Si Pengecut Yuria

Si Pengecut Yuria
Bab 6 Sepeda


__ADS_3

Ini adalah hari pertama ia mengikuti kegiatan club, karenanya ia meminta nenek untuk membuat bekal. Selesai pelajaran Imel yang begitu antusias segera menarik tangannya untuk mengganti seragam dengan baju olahraga, baru mereka bersama masuk ke lapangan untuk melakukan peregangan dan latihan.


Satu hari itu Yuri hanya membantu mengambil bola sambil memperhatikan mereka latihan, ini karena Yuri benar-benar tidak tahu cara bermain voli.


Sesuai tebakannya mengikuti kegiatan olahraga itu sangat melelahkan, ia hanya bertugas mengambil bola seharian tapi rasanya seperti ia yang akan ikut bertanding.


Kakinya yang jarang di pakai untuk berlari kini terasa terus berdenyut saat ia berjalan pulang, sialnya karena ia terlalu lama berjalan meninggalkan sekolah ia menjadi ketinggalan bis terakhir sehingga terpaksa pulang dengan jalan kaki.


"Melelahkan..." keluhnya sambil menatap kakinya yang terasa berjalan semakin lambat.


"Awaaaaasaaa..... " teriak seseorang.


Yuri menengok ke samping dan sayangnya ia tak sempat menghindar.


Buk


Ah...


Bruk


Sebuah bola melayang ke arahnya dan tepat mengenai bagian bahunya, tentu saja Yuri yang sudah kehabisan energi terhuyung jatuh.


"Kau baik-baik saja?" tanya si penendang bola.


"Arghh... ya," erangnya sambil bangkit dan duduk.


"Sungguh? bagaimana bahu mu? apa terasa sakit?" tanyanya lagi.


Yuri menengok dan seketika kata yang hendak ia keluarkan masuk kembali ke kerongkongan, wajah Rapka yang cemas dengan perasaan bersalah terlalu dekat hingga membuat Yuri gugup.


Membuang muka Yuri menjawab "Mm, tidak apa-apa."


"Maafkan aku, aku menendang bolanya terlalu keras dan terpental. Apa sungguh tidak sakit?" tanya Rapka lagi sebab jelas ia mendengar suara benturan yang keras.


Yuri hanya menggeleng, ia pun bangkit berdiri. Sementara Rapka semakin merasa bersalah karena Yuri tidak marah atau bicara, kebingungan Rapka mencoba memutar otak agar tidak canggung.


"K-kalau begitu aku permisi," ujar Yuri yang tak berani mengangkat wajah.


"Oh, ya.. " sahut Rapka membiarkan Yuri pergi.


Jarak tempuh dari sekolah ke rumah yang biasa butuh waktu sepuluh menit dengan naik bus rupanya dengan berjalan kaki Yuri menghabiskan waktu dua puluh menit, sampai di rumah ia segera mandi air hangat dan cepat tertidur dengan pulas.

__ADS_1


Padahal biasanya ia harus membaca beberapa buku baru terlelap, saat bangun dari tidur pun ia merasakan seluruh tubuhnya seperti di tusuk jarum.


"Aku pergi..." ujar Yuri bersiap untuk berangkat sekolah.


Saat sampai di sekolah ia segera duduk dan mengeluarkan buku yang sempat ia pinjam dari perpustakaan namun tak sempat ia baca karena mengikuti club.


Tuk


Sekaleng susu ditaruh Rapka tepat di meja Yuri, tentu saja itu membuat Yuri kaget.


"Ini untuk permintaan maaf ku, apa bahu mu benar-benar tidak apa-apa?" tanya Rapka masih dengaan perasaan bersalah.


"Oh, mm" sahut Yuri menganggukkan kepalanya setelah bengong beberapa saat.


"Syukurlah, kemarin aku melihat mu berjalan Sempoyongan jadi ku pikir bahu mu pasti sakit."


Degh


Ini adalah kali pertama ada seorang anak laki-laki yang memperhatikannya, tentu itu membuat Yuri gugup dan malu hingga tak hanya wajahnya yang memerah tapi juga telinganya.


Beruntung bel segera berbunyi sehingga Yuri tidak perlu menghadapi Rapka lagi, andai Rapka tetap berdiri di hadapannya dan terus bertanya bisa-bisa ia akan pingsan karena gugup.


Selesai pelajaran seperti biasa Yuri mengikuti kegiatan club, kali ini dia diajari cara menangkap bola dan melemparnya. Teknik dasar dalam permainan voli yang harus ia kuasai meski sebagai pemain cadangan, dengan banyak bergerak setelah kegiatan selesai ia mendatapi kakinya lecet-lecet.


Berpisah dengan Imel kali ini Yuri ketinggalan bus lagi, dengan terpaksa ia harus jalan kaki. Namun baru beberapa langkah meninggalkan sekolah seluruh kakinya terasa berdenyut dan perih meski sudah di beri pelster.


"Ah.. sungguh merepotkan," gerutunya sambil melepas kedua sepatunya.


Mencoba berjalan dengan bertelanjang kaki ternyata rasanya lebih nyaman, Yuri pun kembali melanjutkan perjalanan.


Saat ia melewati lapangan rupanya Rapka melihatnya.


"Yuri.... " seru Rapka memanggil.


Sontak Yuri kaget dan menengok, melihat Rapka berlari ke arahnya seketika jantungnya berdegup dengan kencang.


"Kau baru pulang latihan ya? aku dengar kau masuk club voli," ujar Rapka.


"Mm, iya.. " sahut Yuri pelan.


Rapka tersenyum ramah, melihatnya membuat Yuri teringat pada Imel.

__ADS_1


"Oh, kenapa dengan kaki mu?" tanya Rapka melihat kaki Yuri yang telanjang dan di penuhi plester.


"T-tidak apa-apa, hanya sedikit lecet," sahutnya malu.


"Kau pasti memaksakan diri, dulu saat aku pertama masuk club futsal saking semangatnya aku terus bermain tanpa memikirkan kesehatan. Akhirnya kaki ku juga lecet-lecet," ujarnya.


Tentu itu berbeda, Yuri mengalami lecet karena ia memang jarang berolahraga.


"Apa rumah mu jauh?" tanya Rapka.


"Itu... lumayan," sahutnya kaget mendapat pertanyaan itu.


"Kau tidak boleh jalan kaki dengan keadaan seperti ini, itu tidak baik untuk kaki mu. Bagaimana kalau ku antar pulang?" tawar Rapka.


"T-tidak usah," sahut Yuri cepat.


"Tidak apa-apa, aku bisa mengantar mu dengan sepeda ku," ujar Rapka sambil menunjuk sepedanya yang terparkir di sudut lapangan.


Entah mengapa Yuri segera membayangkan dirinya yang duduk di belakang sepeda sementara Rapka menyetir, itu membuatnya mengingat adegan romantis di komik klasik.


Blush


Gugup sekaligus malu Yuri mematung.


"Ayo!" ajak Rapka.


"T-tidak! aku bisa pulang sendiri!" teriak Yuri sambil segera berlari pergi.


Ia terlalu malu akibat bayangannya sendiri sementara Rapka yang tak mengerti mengapa Yuri tiba-tiba kabur hanya bisa bengong.


Hhhhhhh Hhhhhh Hhhhhhhh


"Aku.... pulang... " ujar Yuri sambil menggeser pintu.


Tanpa ia sadari ia lari sejak tadi hingga sampai ke rumah, tentu saja nafasnya habis dan kakinya membengkak.


Melihat itu nenek segera memberinya salep setelah mandi.


"Yuri bagaimana jika nenek belikan sepeda, kau setiap hari ketinggalan bus pasti melelahkan," ujar nenek yang tak tega.


"T-tidak! aku tidak perlu sepeda," ujar Yuri kembali gugup saat mendengar kata itu.

__ADS_1


Setiap kali melihat atau mendengar kata sepeda seketika yang ada dalam benaknya adalah bayangan dimana ia duduk di bonceng oleh Rapka, itu benar-benar membuatnya malu sendiri hingga kesal.


Memilih untuk tidur dengan cepat sayangnya ia malah bermimpi tengah di bonceng Rapka dengan sepeda, menyusuri taman bunga seperti gambar dalam komik yang sering ia baca.


__ADS_2