Si Pengecut Yuria

Si Pengecut Yuria
Bab 28 Senja Yang Bersejarah


__ADS_3

Ramalan cuaca mengatakan esok akan menjadi hari cerah dengan sinar matahari yang hangat, Yuri sudah memiliki rencana akan pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli komik baru.


Karena itu ketika ia mengetahui esok hari akan cerah ia berniat untuk memakai flatshoes berwarna merah tua yang ia beli belum lama ini.


Mengenakan jeans hitam dan T-shirt berwarna senada dengan sepatunya, Yuri melengkapi penampilan akhir pekannya dengan tas selendang ****** yang menggantung di bahu kirinya.


Di hari yang makin terik ia asik melihat-lihat semua buku, membulak-balikan sampul sampai pilihannya jatuh pada sebuah komik bergenre horor misteri.


"Tolong di bungkus," pinta Yuri kepada kasir.


Pria setengah baya itu segera mengeluarkan paperbag untuk membungkus komik yang Yuri beli.


"Hai Yuri!" sapa seseorang tiba-tiba.


Spontan Yuri menoleh dan melihat Rapka yang berdiri tepat di pintu masuk, sejenak ia tertegun sebab tak mengira mereka akan bertemu di sana.


"Kau membeli buku juga ya?" tanya Rapka melihat kasir yang memberikan paperbag berisi komik Yuri.


"Ah ya, apa... kau juga mau membeli sesuatu?" balasnya.


"Mm, kau mau menemani ku?" tanya Rapka sambil mengangguk.


Tentu Yuri mau melakukannya karena ia adalah manusia yang tak bisa menolak, terlebih ia sebenarnya ia senang saat bisa bersama Rapka.


Setelah membayar komiknya Yuri berjalan tepat di samping Rapka, mengikuti kemana ia pergi sambil mendengarkan cerita Rapka sama seperti apa yang ia lakukan saat bersama Imel.


"Tadinya aku mau pergi bersama Noah, tapi dia ada acara bersama keluarganya," ujar Rapka bercerita.


Sempat ia pikir Noah berbohong seperti saat meminjam sepeda, ia kira Noah hanya beralasan dan sebenarnya ada janji dengan Yuri berdua saja.


Tapi saat melihat Yuri di sini kini ia malu telah berburuk sangka pada Noah.


"Bagaimana kalau selesai ini kita pergi membeli eskrim? cuacanya sangat mendukung bukan?" tawar Rapka.


"Baik," sahut Yuri dengan senang hati.


Rapka tersenyum senang, segera ia pun pergi ke kasir setelah menemukan buku yang tepat. Bersama kemudian mereka pergi ke kafe terdekat, menikmati semangkuk eskrim yang dingin menyegarkan juga manis.


Rapka banyak membuat candaan yang memancing tawa Yuri, hingga larut mereka dalam masa yang seakan milik sendiri.


Ini adalah kali pertama Rapka menemukan sisi lain dari diri Yuri yang jarang ia lihat, sisi yang mungkin saja selama ini hanya Noah yang mengetahuinya.

__ADS_1


Saat Yuri tertawa garis senyumnya terlihat jelas yang membuatnya terlihat manis, binar matanya begitu jernih bagai sungai Nil.


"Apa ada sesuatu di wajahku?" tanya Yuri yang sadar akan tatapan Rapka padanya sejak tadi.


"Ah, o... ya.. " sahut Rapka tersadar dari lamunannya.


"Apa? ada apa?" tanya Yuri mulai menyusap bagian wajahnya dengan kebingungan.


Rapka tersenyum kecil, merasa geli sendiri sebab sebenarnya tak ada apa pun di wajah Yuri selain manis.


"Apa sudah hilang?" tanya Yuri.


"Oh.. belum, biar aku ambilkan," ujar Rapka berpura-pura untuk menjahili Yuri.


Ia mengulurkan tangan mengusap pipi Yuri, merasakan kelembutan kulit Yuri membuat Rapka cukup terkesima sejenak. Tapi kemudian ia segera mencubitnya.


"Aw! Rapka!" seru Yuri kaget sekaligus kesakitan.


"Hahahahaha hanya ada lemak di pipi mu!" ujar Rapka tertawa senang.


"Apa? dasar!" gerutu Yuri.


Yuri yang semakin kesal kemudian hanya cemberut, diam seribu bahasa sampai Rapka meminta maaf.


Karena Rapka pandai bicara dan bercanda dengan mudah Yuri memaafkannya, mereka kembali asik bersantai dengan mengobrolkan komik yang tengah ramai di perbincangkan.


Kenyang dengan semangkuk eskrim mereka kemudian memilih untuk pergi ke taman, menikmati sejuknya angin di hari yang menjelang senja.


Duduk saling berdampingan entah mengapa kini Yuri tak gugup lagi, padahal dulu saat Rapka memandangnya saja jantungnya seakan hendak meledak saking cepatnya berdegup.


Jika di pikir lagi ia merasa sedang hidup di dunia mimpi, dunia dimana ia bisa tertawa seperti orang kebanyakan. Ia juga bisa bicara dengan lantang dengan lawan jenis bahkan kini berteman dengan orang-orang yang memiliki sifat ceria.


Perasaan bahagia yang baru ia rasakan ini membuatnya tersenyum kecil, mengaitkan rambutnya di belakang telinga Yuri menunduk untuk menahan tawa yang juga hendak keluar.


"Cantik sekali," ujar Rapka tiba-tiba.


"Kau bilang sesuatu?" tanya Yuri yang jelas mendengar ucapan itu.


"Gelang mu cantik, apa Noah yang memberikannya?" tanya Rapka sembari tersenyum.


"Oh.. ini aku beli sendiri dari teman Nenek," sahut Yuri memandang gelang di tangannya.

__ADS_1


"Begitu ya, boleh aku lihat?" tanya Rapka.


Yuri mengangguk, ia mencoba melepaskan ikatan rantai gelangnya namun ternyata cukup sulit.


"Biar aku.. " tawar Rapka.


"Oh, maaf.. tolong.. " ujar Yuri segera mengulurkan tangannya.


"Wow kulit mu putih sekali!" seru Rapka yang malah terfokus pada warna kulit Yuri yang cukup jauh dengannya.


Tak jadi membantu melepaskan gelangnya Rapka malah menyandingkan tangannya di samping tangan Yuri, saat kulit mereka bersentuhan entah mengapa sengatan itu Yuri rasakan kembali.


Mengejutkan jantungnya yang aman, membuatnya berdebar kencang kemudian.


"Kau juga memiliki jari yang bagus," komentar Rapka mulai menyentuh setiap jari Yuri.


Yuri hanya memperhatikan bagaimana tangan Rapka kemudian merentangkan tangannya, mengaitkannya pada setiap sela jarinya hingga mereka saling menggenggam.


Genggaman Rapka tidak cukup kuat tapi ia bisa merasakan sebuah tekanan, membuatnya kemudian menatap Rapka yang ternyata sudah sejak tadi menatapnya dengan sebuah senyuman.


Kali pertama mereka bersentuhan, Yuri tak hanya merasa senang tapi lebih dari itu hingga ia tak tahu harus bagaimana mengekspresikannya.


Membalas senyum Rapka ia membalas tekanan pada genggaman tangannya, tanpa kata mereka melepas pandangan satu sama lain untuk menikmati senja yang romantis.


......................


"Kau mau kemana?" tanya Nenek sebab setelah makan malam Yuri segera pergi.


"Aku mau membaca buku yang tadi siang aku beli," sahutnya.


"Oh... jangan sampai terlalu larut, besok kau harus sekolah kan," ujar Nenek mengingatkan.


"Baik," sahut Yuri.


Ia pun masuk ke kamar dan menutup pintu, mengambil komik yang masih terbungkus plastik di dalam paperbag.


Dengan bantuan gunting ia melepaskan bungkus plastiknya, merebahkan tubuh di atas ranjang Yuri mulai membuka halaman pertama.


Tapi yang ia lihat malah jari-jari tangannya, perlahan ia gerakan jari-jari itu untuk mengetahui bagaimana rasanya sebab ada sebuah sensasi aneh yang sejak tadi menggelitik.


Sedetik kemudian benaknya pun segera terbang pada senja yang telah lalu, senja yang tak mungkin ia lupakan. Di senja itu tercipta sebuah kenangan yang akan menjadi sejarah dalam lembar hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2