau sudah lama bolos sekolah, bukankah itu tidak baik untuk masa depanmu? lagi pula apa kau tidak merindukan teman-teman mu?" tanya nenek mencoba untuk membuka hati Yuri.


"Untuk apa? ibu sudah tidak ada, tidak ada lagi yang mewajibkan ku untuk memiliki teman," sahut Yuri tanpa memandang ke arah nenek.


Tentu nenek terkesiap kaget, ia tak menyangka peran ibunya begitu penting bagi Yuri sampai dapat memutuskan kehidupan Yuri.


Menitikkan air mata nenek sudah tak tahan akan kegelapan yang menyelimuti Yuri.


Seminggu lebih sudah Yuri tidak masuk sekolah, Imel yang khawatir mencoba menengok ke rumah nenek tapi tempat itu sepi tanpa ada siapa pun di sana. Dari tetangga terdekat ia mengetahui mereka pergi ke kota tapi tidak tahu apa alasannya.


Saat mencoba bertanya ke bu Susi berharap ada kabar ia menerima jawaban bahwa Yuri sedang sakit dan di rawat di rumah orangtuanya di kota, itu membuat Imel semakin khawatir saja.


Setiap istirahat dia yang sudah terbiasa makan bekal bersama Yuri di taman kini hanya memakan sebungkus roti sambil bertanya-tanya apa yang terjadi dengan Yuri.


Rasa penasaran dan khawatir yang begitu mengganggu membuat Imel mencoba meminta alamat rumah orangtua Yuri, dari bu Susi ia pun berhasil menemukannya.


Di akhir pekan itu dia yang telah membulatkan tekad pergi ke stasiun kereta untuk menjenguk Yuri, kali pertama datang ke kota itu rupanya menemukan rumah Yuri tidaklah terlalu sulit.

__ADS_1


Ia segera sampai dan memencet bel, beberapa menit kemudian nenek yang membuka pintu nampak terkejut akan kedatangan dirinya.


"Kau.... " ucap nenek.


"Halo nek, aku dengar Yuri sedang sakit. Sudah seminggu dia tidak masuk sekolah, apa sakitnya sangat parah?" tanya Imel tak bisa berbasa-basi lagi.


Nampak kemudian nenek memperlihatkan wajah murung, membuat benak Imel berfikiran yang tidak-tidak.


"Masuklah," ajak nenek.


Imel menurut, ia memberikan oleh-oleh berupa buah-buahan kepada nenek. Menyuguhkan secangkir air minum nenek mengajak bicara di ruang tamu, wajahnya masih sendu dengan bekas air mata di pipinya yang nampak jelas.


"Satu hari itu aku mendapat telepon dari polisi yang memberitahu bahwa orangtua Yuri mengalami kecelakaan, aku segera menelpon Yuri yang masih di sekolah dan memintanya ijin pulang agar kami bisa segera pergi. Saat sampai di rumah sakit tempat orang tuanya di rawat kami sudah terlambat," ujar nenek menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


Imel tersentak, merasa lebih buruk untuk Yuri dan segera mengucapkan bela sungkawa.


"Dia memang keliatan tegar, hanya satu kali dia menangis tapi hatinya lebih hancur dari apa pun. Dia kehilangan tujuan hidupnya hingga berakhir di kamar sepanjang waktu," lanjut nenek memberitahu kondisi Yuri saat ini.


Tentu Imel mengerti, tak ada anak yang mampu menahan kesedihan paling buruk itu.


"Boleh aku menengoknya?" tanya Imel.


"Tentu saja, aku akan lebih senang lagi jika kau bisa membuat Yuri ceria lagi."


Imel tak yakin ia dapat melakukannya, Yuri sangatlah tertutup hingga ia tak tahu apa pun tentangnya. Selama ini mereka memang selalu menghabiskan waktu bersama, tapi Yuri bagai air dalam tempurung yang tak bisa ia tebak.


Jika di pikir lagi Yuri adalah sosok teman paling baik yang pernah ia temui, Yuri mau masuk ke club demi dirinya, membuat bekal setiap hari demi dirinya, menonton pertandingan demi dirinya. Semua yang ia lakukan selalu membuat dirinya tersenyum bahagia, kini saat Yuri sedang bersedih ia justru tidak tahu apa yang bisa membuat Yuri kembali tersenyum.

__ADS_1


"Bodoh!" gumam Imel mengutuk dirinya yang benar-benar tidak berguna sebagai seorang teman.


Tiba-tiba air mata mengalir di pipinya padahal ia sudah berdiri di hadapan pintu kamar Yuri, seharusnya ia memasang wajah ceria seperti biasa dan menebar kebahagiaan agar Yuri merasa lebih baik lagi. Tapi ia malah ikut terperangkap dalam kegelapan itu.


__ADS_2