
Pulang dalam keadaan basah kuyup Yuri menghabiskan banyak waktu hanya untuk mandi air hangat, ia menatap tampilan basahnya di permukaan cermin yang berembun.
Mata sayu, wajah pucat dan rambut yang panjang. Penampilan yang suram dengan kepribadian dan muram, siapa yang akan menyukai gadis aneh ini? tak akan ada.
Melirik pada gunting yang berada dalam jangkauan Yuri tak bisa membendung kesedihan itu, maka tanpa hati ia mengambil gunting tersebut dan menggunakannya.
......................
Seperti biasa pagi itu nenek tak perlu repot membuat bekal karena Yuri akan membuatnya sendiri, biasanya nenek akan langsung pergi ke kebun setelah ia selesai sarapan.
Namun hari itu sebelum pergi nenek sempat melirik Yuri yang masih menyiapkan bekalnya, ada tatapan khawatir melihat cucu satunya itu.
Karena terlalu lama berkutat di dapur Yuri sampai hampir terlambat pergi ke sekolah, beruntung saat ia sampai pintu gerbang masih terbuka.
Segera memarkirkan sepedanya ia berlari memasuki gedung sekolah dan terus menuju kelasnya, hampir semua murid sudah masuk ke kelas masing-masing.
Saat ia sampai di kelasnya tiba-tiba semua mata tertuju padanya, kali ini Yuri tidak menundukkan kepala. Ia balas menatap semua teman sekelasnya dan tersenyum, ia menyapa Imel yang hanya bengong melihatnya dan tersenyum pada Rapka yang bahkan tak bisa berkedip.
Saat ia duduk di kursinya bahkan Noah yang biasa cuek dan dingin menatapnya cukup lama, Yuri hanya tersenyum membalas tatapan itu.
"Apa kau baik?" tanya Noah pelan.
"Mm, apa... aku keliatan jelek dengan rambut pendek?" tanya Yuri sambil memegang rambutnya.
"Tidak, kau terlihat cantik. Sekarang aku bisa melihat senyum mu tanpa terhalang rambut," sahut Noah yang membuat wajah Yuri memerah.
Ini adalah kali pertama seorang pria memujinya, tentu Yuri tak bisa berkata-kata.
Penampilan baru Yuri dengan rambut pendeknya ternyata membuat heboh satu kelas itu, para murid saling bergosip tentangnya.
Seseorang yang pernah melihat mereka berempat saat menonton berasumsi bahwa mereka tengah melakukan double date, melihat kepribadian dan kedekatan antara keempatnya mereka berasumsi Noah berpacaran dengan Yuri sementara Imel dengan Rapka.
Yang membuat mereka heran adalah kenapa Yuri tiba-tiba merubah penampilannya, saat seseorang gadis memotong rambut selalu di artikan ia sedang mengalami patah hati.
Tapi yang terlihat justru Yuri seakan lebih dekat dengan Noah, saat tugas kelompok yang mengharuskan dua orang Yuri dan Noah segera menjadi kelompok.
Jika di perhatikan mereka memang pasangan yang cocok, sama-sama pendiam dan cuek.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Yuri tak nyaman sebab Noah sadari tadi menatapnya.
"Tidak," sahut Noah melepas pandangannya.
Ia sudah melihat kecantikan Yuri dengan rambut panjangnya, tapi Yuri dengan rambut pendek ternyata lebih cantik dan terlihat segar.
Meski yang ia sayangkan adalah alasan di balik Yuri memotong rambutnya, Noah sudah mengetahuinya dan itu membuatnya sedikit kesal.
"Apa kau membawa bekal hari ini?" tanya Noah tiba-tiba.
"Ya, kenapa?" sahut Yuri.
"Apa kau tidak penasaran dengan makanan di kantin? sekali-kali datanglah ke kantin dan makan di sana," ujarnya.
"Aku tidak pernah memikirkan hal ini, lagi pula aku tidak mengenal siapa pun jadi rasanya pasti tidak nyaman jika harus makan di kantin sendirian."
Tentu Yuri sebenarnya ingin sekali-kali pergi ke kantin, tapi ia tak mau duduk sendirian lagi setelah akhirnya mendapatkan teman.
"Bukankah kau punya aku?" tanya Noah.
Sampai waktu istirahat tiba saat ia makan bersama Imel dalam benaknya terdapat satu nama yaitu Noah, perlahan ia sadar bahwa selama ini Noah begitu perhatian kepadanya.
"Yuri! kau baik-baik saja?" tanya Imel membuyarkan lamunannya.
"Oh maaf, kau bicara apa tadi?" sahut Yuri.
"Kemarin kau tiba-tiba meminta ijin untuk pulang, aku khawatir pada keadaan mu. Lalu sekarang... kau masuk dengan penampilan baru," ujarnya.
"Hehehe ... kenapa kau sangat khawatir? kemarin aku memang merasa tidak enak badan tapi sekarang sudah baik dan... aku hanya ingin berubah menjadi orang yang lebih ceria lagi jadi aku memotong rambut ku," jawabnya dengan tawa kecil.
"Sungguh tidak ada apa-apa?" tanya Imel memastikan sekali lagi.
Tapi pertanyaan itu justru membuat Yuri mengingat pertemuan rahasia yang dilakukan Imel dan Rapka, hatinya yang belum bisa ikhlas membuat senyum sandiwara timbul di wajahnya.
"Baiklah," sahut Imel kembali menyendok makanannya.
"Imel!" panggil Yuri.
__ADS_1
"Mm?" sahut Imel tanpa memalingkan wajah.
"Besok aku tidak bisa membuat bekal, apa tidak apa-apa?" tanyanya ragu.
"Oh.. aku mengerti," sahut Imel.
Meski sebenarnya Imel cukup penasaran apa yang membuat Yuri tak bisa membuat bekal lagi tapi ia tak ingin bertanya, lagi pula ia sudah memutuskan untuk tidak merepotkan Yuri lagi.
Esoknya karena ia tak membuat bekal nenek cukup heran juga, setelah mengetahui alasannya nenek cukup mengerti dan membiarkan Yuri menikmati apa yang belum ia coba.
Mengayuh sepedanya dengan santai kali ini Yuri datang tepat waktu, rutinitas yang berubah ini membuat Rapka cukup bingung sebab ia tak lagi bertemu Yuri pagi hari di parkiran sepeda.
Kemarin pun saat pulang sekolah ia tak bertemu Yuri karena tak ada kegiatan club, sejak kemarin ia tak menemukan momen untuk bicara dengan Yuri berdua sehingga ia memutuskan akan mengajak Yuri mengobrol setelah makan siang.
"Noah kau bawa bekal apa hari ini?" tanya Rapka saat tiba jam istirahat.
"Maaf, hari ini aku tidak bawa bekal," sahut Noah sambil bangkit dari tempat duduknya.
"Eh? kau tidak bawa?" tanya Rapka heran.
"Maaf."
Hanya itu kata yang Noah ucapkan saat ia pergi, tak ada pilihan Rapka pun memakan bekal makannya dengan teman yang lain.
Menemui Yuri yang ternyata sudah menunggu di pintu masuk kantin Noah segera menyuruhnya untuk mengikutinya, Yuri menurut dan mengambil apa pun yang Noah ambil.
Saat makan berdua di kantin Yuri tak bisa meredam detak jantungnya yang kencang, ia tak menyangka hanya makan di kantin rasanya akan menjadi menyenangkan.
Dulu ia tak pernah bisa makan di kantin karena pembullynya selalu menyuruhnya untuk melayani di jam istirahat, karena itu kini bisa makan di kantin menjadi momen yang membahagiakan baginya.
"Kau suka makanannya?" tanya Noah.
"Mm, rasanya cukup enak," sahut Yuri setelah makan beberapa suap.
"Jika kau tidak sempat membuat bekal kita bisa makan di sini," ujar Noah datar seperti biasa.
Yuri mengangguk dan tersenyum, ternyata Noah memang penuh perhatian.
__ADS_1