
Tiba hari rabu karena Yuri sudah memiliki janji dengan Noah ia pun meminta ijin untuk tidak mengikuti kegiatan club, tentu Imel tidak keberatan sebab ia juga harus menyelesaikan tugas itu dengan teman kelompoknya.
Saat pelajaran usia alangkah kagetnya Yuri saat mengetahui Noah selalu pulang bersama Rapka, alhasil sepanjang jalan itu mereka membisu.
"Aku akan di sini dulu, kalian pergilah duluan," ujar Rapka saat mereka melewati lapangan di pinggir jalan.
Yuri ingat mereka selalu bertemu di tempat itu, rupanya setiap pulang sekolah Rapka selalu bermain bola disana.
"Hei ingat jangan memaksakan diri," ujar Noah dengan wajah datarnya.
"Tenang saja aku akan pulang sebelum sore," jawab Rapka sambil tersenyum.
"Baiklah kami pergi duluan," sahut Noah.
Mereka pun kembali berjalan, saat Rapka memasuki lapangan itu sejenak Yuri sempat meliriknya. Untuk pertama kalinya ia menemukan ekspresi sedih di wajah Rapka yang biasa di penuhi senyum dan tawa, tentu itu membuatnya penasaran.
"Aku pulang... " seru Noah sambil membuka pintu.
"Oh selamat datang," sahut seorang wanita menyambut.
"Selamat siang," sapa Yuri sambil sedikit menudukkan kepala.
"Kau pasti teman Noah, dia sudah memberitahu kemarin akan ada teman yang datang. Wah... aku tidak menyangka teman Noah semanis ini," pujinya yang tentu saja membuat Yuri mati kutu karena malu.
"Ayo masuk!" ajak ibu Noah.
"Permisi," ujar Yuri melangkah masuk.
Mereka terus berjalan hingga ke kamar Noah, tentu saja Yuri butuh waktu untuk masuk ke dalam kamar pria. Lagi-lagi dalam benaknya terbayang berbagai adegan yang terjadi di kamar pria yang ia lihat di komik, itu membuatnya gugup namun untungnya ia berhasil menguasai diri.
"Ini minuman dan cemilannya," ujar ibu Noah sambil membawa nampan.
"Terimakasih," sahut Yuri.
Ibu Noah tersenyum dan pergi sambil menutup pintu kamar, tinggalah mereka berdua yang membuat Yuri cukup gugup.
__ADS_1
"Ini semua buku yang ku pinjam dari perpustakaan dan beberapa toko buku, aku harap kita bisa menyelesaikan tugasnya dengan cepat," ujar Noah menaruh tumpukan buku di atas meja kecil di samping ranjang tempat mereka duduk.
Yuri mengambil satu buku tapi perhatiannya justru tertuju pada foto-foto yang terpajang di meja belajar Noah, selain foto keluarga ia juga menemukan foto Noah dengan Rapka.
Rupanya mereka sudah berteman sejak lama, pantas saja mereka sering keliatan bersama.
Noah mulai mengambil satu buku dan membulak balik halamannya, mereka begitu tenang dan sibuk dengan buku tanpa adanya obrolan. Sesekali mereka bersuara hanya untuk bertanya atau mengutarakan pendapat tentang tugas yang sedang mereka kerjakan, rupanya saking heningnya ibu Noah sampai penasaran dan mengintip dari celah pintu.
Tanpa terasa hari sudah malam, sayangnya tugas mereka masih belum selesai hingga Noah mengajak untuk melanjutkan akhir pekan nanti.
Rupanya Noah masuk club bisbol dan menjadi pemain utama sehingga ia harus selalu ikut latihan untuk mengembangkan bakatnya.
"Dimana rumah mu?" tanya Noah.
"Perfektur F," sahut Yuri.
"Itu cukup jauh, aku akan mengantarmu pulang."
"T-tidak usah, aku bisa pulang sendiri," sahut Yuri yang tak bisa berjalan berdua saja dengan seorang pria di malam hari, itu akan membuat jantungnya terus terpacu dengan cepat.
Tapi Noah tak mendengarkan, ia tetap mengantar Yuri dengan sepedanya. Selesai berpamitan dengan ibu Noah mereka pun pergi.
Dugh
"Ah!" pekik Yuri pelan saat sepeda itu melaju melintasi kerikil yang cukup besar.
Tanpa di duga tiba-tiba Noah mengambil tangannya dan melingkarkannya di perutnya, tentu saja itu semakin membuat Yuri malu hingga hampir pingsan.
"Berpegangan yang benar," perintah Noah dengan nada datar.
Ingin rasanya Yuri segera sampai dan menarik tangannya kembali, ia benar-benar sudah tak tahan duduk di sana meski sepanjang jalan Noah tidak bicara apa-apa.
Sejenak menutup mata untuk menenangkan hatinya perlahan yang ia rasakan justru hembusan angin, begitu lembut dan terasa nyaman.
Seakan membelai setiap helai rambutnya yang panjang, membuka mata kemudian yang ia temukan adalah kunang-kunang yang terbang di sepanjang jalan itu.
__ADS_1
Sangat indah dan begitu damai, tenang seperti aliran air di sungai. Kini hatinya sudah tenang, tiba di rumahnya Yuri mengucapkan terimakasih karena sudah mengantarkannya pulang.
"Apa kau mau masuk dulu?" tanya Yuri.
"Tidak usah, ini sudah malam."
"Baiklah," sahut Yuri tak ingin memaksa.
"Kalau begitu aku pergi dulu," pamit Noah.
Yuri mengangguk dan tetap berdiri di sana sampai Noah hilang di ujung jalan, masuk ke dalam rumah Yuri menjadi berfikir kalau mungkin ia butuh sepeda juga.
Bus yang hanya ada sampai jam lima sore tentu membatasi geraknya yang kini ikut kegiatan club, jika ia memiliki sepeda ia tak harus khawatir akan ketinggalan bus.
"Um... nenek sepertinya aku mau sepeda," ujar Yuri.
"Ah sudah nenek bilang kau pasti membutuhkannya, baiklah besok nenek akan belikan untuk mu!" ujar nenek.
"Tidak perlu! aku akan minta ibu membelikannya," sahut Yuri tak ingin merepotkan.
"Terserah padamu," balas nenek.
Yuri segera mengirim pesan kepada ibunya, jika masalah materi sesungguhnya Yuri tidak pernah kurang. Ia adalah anak satu-satunya sementara kedua orangtuanya bekerja, tentu saja apa pun yang Yuri butuhkan selalu ia dapatkan kecuali perhatian.
Baru beberapa menit Yuri mengirim pesan ibunya langsung membalas akan mengirimkan uangnya sehingga Yuri bisa memilih sendiri sepeda model apa yang ia inginkan, sebenarnya Yuri lebih berharap ibunya langsung memberi sepeda saja.
Ia tak tahu harus membeli sepeda yang seperti apa, jadi model apa pun tak masalah baginya. Akhirnya ia pun tetap merepotkan nenek dengan memintanya membelikan sepeda.
Esoknya setelah kegiatan club terpaksa Yuri jalan kaki lagi, melewati lapangan ia bertemu lagi dengan Rapka yang asik sendiri memainkan si kulit bundar.
Memperhatikan Rapka ia merasa sedang melihat orang lain, raut wajahnya benar-benar berbeda dari yang selalu nampak di kelas.
Setiap hari Rapka selalu terlihat ceria dan selalu tersenyum, tapi di sini wajahnya nampak keras seakan ada sesuatu yang mengganjal hatinya.
Dugh
__ADS_1
Terlalu fokus meneliti wajahnya Yuri sampai tidak sadar bola yang di tendang Rapka bergulir ke arahnya, sontak mata mereka saling beradu pandang.
Yuri segera menundukkan wajah dan berlari pergi, padahal hatinya ingin sekali menyapa dan mengobrol. Entah mengapa rasanya berbeda dengan saat bersama Noah, jika bersama Noah ia tak ragu bicara dan jantungnya tak akan berdegup sekencang ini.