
Untung itu hanya luka ringan, tapi tetap saja Imel sangat ketakutan sampai tidak mengijinkan Yuri ikut main. Benar-benar kalah bicara terpaksa Yuri menonton dari pinggir lapangan dengan kapas yang masih menyumbat sebelah hidunganya.
Mengingat bagaimana Imel sangat cemas pada keadaannya entah mengapa ia merasa memiliki seorang kakak, kemudian ada Rapka dan Noah yang juga segera memastikan keadaannya di ruang kesehatan begitu mendengar kabar hidungnya berdarah terkena bola.
Yuri merasa masa emas ini di penuhi dengan keberuntungan, dirinya yang selalu suram kini dikelilingi bunga mekar.
Setelah selesai jam olahraga saat ada waktu senggang di kelas mereka bertiga akan berkumpul di meja Yuri hanya untuk mengobrol, meskipun cuka Rapka dan Imel yang saling bersahutan kata.
Mereka akan berpisah saat ada kegiatan club, tapi akan bertemu lagi ketika akan pulang. Yuri dan Imel yang berjalan bersama setelah selesai latihan bertemu Noah dan Rapka di loker, hari itu tumben sekali mereka masih berdiri disana.
"Kalian masih di sini?" tanya Imel.
"Oh ya," sahut Rapka.
"Apa itu?" tanya Imel melihat sesuatu di tangan Rapka.
"Surat cinta," sahut Noah.
"Noah!" seru Rapka kaget begitu juga dengan Yuri yang terbelalak.
"Benarkah? wah... kau mendapat surat cinta dari siapa?" tanya Imel penasaran.
"I-itu... " Rapka tak bisa menjawab karena malu.
Tapi ia menyerahkan surat itu kepada Imel agar dapat melihatnya langsung, tak ada nama si pengirim hanya sebuah permintaan untuk datang ke belakang sekolah di jam istirahat.
Tentu mereka semua penasaran siapa si pengirim surat cinta itu, Imel pun mulai menggoda yang membuat Rapka semakin malu.
Sementara Yuri mencoba menutup ketidak ikhlasan hatinya dengan sebuah senyuman, ia sudah terbiasa hingga mampu bersandiwara dengan baik.
Sayangnya Noah tak bisa di tipu, ia mengenal Yuri lebih dari yang ia bayangkan karena itu Noah sadar akan sakit yang saat ini Yuri rasakan.
Pulang ke rumah Yuri menghabiskan waktu dengan melamun di atas ranjangnya, mulai membayangkan bagaimana sosok gadis yang akan menyatakan cintanya kepada Rapka.
Jika di pikir lagi memang wajar Rapka memiliki banyak gadis yang menyukainya, dibandingkan semua gadis itu dia bukanlah siapa-siapa.
"Aneh, kenapa hatiku terasa sakit? bukankah aku tidak berhak apa pun atas dirinya?" tanyanya pada air mata yang sudah mengalir.
Hati kacaunya membuatnya tidur dengan tidak baik, saat bangun ia masih merasa kacau hingga malas untuk berangkat sekolah.
Tapi ia juga penasaran pada gadis yang akan menyatakan perasaannya pada Rapka, pagi itu seperti biasa mereka bertemu di parkiran sepeda.
Yuri yang tak tahu harus bicara apa hanya menundukkan kepala sambil membisu, sementara Rapka bertingkah seolah tak akan terjadi apa-apa.
"Hei Yuri, menurutmu... jika aku menyatakan cinta pada seorang gadis apa dia akan menerimanya?" tanya Rapka tiba-tiba.
__ADS_1
"K-kenapa kau bertanya seperti itu? kau tidak perlu menyatakan cinta bukan?" sahut Yuri bingung sekaligus kaget menerima pertanyaan itu.
"Mm, aku hanya bicara omong kosong. Lupakan saja!" perintah Rapka.
Ia pun berjalan mendahului Yuri dan segera masuk kelas, membuat Yuri bingung sendiri hingga waktu istirahat tiba. Rapka yang sudah memiliki janji segera pergi seorang diri sementara Noah ikut makan bersama Imel dan Yuri di taman.
"Menurut kalian Rapka akan menerimanya tidak?" tanya Imel di sela makan siang.
"Jika dia menyukai gadis itu pasti di terima," sahut Noah.
"Bagaimana menurut mu?" tanya Imel pada Yuri.
"E-entahlah... " sahut Yuri gugup.
Ia tak bisa menebak apa pun bahkan tak ingin peduli, mereka hanya teman dan tidak seharusnya ia ikut campur dalam urusan pribadi Rapka meski sebenarnya ia ingin Rapka menolak gadis itu.
"Sudah ku duga kalian di sini," ujar Rapka datang menghampiri.
"Kau sudah selesai?" tanya Imel kaget sebab rasanya Rapka baru pergi.
"Yah... tidak banyak yang kami bicarakan," sahutnya.
"Siapa gadis itu? apa kau menerimanya?" tanya Imel yang tak bisa menahan rasa penasaran.
Sejenak mereka terdiam, sedikit tidak percaya Rapka menolak seorang gadis.
"Apa dia jelek?" celetuk Noah membuat mereka tertawa.
"Tentu saja tidak! dia cukup manis," sahut Rapka tak terima akan pertanyaan itu.
"Lalu kenapa kau menolaknya?" tanya Imel.
"Itu.... aku menyukai seseorang," sahut Rapka dengan wajah memerah.
"Sungguh? siapa?" tanya Imel lebih heboh.
Sementara Yuri menatap penasaran, hanya Noah yang nampak tak acuh.
"Rahasia!" seru Rapka dengan senyum penuh.
"Aaah... apa aku mengenalnya?" tanya Imel yang tetap penasaran.
"Kau sangat mengenalnya," sahut Rapka membuat jantung Yuri berdegup sangat kencang.
"Sungguh?" tanya Imel lagi.
__ADS_1
"Dia gadis yang sangat baik, penuh perhatian dan senyumnya juga manis."
Penjelasan Rapka tentu bisa mengarah pada siapa saja, membuat Yuri semakin penasaran siapakah gadis yang sudah mengisi hati Rapka.
Ia benar-benar di buat tak bisa menyingkirkan pikiran itu hingga terus menatap Rapka, melihat bagaimana Rapka memperlakukan setiap gadis.
"Hei bagaimana kalau akhir pekan kita pergi mendaki gunung?" tanya Imel di sela jam kosong.
"Aku tidak bisa," sahut Noah.
"Yah... padahal aku sudah berfikir itu akan seru," ujar Imel kecewa.
"Bagaimana kalau kita nonton? ada film yang ingin aku tonton," tanya Rapka.
"Hmm, boleh juga," sahut Imel yang mudah berubah pikiran.
Kali ini Noah setuju sementara Yuri ikut kemana pun mereka akan pergi, saat akhir pekan tiba dengan naik bus Yuri lebih dulu sampai di tempat mereka janjian.
"Yuri..... " panggil seseorang.
Yuri menengok tepat saat angin berhembus, membuat helaian rambutnya menghalangi wajah. Dengan satu tangan ia menyelipkan rambutnya ke belakang telinga, membuat dua pria terpaku seakan terhipnotis akan kecantikan Yuri yang baru terlihat.
"Kalian sudah sampai," sapa Yuri berjalan menghampiri Noah dan Rapka.
"O-oh ya," sahut Rapka.
"Kenapa wajah kalian merah?" tanya Yuri membuat kedua pria itu salah tingkah hingga membuang muka.
"T-tidak apa-apa," sahut Noah mencoba bersikap dingin seperti biasa.
"Heii.... " seru Imel dari kejauhan sambil melambaikan tangan.
Yuri membalas lambaian tanga itu sampai Imel sampai di hadapan mereka.
"Apa aku terlambat?" tanya Imel.
"Tidak, kami juga baru datang," sahut Yuri.
"Baiklah ayo pergi!" ajak Imel.
Menggandeng tangan Yuri Imel pun berjalan lebih dulu sementara Rapka dan Noah mengikuti dari belakang.
"Entah mengapa Yuri kelihatan berbeda hari ini," ujar Rapka pelan sambil memperhatikan.
Noah mengangguk setuju, padahal ini bukan kali pertama mereka melihat Yuri pakai pakaian bebas. Mungkin karena ini kali pertama mereka melihat Yuri mengenakan stelan dress yang mengeluarkan sisi femininnya, sehingga Yuri pun keliatan cantik hingga membuat mereka tak bisa berhenti menatapnya.
__ADS_1