Si Pengecut Yuria

Si Pengecut Yuria
Bab 33 Malam Tahun Baru


__ADS_3

Ada kerinduan yang telah menyiksa saat hari-hari ia lewati sendiri, sibuknya kerja part-time di kafe ternyata tidak mengalihkan benaknya pada satu gadis.


Malam tahun baru tinggal menghitung hari, selepas bekerja entah mengapa kakinya mengayuh sepeda dengan cepat menuruni jalan terjal hingga sampai di kediaman nenek.


Terlanjur bertatap mata dengan nenek yang baru pulang dari kebun Rapka segera turun dan menyapa.


"Selamat sore!"


"Oh Rapka, sore. Apa kau mencari Yuri?" tanya Nenek.


"Eh itu.. " Rapka segera canggung karena pertanyaan itu, wajahnya yang memerah membuat nenek tersenyum.


"Dia belum pulang, sebenarnya nenek juga sangat khawatir pada keadaanya. Rumah itu memiliki banyak kenangan buruk alih-alih indah, setiap pergi ke sana Yuri selalu dihantui perasaan bersalah dan putus asa."


"Maksud nenek Yuri pergi ke... " pertanyaan Rapka tak berlanjut tapi Nenek mengangguk seakan mereka bisa membaca pikiran satu sama lain.


Kini Rapka tahu alasan ekspresi sedih yang Yuri tunjukkan terakhir kali saat mereka bertemu, pantas Yuri enggan memberitahu kemana ia pergi untuk mengisi liburannya.


"Dia bilang hanya ingin menjenguk makam orangtuanya, tapi sampai sekarang belum pulang. Nenek sudah menelpon dan dia bilang akan pulang sebelum malam tahun baru, semoga itu benar," ujar Nenek.


"Kami memiliki janji untuk merayakan malam tahun baru bersama," ucap Rapka memberitahu.


"Sungguh? ah itu bagus! kalau begitu telepon Yuri dan ingatkan dia untuk tidak terlambat. Mungkin dengan telpon mu perasaan Yuri akan lebih baik," pinta Nenek.


"Baiklah, kalau begitu aku permisi dulu," ucap Rapka berpamitan.


Kembali mengayuh sepeda untuk pulang setibanya di rumah Rapka mencoba menghubungi Yuri namun sayang tak ada jawaban, berkali-kali ia mencoba namun hasilnya tetap sama.


Bahkan dari sekian banyaknya pesan yang ia kirimkan tak ada satu pun yang di balas, itu membuat Rapka khawatir.


Mencoba berfikir positif ia beraktivitas seperti biasanya sampai hari dimana malam tahun baru tiba, sore hari ia datang ke rumah Noah untuk mengajaknya pergi bersama.


Berjalan di sepanjang trotoar tak ada yang mereka obrolkan sampai Rapka membulatkan tekadnya.


"Ada apa?" tanya Noah sebab Rapka tiba-tiba berhenti.


"Aku... sudah memutuskannya," ujarnya.


"Apa?" tanya Noah dengan nada dingin seperti biasa.


"Aku akan mengatakan perasaan ku kepada Yuri malam ini," ujarnya tegas.


Noah tampak terkejut mendengar hal itu, tapi kemudian ia tersenyum dan bertanya "Kau butuh bantuanku?."

__ADS_1


Beruntungnya Rapka memiliki seorang teman yang sangat peka, ia mengangguk dan berterimakasih padahal Noah belum melakukan apa pun.


Tiba di alun-alun kota beberapa menit kemudian Imel datang, ia tersenyum riang seperti biasa dan banyak mengoceh tentang liburannya.


"Apa kalian sudah dapat kabar dari Yuri?" tanyanya sebab hari sudah mulai gelap namun Yuri belum keliatan juga batang hidungnya.


Mereka menggeleng, apalagi saat Rapka memberitahu kalau semua telpon dan pesannya tak dijawab.


"Mungkin sebentar lagi dia akan datang, kita tunggu saja disana," ujar Noah sambil menunjuk sebuah kursi.


Detik demi detik berlalu, orang-orang mulai berdatangan dan memadati area alun-alun dimana kembang api akan di luncurkan nanti malam.


Kegelisahan mulai merajam hati mereka, takut Yuri melupakan janji yang justru ia buat sendiri.


"Hei.... " sebuah suara yang familiar membuat mereka menatap ke segala arah untuk mencari sumbernya.


"Disana!" seru Imel sambil menunjuk.


Ditengah keramaian Yuri berlari dengan wajah penuh senyum, tangannya sekali lagi melambai kepada mereka untuk menunjukkan bahwa itu benar dirinya.


"Ah kenapa kau lama sekali?" hardik Imel begitu Yuri sampai.


"Maaf.... " sahut Yuri sambil mengatur nafasnya uang seakan habis.


Ia tak bisa membohongi hatinya yang begitu lega melihat Yuri, Noah pun nampak menyunggingkan senyum menatap Yuri yang masih mengatur nafasnya.


"Aku terjebak macet tadi, uh orang-orang benar-benar punya rencana malam tahun baru," tukasnya sambil mengipas-ngipasi leher.


"Sebaiknya kita cari minum," ujar Noah yang sadar bahwa Yuri kehausan.


"Kau benar, ayo kita pergi!" ajak Imel dengan riangnya.


Mereka mulai berjalan sambil mengobrol, menikmati kemeriahan malam dengan suka cita. Bercanda dan saling menggoda hingga disepanjang waktu itu tawa tak pernah berhenti.


Tanpa terasa detik-detik menuju pergantian tahun akan segera di mulai, Rapka memberi isyarat bahwa ia butuh kesempatan kepada Noah.


"Imel ayo temani aku beli manisan," ajak Noah.


"Oh baiklah," sahut Imel tanpa merasa curiga.


"Apa kalian juga mau? biar hanya kami yang pergi," tawar Noah untuk basa basi.


"Aku tidak usah, bagaimana dengan mu?" tanya Rapka kepada Yuri.

__ADS_1


"Sepertinya aku juga tidak," sahut Yuri.


Maka Noah pun mengangguk dan mengajak Imel segera pergi, mereka berjalan meninggalkan Yuri dan Rapka yang kembali menikmati indahnya malam itu.


"Oh Noah, ini ada manisan buah!" seru Imel saat mereka melewati satu kedai.


"Aku tidak mau yang itu," jawab Noah sambil terus berjalan.


Imel sedikit bingung tapi kemudian ia mengikuti langkah Noah tepat di belakangnya, setiap ada manisan Imel akan berseru untuk memberitahu tapi Noah selalu menggeleng dan terus saja berjalan.


Sampai Imel yang keheranan akhirnya menarik tangan Noah untuk berhenti berjalan.


"Kau ini sebenarnya ingin apa?" tanyanya jengkel.


"Um... setelah ku pikir mungkin aku ingin makanan berat," jawabnya.


"Jangan bercanda! apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?" hardik Imel sebab ia tak melihat kesungguhan dalam kata Noah.


Sejenak Noah menatap gadis itu, percuma terus berbohong. Akhirnya Noah mengatakan yang sebenarnya, ia hanya memberi sedikit waktu untuk Rapka agar bisa menyatakan perasaannya tanpa terganggu.


"Lalu bagaimana dengan mu?" tanya Imel yang membuat Noah tersentak kaget.


"Kau juga menyukai Yuri kan?" ujarnya lagi.


Noah sungguh tak mengira Imel dapat mengatakan hal seperti itu, bahkan ia tak mengira Imel mengetahui perasaannya yang sebenarnya.


"Aku tidak bodoh, kita sudah lama saling mengenal. Caramu melihat Yuri sangat berbeda, kau sangat perhatian kepadanya bahkan selalu ada untuknya. Lalu kenapa kau biarkan Rapka mendahului mu? saat itu juga... " ujar Imel mengingat hari dimana ia melihat Noah berpura-pura ketinggalan sesuatu agar Yuri dan Rapka dapat berjalan bersama.


"Aku tidak mengerti, kenapa kau selalu menciptakan kesempatan untuk mereka berdua?" tanya Imel.


"Karena mereka saling menyukai," sebuah jawaban yang tak pernah Imel sangka.


Andai ia tak melihat rasa suka di mata Yuri untuk Rapka mungkin sudah lama ia akan menyatakan perasaannya, baginya akan sangat percuma menyatakan perasaan saat ia sudah tahu jawabannya.


"Bagaimana kalau kau salah? bagaimana kalau sebenarnya Yuri justru menyukaimu?" tanya Imel.


"Kau mau taruhan dengan ku?" tanya Noah penuh percaya diri namun dengan senyum pahit.


"Baik!" seru Imel yang juga percaya diri.


"Jika Yuri dan Rapka jadian maka kau harus mentraktir ku selama sebulan," ujar Noah.


"Dan jika Yuri menolak maka aku ingin kau menyatakan perasaan mu kepada Yuri dihadapan kami semua," balas Imel.

__ADS_1


Saling menatap tangan mereka pun bersalaman.


__ADS_2