Si Pengecut Yuria

Si Pengecut Yuria
Bab 34 Aku Bahagia


__ADS_3

"Kenapa mereka lama sekali?" tanya Yuri heran.


Lima belas menit berlalu dan selama itu Rapka bergelut dengan nyalinya yang tiba-tiba menciut, ia tak pernah mengira akan merasa gugup sampai tak bisa berkata-kata padahal ia sudah cukup dekat dengan Yuri.


"Mu-mungkin Imel belum puas belanja," ujarnya.


"Mm, Imel memang selalu seperti itu. Dia benar-benar tidak bisa diam ya? haha... " ucap Yuri merasa geli.


Berkat tawa itu Rapka merasa suasana cukup cair sehingga ia merasa lebih santai, dalam batin ia bertekad untuk segera bicara dengan kata-kata yang mudah.


"Sifatnya sangat ceria, dia bagai matahari yang selalu membuatku silau. Jika berada di sampingnya aku merasa seperti awan yang tak pernah dianggap, tapi aku bersyukur karena dengan begitu aku memiliki kehidupan normal yang bahagia."


Tatapan Yuri pada langit malam saat ia bicara begitu sendu, sarat akan makna sehingga setiap katanya bukanlah bualan.


"Kau juga sama seperti Imel," ujarnya sambil melirik.


"Aku?" tanya Rapka menunjuk dirinya sendiri.


"Mm, kau sangat terbuka sampai membuatku gugup.." jelasnya mengingat bagaimana sikapnya yang selalu kabur dari Rapka.


"Maafkan aku," kata Rapka merasa canggung.


"Eh tidak! harusnya aku yang minta maaf, maaf karena selalu kabur saat kau bicara padaku. Itu sangat tidak sopan," balas Yuri.


Ia kembali menatap langit.


"Dulu aku sama sekali tidak memiliki teman, aku selalu sendirian dan murung. Imel adalah teman pertama yang membelaku saat aku kesulitan, aku benar-benar beruntung bisa bertemu dengannya. Aku.... ingin seperti dia, bisa mengajak bicara siapa pun tanpa ragu. Tapi aku tidak pernah bisa," ada nada sedih saat Yuri mengatakan hal itu.


"Kenapa kau ingin menjadi orang lain? kau punya kelebihan sendiri dan harusnya kau bangga pada dirimu," ujar Rapka.


"Aku... punya kelebihan?" tanya Yuri tak percaya.


"Tentu saja, kau orang yang sangat baik. Kau tidak pernah menolak siapa pun yang meminta tolong," jawabnya.


"Terimakasih," ujar Yuri dengan senyuman yang manis.


Membuat Rapka memerah sampai menundukkan kepalanya.


"Rapka, aku.... menyukaimu!" ujar Yuri tiba-tiba.


Awalnya Rapka kira ia salah dengar, tapi mata Yuri yang hanya tertuju padanya membuat jantungnya berdegup kencang.


"Kau orang yang penuh semangat, melihat mu membuatku berkeinginan untuk mencapai impian. Aku sangat mengagumi mu sampai perlahan perasaan itu berubah menjadi rasa suka," lanjutnya.


"Yuri... aku... " Rapka tak tahu harus menjawab apa sebab ia terlalu senang mendengar pernyataan itu.


"Aku harap kau tidak marah dan tidak ada kecanggungan diantara kita, aku berfikir untuk mengatakannya sebab aku tidak ingin menyesal. Aku senang sekali bisa berteman dengan mu dan aku harap kau tidak melupakan pertemanan kita sampai kapan pun."


"Tentu tidak! aku juga senang bisa bertemu dengan mu dan mengenalmu," sergah Rapka cepat.


"Mm, terimakasih. Kalau begitu aku pergi dulu," ujar Yuri sambil bangkit.


"Eh tunggu! kau mau kemana?" tanya Rapka kaget sekaligus bingung.


"Mencari Noah, aku sudah mengatakan perasaan ku padamu dan itu membuat ku lega. Sebelum hari berganti aku juga ingin mengatakan perasaan ku kepadanya," sahut Yuri.


Ia melambaikan tangan sambil tersenyum kepada Rapka yang membatu, butuh waktu beberapa menit bagi Rapka untuk mengerti bahwa perasaannya ternyata tak terbalas.


Berlari diantara keramaian Yuri terus mencari-cari Noah, setiap seorang pria yang ia rasa mirip Noah akan ia sapa sampai akhirnya ia menemukan Noah dan Imel tengah duduk di sebuah kursi tepat di bawah pohon.


"Yuri!?" seru Imel heran melihat kedatangan Yuri yang sendirian.


"Ada... yang ingin aku katakan padamu," ujar Yuri dengan mata yang hanya tertuju pada Noah.

__ADS_1


Tentu itu membuat Imel dan Noah saling bertatap mata, jelas mereka bingung tapi Imel lebih dulu tau apa yang sedang terjadi maka ia memilih untuk pergi.


Berjalan mendekati Noah Yuri duduk tepat di sampingnya, untuk pertama kalinya Noah merasa canggung sebab benaknya memikirkan segala macam.


"Tinggal beberapa menit lagi menuju pergantian tanggal," ujar Yuri sambil melirik jam tangannya.


Noah hanya mengangguk.


"Ahhh... aku sering bertanya-tanya kenapa aku bisa begitu terbuka padamu tapi tidak kepada yang lain apalagi Rapka, uh... jika sudah di dekat Rapka aku benar-benar merasa gugup seolah jantungku akan berhenti berpacu. Mungkin di kehidupan sebelumnya kita saudara," ucap Yuri dengan santainya.


"Apa... kau sudah bicara dengan Rapka?" tanya Noah memastikan.


"Mm, aku menyatakan perasaanku padanya," sahut Yuri yang membuat Noah tercengang.


"Lalu apa yang kau lakukan disini?" tanya Noah lagi kini dengan nada dingin.


Rupanya ia dan Imel sudah salah menebak.


"Untuk memberitahu mu," jawab Yuri polos.


"Astaga... kau bisa bicara nanti kan? kau meninggalkan Rapka begitu saja?" omelnya.


"Tidak ada waktu lagi, meski perasaan ku sudah tersampaikan tapi hubungan yang kami miliki hanya sebuah pertemanan. Hubungan yang paling aku banggakan," jawab Yuri.


"Apa?" tanya Noah tak percaya.


"Aku sudah memikirkannya dengan baik, aku tidak ingin merusak pertemanan ku dengan hubungan spesial yang mungkin akan berakhir."


"Tapi... " protes Noah.


"Bisakah kita berhenti membicarakannya? kali ini aku datang padamu bukan untuk mendengar nasihatmu," pinta Yuri tegas.


Noah mendapat tekanan kuat dari tatapan Yuri, maka ia pun mengangguk dan diam.


"Terimakasih telah mau bersamaku sepanjang waktu," lanjutnya dengan penuh senyuman.


Waktu terus berjalan, sebuah sirine mengabarkan sesaat lagi akan tiba waktunya pergantian tanggal.


"Noah, boleh aku memegang tanganmu?" tanya Yuri.


10


9


8


Noah mengangguk.


7


6


5


Saat Yuri memegang tangannya Noah merasa terkejut merasakan dinginnya tangan Yuri, tapi ia tak begitu peduli.


4


3


2


1

__ADS_1


Dooooooorrr.....


Prrriiiitttt......


Kembang api menyala di atas langit malam, berkilau dengan indah.


"Noah... aku bahagia... " ujar Yuri menatap takjub pada langit itu.


......................


"Noah ada telpon untumu!" seruan itu membangunkan Noah.


Ia tak langsung bangkit, beberapa menit ia menatap langit-langit yang putih. Di luar cuaca cukup cerah, tanggal dua Januari dan ini masih libur.


Setelah malam tahun baru perasaannya benar-benar tak karuan, Yuri berpamitan tak lama setelah pesta kembang api selesai. Ia menolak diantar pulang dan Noah tak berusaha lebih keras lagi.


Harusnya ia menemui Imel dan Rapka untuk pulang bersama, tapi ia merasa canggung sehingga memutuskan untuk pulang lebih dulu. Hingga sekarang ia belum bertemu ataupun mengabari mereka.


"Halo.." sapanya pada seseorang yang menelpon.


"Oh Imel, ada apa?" tanyanya.


Sedetik kemudian matanya terbelalak kaget mendengar jawaban Imel, membiarkan gagang telepon menggantung ia berlari menyambar jaket hitamnya dan segera pergi keluar.


Di tengah teriknya matahari nafasnya kian memburu bersamaan dengan laju kakinya yang cepat berlari.


Akhirnya ia sampai di halte bus, rupanya Imel dan Rapka sudah menunggu disana. Mereka tak saling bicara tapi raut wajah mereka jelas menunjukkan kecemasan yang sama, saat bus datang mereka segera masuk.


Hanya sepuluh menit dan mereka sudah sampai, mempercepat langkah akhirnya mereka tiba di rumah nenek yang sudah ramai.


Noah merasa lututnya seketika melemas, tapi ia memaksakan diri untuk berjalan masuk di ikuti yang lain.


Apa yang Noah dengar di telpon rupanya bukan isapan jempol, foto Yuri sudah di pajang disana dengan bunga-bunga.


"Kalian datang," sambut nenek.


"Nenek, apa yang terjadi?" tanya Imel segera.


Nenek tersenyum pahit, mengajak mereka keruangan lain untuk bicara.


"Ada saksi yang mengatakan dia melompat dari atas jembatan, dia sempat mengalami koma sampai akhirnya pergi tepat setelah tahun baru."


Penjelasan singkat itu bukan menjawab pertanyaan mereka namun memunculkan berbagai pertanyaan lainnya.


"Tapi... Yuri bersama kami saat malam tahun baru," ujar Rapka.


"Tidak mungkin, dia sedang koma di rumah sakit saat itu," sahut nenek yakin sebab dia ada di sana untuk menemani.


Imel dan Rapka semakin di buat bingung, hanya Noah yang diam tak berkata bahkan tak peduli dengan kejanggalan itu. Ia hanya mempertanyakan kepergian Yuri yang tidak bisa ia ijinkan.


Kepergian Yuri menjadi gosip terpanas di awal tahun baru, gosip tentangnya tak padam sampai libur sekolah usai. Semua masih membicarakannya terlebih teman sekelasnya, mereka baru diam saat bu Susi masuk ke dalam kelas.


"Aku yakin kalian sudah mendengar tentang Yuri, kita memang tidak tahu musibah apa yang akan terjadi. Aku harap kalian tidak terus larut dalam berita duka ini," ujarnya yang lebih fokus pada Imel, Rapka dan Noah.


Semua orang tahu mereka bertiga sangat dekat dengan Yuri sehingga tentunya merekalah yang paling merasa kehilangan.


Srek


Suara kursi bergeser itu membuat semua mata tertuju pada Noah yang bangkit, matanya yang awalnya tertunduk perlahan terangkat untuk menatap semua orang.


"Aku.... aku menyukai Yuri!" seru Noah tiba-tiba.


Kelas menjadi lebih hening seketika, tentu mereka kaget akan pernyataan Noah itu. Tapi Imel justru mulai menitikan air mata yang semakin lama semakin deras, begitu juga dengan Rapka yang akhirnya mengalah pada kesedihannya.

__ADS_1


__ADS_2