Si Pengecut Yuria

Si Pengecut Yuria
Bab 7 Bekal


__ADS_3

Sejak hari itu sebisa mungkin Yuri melupakan tentang sepeda sampai ia juga menjaga jarak dengan Rapka, saat ia masuk ke dalam kelas dan melewati Rapka yang tengah mengobrol dengan Noah dengan cepat Yuri berjalan sambil menunduk.


Rapka yang berniat menyapa tentu saja kehilangan senyumnya saat Yuri berjalan melewatinya begitu saja, saat jam istirahat pun saat ia mencoba mendekati Yuri dengan cepat Yuri pergi.


Agar tidak bertemu Rapka lagi Yuri sampai tidak mengganti baju olahraganya dan cepat pulang agar tidak ketingalan bus, begitu ia berhasil masuk ke dalam bus ia pun mengambil duduk di dekat jendela.


Saat bus melaju melewati lapangan di pinggir jalan selintas ia bisa melihat Rapka tengah asik bermain bola sendirian, menghembuskan nafas lelah ia menyesal mengapa tidak memiliki keberanian.


Ingin rasanya ia mengambil sedikit keberanian dari Imel agar bisa bicara dengan Rapka layaknya teman sekelas, seperti teman-temannya yang lain tidak pernah canggung saat bicara dengan teman laki-lakinya.


Tak ada gunanya memikirkan semua itu, saat ini yang perlu ia fokuskan adalah terus belajar voli agar Imel tetap mau berteman dengannya.


Tiba di akhir pekan Yuri senang sebab hari itu ia bisa bermalas-malasan di kamarnya, paling nenek hanya meminta bantuan untuk memetik sayuran di belakang rumahnya.


"Yuri... ada paket untuk mu!" teriak nenek dari luar.


Yuri yang sedang asik membaca komik terpaksa menyimpan dulu bukunya dan keluar, nenek yang baru masuk rumah segera menyerahkan sebuah kotak yang dibungkus plastik hitam.


Penasaran Yuri segera membukanya dan melihat rupanya itu sepatu voli yang baru, ia memang sudah meminta ibunya membelikan sepatu yang baru.


Harusnya akhir pekan itu kedua orang tuanya menengok, apalagi itu adalah akhir pekan pertama Yuri di desa. Tapi karena mereka harus lembur jadi sebagai gantinya mereka mengirimkan sepatunya saja dan sejumlah uang yang sudah di tranfer, tentu saja Yuri juga mendapat pesan singkat di ponselnya dari ibunya yang meminta maaf.


Tak keberatan sama sekali justru Yuri senang orangtuanya tidak berkunjung, ia takut jika mereka datang ia akan mendapat banyak pertanyaan yang menyulitkan.


Kembali lagi ke kamar untuk menyelesaikan bukunya Yuri benar-benar larut dalam hobinya sampai lupa akan waktu, ketika sadar hari sudah gelap saat nenek memanggilnya untuk makan malam.


Mendengus ia kesal mengapa akhir pekan selalu berlalu dengan cepat, besok ia harus sudah masuk sekolah lagi dan mau tak mau bertemu Rapka yang membuat jantungnya tak aman.


Namun beruntung kali ini Rapka tidak mencoba mendekatinya atau menyapa, ia pun bisa mengangkat wajah tanpa harus grogi karena pandangan Rapka.


"Baiklah untuk tugas ini bapak akan membagi kalian menjadi kelompok, satu kelompok terdiri dari dua orang. Kelompok pertama... " ujar pak guru mulai mengumumkan.


"Terakhir Yuria dan Noah, minggu besok kalian harus mengumpulkan tugasnya. Jika ada yang terlambat akan bapak kurangi nilainya," ucap Pak guru sebelum keluar kelas.


Yuri menatap Noah yang duduk disampingnya, selama ini Noah begitu pendiam dan acuh. Membuatnya lepas dari penglihatan Yuri, melihat sifatnya Yuri merasa beruntung karena ia mendapat satu teman kelompok yang tidak akan membuatnya lelah.

__ADS_1


"Aku ada kegiatan club setelah pulang sekolah, bagaimana jika kerjakan tugasnya hari Rabu nanti di rumah ku?" tanya Noah yang membuat Yuri sedikit kaget.


"Oh, ya... baiklah," sahutnya.


Bel istirahat berbunyi, Yuri yang mendapatkan tempat enak untuk istirahat sudah akan pergi sambil membawa bekalnya namun Imel menghampiri.


"Yuri mau makan bersama ku?" tanyanya.


Tentu Yuri kaget mendengar tawaran itu.


"Hari ini aku membawa bekal jadi tidak pergi ke kantin, bagaimana kalau kita makan di taman?" tanyanya lagi.


"Oh, baiklah," sahut Yuri yang tidak mungkin menolak ajakan itu.


Imel tersenyum riang dan segera membawa bekalnya, mereka pun pergi bersama ke taman.


"Wah... keliatannya enak!" seru Imel melihat isi bekal Yuri yang penuh warna dan lengkap.


"Um... kau mau mencobanya?" tawar Yuri sambil menyodorkan kotak bekalnya.


"Bolehkah?" tanya Imel tak bisa menahan air liurnya.


"Kalau begitu selamat makan... am...mmm wah... enak!" serunya kaget merasakan kenikmatan di lidahnya.


"Apa ibumu yang memasaknya?" tanya Imel menduga ibu Yuri seorang koki.


"Bukan, aku membuatnya sendiri."


Hidup dengan kedua orangtua yang bekerja tentu saja Yuri harus mandiri, biasanya sarapan dan makan malam memang ibunya yang masak tapi untuk bekal Yuri akan menyiapkannya sendiri.


Itu karena untuk sarapan mereka biasanya makan roti, jadi terpaksa Yuri masak sendiri untuk bekal sebab pagi hari ibunya tidak memiliki waktu banyak.


"Sungguh? aku tidak menyangka kau pandai memasak," ujar Imel sarat akan pujian.


Wajah Yuri segera memerah, ia tak bisa berkata apa-apa lagi sehingga hanya bisa diam.

__ADS_1


"Kau harus mengajari ibuku masak, entah mengapa masakan ibuku selalu keasinan sampai aku akhirnya mudah emosi karena darah tinggi!" keluh Imel dengan nada bercanda.


"Um... kau mau ku buatkan bekal untuk besok?" tawar Yuri.


"Apa? kau mau membuatkannya untuk ku?" tanya Imel.


Yuri mengangguk sambil tersenyum, tentu saja untuk teman pertamanya itu ia akan melakukan apa pun untuk menyenangkannya.


"Terimakasih Yuri... kau sangat baik sekali," seru Imel sambil memeluk Yuri yang membuatnya kaget.


Esoknya pagi sekali Yuri sudah bangun, ia menyiapkan dua bekal makanan satu untuknya dan satu lagi tentu untuk Imel.


Hari ini ia berencana membuat bekal spesial jadi ia menggunakan sayuran segar yang ia petik sendiri di kebun belakang, ia juga menggunakan olahan daging untuk melengkapi protein dalam bekalnya tersebut.


Setelah selesai Yuri tak lupa berdoa sebab ia berharap Imel akan suka bekal yang ia buat, ini adalah momen penting dimana pertemanan mereka masuk ke tahap yang lebih dekat menjadi karib.


Di sekolah saat tiba jam istirahat Imel yang sudah tak sabar ingin melihat bekal buatan Yuri segera mengajaknya ke taman, Yuri pun yang tak sabar juga melihat ekspresi senang Imel ikut berlari hingga mereka sampai.


"Aku membuat menu yang sama," ujar Yuri sambil menyerahkan satu bekal kepada Imel.


"Terimakasih," sahut Imel menerima bekal itu dengan senang hati.


"Aku tidak tahu seleramu jadi aku buat dengan rasa yang mirip sepet bekal kemarin," ujarnya.


Pagi tadi Yuri memang sempat galau sebab ia tak tahu selera Imel, ia bingung harus buat bekal seperti apa sampai akhirnya ia memutuskan untuk membuat cita rasa yang sama dengan bekalnya yang kemarin mengingat Imel menyukai bekalnya itu.


"Sebenarnya aku suka pedas, tapi jika menyangkut bekal olahan apa pun aku suka," sahut Imel.


Ia pun membuka kotak bekalnya dan nampaklah pemandangan indah yang terbuat dari berbagai makanan, Yuri membentuk nasinya menjadi segitiga bak gunung. Di bagian atasnya ia menaruh telur rebus yang sudah di belas sebagai presentasi matahari senja.


Tak lupa ada tumisan yang nampak seperti semak-semak rimbun dan daging olahan yang mirip sawah dalam kondisi di bajak, sungguh bekal itu telah membuat Imel terpesona.


"Ah...ini terlalu cantik sampai aku tak tega untuk memakannya," ujar Imel yang membuat Yuri sedikit bersedih.


"Tapi tentu aku juga tidak sabar ingin mencobanya, baiklah! selamat makan!" seru Imel segera menyendok makanan itu dan melahapnya.

__ADS_1


"Um, ini lebih enak dari yang kemarin!" ujarnya setelah menelan makanan itu.


"Syukurlah... " gumam Yuri lega melihat ekspresi Imel yang bahagia.


__ADS_2