Si Pengecut Yuria

Si Pengecut Yuria
Bab 17 Kita Adalah Teman


__ADS_3

Ketika jam istirahat tiba Imel yang sudah tak bisa menahan diri segera menghampiri Yuri, belum sempat ia bicara Yuri mengeluarkan kotak bekal sambil berkata "Ayo kita makan".


Terpaku menatap senyum yang jarang Imel lihat di wajah Yuri beberapa detik kemudian dengan berkaca-kaca ia mengangguk, Yuri pun bangkit dan hendak pergi namun Rapka memanggil.


" Aku senang kau sudah masuk sekolah lagi," ujarnya sambil tersenyum.


Siapa pun bisa mengatakan hal itu hingga dapat menjadi basa basi semata, tapi karena Rapka yang mengatakannya jantungnya seakan segera berhenti beberapa detik.


Kali ini Yuri tak mau kabur sambil menyembunyikan wajah merahnya di balik rambut, menatap Rapka dengan penuh syukur ia pun tersenyum dan mengangguk mengartikan bahwa ia juga senang bisa kembali ke sekolah.


Seperti biasa Imel sangat bawel dengan banyak ceritanya, sesekali bercanda membuat Yuri tersenyum.


"Apa kau mau datang latihan hari ini?" tanya Imel.


"Iya," sahut Yuri tak ingin melewatkan masa emas yang baru ia sadari.


Imel tersenyum senang, bersyukur karena Yuri tetap menjadi Yuri yang selama ini ia kenal Imel telah berjanji akan menahan diri agar tidak memaksakan kehendaknya supaya tidak merepotkan.


Maka selama latihan ia malah banyak membantu Yuri, seperti saat mengambil bola.


Selesai latihan mereka berpisah setelah mengganti pakaian, Yuri yang kemudian berjalan untuk mengambil sepedanya yang di parkir cukup kaget melihat Rapka berdiri sendirian di sana.


"Mau jalan bareng?" tanya Rapka.


Blush


Kuping Yuri seakan di siram air panas sampai memerah, pertanyaan Rapka mungkin terdengar biasa saja di telinga orang lain tapi bagi Yuri itu sudah seperti ajakan kencan.


Menundukkan wajah karena malu ia hanya bisa berjalan mengambil sepeda dan berdiri di samping Rapka sebagai ganti jawaban Ya, mereka pun berjalan bersama sambil menuntun sepeda.

__ADS_1


"Um... Yuri, aku turut berduka cita atas kepergian orangtuamu," ujar Rapka pelan.


Yuri sudah mendengar banyak ucapan bela sungkawa, tapi mendengar dari Rapka membuat hatinya lebih terasa membaik.


Ia mengucapkan terimakasih dengan suara pelan untuk meredam gemeternya.


Tak ada apa apun lagi yang keluar dari mulut mereka, sampai tiba di gerbang mereka pun berpisah sebab arah rumah mereka yang berbeda.


Mengayuh sepeda dengan tenang Yuri menikmati setiap hembusan angin yang menerpa wajahnya, menghelak udara segar yang lebih terasa dingin sebab malam akan segera tiba.


Sampai di rumah nenek menyambut dengan senyum ramah, ia bertanya tentang bagaimana sekolah hari ini sambil menyiapkan makan malam.


Yuri tak banyak bicara seperti biasa namun dari wajahnya nenek tahu ia sedang senang, kini ia sudah kembali pada rutinitasnya.


Bangun pagi untuk membuat dua bekal saat jam istirahat seperti biasa ia menyerahkan satu bekal untuk Imel, namun wajah Imel keliatan tak senang menerima bekal itu.


Membuat Yuri berfikir Imel tidak suka dengan masakannya hari ini.


Segera berbagai pertanyaan negatif muncul di kepalanya, membuatnya kehilangan nafsu makan.


"Aku... tidak mau merepotkan mu lagi, jadi kau tidak perlu melakukan ini untuk ku. Besok aku akan bawa bekal makan mu sendiri," jelas Imel.


"Kenapa begitu?" tanya Yuri yang tak mengerti.


"Aku sudah keterlaluan padamu! aku selalu merepotkan mu dan itu pasti alasan kenapa.... kau... tidak mau sekolah kemarin, karena aku... pasti karena aku... " sahut Imel yang kesal pada dirinya hingga mengalirlah air mata di pipinya.


Ini adalah kali pertama Yuri melihat Imel menangis, ia tak menduga Imel akan begitu perhatian kepadanya sedemikian rupa.


"Kau adalah satu-satunya teman ku yang paling baik, yang tidak pernah mengeluh atau berbicara buruk tentangku pada orang lain. Aku ingin terus berteman dengan mu karena itu... " ucapan Imel tak dapat terselesaikan sebab tangisannya semakin mengencang.

__ADS_1


Yuri yang tak menduga bahwa Imel juga menganggapnya teman tentu terharu mendengarnya, tiba-tiba ia menggenggam tangan Imel yang membuatnya terkejut.


"Aku senang saat melihat wajah bahagia mu ketika makan masakan ku, aku senang saat kau terus mengajak ku bicara, aku senang saat kau mengajak ku menonton pertandingan dan ikut masuk club voli. Semua itu memang melelahkan, tapi aku selalu menikmati setiap saat bersama mu. Kau adalah orang pertama yang menolongku, memanggil nama ku dan perhatian padaku. Jadi bagaimana mungkin aku merasa kerepotan sementara aku senang melakukannya?" ujar Yuri dengan senyuman tulus.


"Yuri.... " panggil Imel pelan.


Satu pelukan erat tiba-tiba Imel berikan, membuat Yuri kaget hingga sesak nafas. Tapi kemudian mereka tertawa bersama, menikmati bekal yang Yuri buat dengan sepenuh hati.


Tersisa dua pekan lagi menuju turnamen, kali ini Yuri tak mau bermalas-malasan. Meski ia hanya seorang pemain cadangan tapi ia akan melakukan yang terbaik untuk timnya, maka dari itu ia terus melatih kemampuannya.


Saat latihan selesai ia mendapati Imel yang masih betah latihan kembali lagi ke lapangan setelah mengambil tasnya, Yuri yang melihat api semangat membakar tubuh Imel pun terangsang dan akhirnya ikut latihan juga.


Sementara Rapka yang menunggu Yuri selesai latihan masih berdiri di parkiran sambil sesekali melihat ke pintu, mengetahui anggota club voli putri sudah selesai latihan ia cukup heran sebab Yuri belum juga muncul.


Hingga akhirnya malam tiba Yuri dan Imel yang sudah merasa kelaparan baru sadar kalau mereka terlalu lama latihan, dengan cepat mereka pun membereskan lapangan dan segera berlari keluar sebelum satpam memarahi mereka karena tidak pulang juga.


Berjalan bersama ke parkiran mereka kaget melihat Rapka berdiri di sana, saat mata mereka bertemu Yuri segera membuang wajah karena malu.


"Kenapa kalian lama sekali?" tanya Rapka.


"Hehe kami terlalu bersemangat latihan sampai lupa waktu," sahut Imel sambil tertawa kecil.


"Ini sudah masuk jam makan malam bagaimana kalau kita pergi ke kedai?" tanya Rapka.


"Ayo!" seru Imel bersorak.


Ia memimpin jalan di depan sementara Rapka menunggu Yuri mengambil sepedanya baru berjalan bersama, Yuri ingin sekali bertanya mengapa Rapka belum pulang tapi mulutnya seakan di lem sampai tidak bisa di buka.


Sampai di kedai terdekat mereka memesan tiga porsi mie, Imel yang sudah kelaparan sejak tadi segera makan meski masih panas.

__ADS_1


Tentu saja itu membuat lidahnya kepanasan hingga ia harus minum, kericuhan yang di buat Imel itu pun mengundang tawa mereka.


__ADS_2