
Sepanjang waktu belajar Yuri mencoba untuk bersikap tenang, ada ketakutan dalam dirinya Rapka akan menganggapnya orang aneh. Tapi beruntung Rapka bersikap seperti biasa sehingga ia merasa aman, setelah pelajaran usai Imel dan Yuri meminta ijin untuk tidak ikut latihan dulu sebab ingin menonton pertandingan.
Dengan menaiki bis mereka pun pergi, tak disangka saat sampai mereka bertemu dengan Noah dan Rapka yang juga baru tiba.
"Kalian menonton juga rupanya," ujar Rapka.
"Tentu saja! kami tidak akan melewatkan pertandingan," sahut Imel.
Kedua orang ceria itu segera asik mengobrol sambil berjalan di depan, sementara Yuri menyusul dibelakang bersama Noah.
Ia memperhatikan bagaimana Imel dapat begitu bebas bicara dengan Rapka tanpa beban, membuatnya merasa iri dan menginginkan posisi itu.
"Ah aku mau beli minuman dulu, kau mau juga?" tawar Noah saat ia melihat mesin minuman di dekat pintu masuk.
"Mungkin lemon tea," sahut Yuri.
"Bagaimana dengan kalian?" tanya Noah.
"Aku ingin soda!" seru Imel sambil mengacungkan tangan.
"Seperti biasa," sahut Rapka yang tahu Noah akan mengerti.
"Baiklah," jawab Noah dan segera pergi.
Mereka mulai berjalan kembali tapi Yuri yang peka mengerti akan sulit bagi Noah membawa empat kaleng tanpa tas.
"Aku akan beli minuman ku sendiri," ujarnya sambil cepat berlari mengejar langkah Noah.
Melihatnya Rapka sedikit tertegun, memperhatikan bagaimana Yuri bicara dengan Noah sambil menatap matanya.
"Ada apa?" tanya Imel sebab Rapka diam.
"Ah tidak," sahutnya segera melangkah kembali.
Ingin dapat melihat dengan jelas mereka memilih bangku di barisan pertama, saat pertandingan baru mulai Noah dan Yuri datang membawa minuman.
__ADS_1
Mereka segera duduk dengan posisi Yuri tepat diantara Noah dan Imel sementara Rapka di ujung, begitu peluit berbunyi yang menandakan pertandingan resmi di mulai sorak penonton riuh membahana dalam stadion itu.
"Kau lihat pria dengan nomor punggung lima? itu Reid," ujar Imel memberitahu.
Yuri mengangguk, terkesima akan tingginya yang kira-kira mencapai 180. Kemudian ia sadar bahwa Noah dan Rapka juga begitu tinggi, membuatnya seakan duduk diantara raksasa.
Di awal pertandingan tim dari sekolah lawan unggul dengan berhasil mencetak gol, membuat decak kekesalan dari mulut Imel. Tapi beberapa menit kemudian tim mereka berhasil membalas hingga membuat Imel dan Rapka berdiri dan memberi tepuk tangan penuh semangat.
Melihat senyum di wajah Rapka hati Yuri merasa senang, matanya yang selalu tertunduk ke bawah melihat lantai hari itu terus menengadah menatap Rapka.
Memperhatikan bagaimana Rapka membuat wajah senang, kecewa dan penuh harap. Hingga pertandingan selesai dengan kemenangan di pihak tim mereka Rapka bersorak dan mengajak mereka tos satu persatu, Yuri yang sedikit kaget hanya mengangkat kedua tangannya membiarkan Rapka menepuknya.
Ada sedikit rasa perih karena Rapka menepuk terlalu keras, tapi perih itu disertai dengan sensasi sengatan yang membuatnya terus merasakan sentuhan tangan Rapka.
"Pertandingannya seru sekali, membuatku tak sabar untuk menonton pertandingan selanjutnya!" seru Imel saat mereka berjalan keluar dari stadion.
"Sudah ku duga mereka pasti akan menang," ujar Rapka yakin namun wajahnya memperlihatkan kesedihan yang kentara.
"Besok kita nonton bareng lagi yuk?" ajak Imel.
"Benar juga," kata Imel lesu.
Mereka terdiam seolah mencari cara untuk pergi besok, tak juga dapat memutuskan sampai mereka kembali ke sekolah untuk mengambil sepeda akhirnya di gerbang mereka berpisah.
Yuri segera mengayuh sepedanya sementara Imel berjalan kaki sebab jarak rumahnya cukup dekat, sedang Rapka seperti biasa menuntun sepedanya disamping Noah seperti biasa hingga mereka berpisah di depan rumah Noah baru Rapka akan mengayuh sepedanya.
Sampai dirumah Yuri dikagetkan akan kedatangan ayahnya yang ternyata sudah sejak tadi siang ada disana, rupanya ayahnya kebetulan ada sedikit pekerjaan di dekat sehingga ia datang untuk mampir.
"Bagaimana sekolahmu?" tanya ayahnya saat nenek membiarkan mereka berdua di ruang tamu.
"Baik," sahut Yuri pelan.
Ayahnya lalu mengeluarkan sebuah amplop berwarna coklat dan menaruhnya tepat di hadapan Yuri.
"Ayah baru saja mendapatkan bonus, kau bisa gunakan untuk membeli buku baru," ujarnya.
__ADS_1
"Terimakasih," sahut Yuri mengambil amplop itu.
Tak banyak yang mereka perbincangkan, memang ayahnya selalu seperti itu. Terkadang ibunya berfikir sifat pendiam Yuri menurun dari ayahnya dan itu membuatnya cukup kesal, tapi meski pendiam dan seolah cuek ayahnya lebih menaruh perhatian kepada Yuri dan selalu memberikan apa pun yang diinginkan Yuri.
"Kalau begitu ayah pulang dulu," ujarnya beberapa menit kemudian karena hari semakin senja.
Yuri hanya mengangguk dan mengantar sampai pintu, padahal sebentar lagi waktu makan malam tiba tapi ia tak berusaha mengajak ayahnya tinggal lebih lama untuk makan malam bersama.
Ini membuat neneknya sedikit heran, ia tahu Yuri sering di tinggal kerja tapi ia pikir itu akan membuatnya ingin menghabiskan banyak waktu bersama dengan orangtuanya tapi ternyata tidak.
"Yuri jika sudah lulus apa kau akan pergi ke kota lagi dan tinggal bersama orangtuamu?" tanya nenek penasaran di sela makan malam.
"Entahlah," sahut Yuri jujur.
Ia bukan orang yang suka merencanakan masa depan, ia hanya ingin setiap hari berjalan baik dan tenang. Ia tak pernah memiliki mimpi atau cita-cita, satu-satunya yang ia inginkan hanya menghabiskan waktu membaca seluruh komik kesukaannya.
"Bagaimana jika nenek meminta mu untuk tetap tinggal di sini meski kau sudah lulus?" tanya nenek.
Sejenak Yuri terdiam untuk berfikir.
"Tidak masalah," sahutnya yang sudah merasa nyaman pada tempat itu.
"Apa kau akan tetap tinggal meski sudah bekerja?" tanya nenek lagi.
"Mungkin," jawabnya sebab ia juga tak tahu pekerjaan apa yang akan ia dapatkan saat besar nanti.
Nenek tersenyum, mengambil potongan daging dan menaruhnya di atas nasi milik Yuri.
"Nenek sudah nyaman tinggal di rumah ini, meski sendirian tak masalah. Tapi setelah kau menemani nenek mengingat kau pasti akan lulus dan memiliki kehidupan sendiri membuat nenek merasa sedih, nenek pasti akan merindukan mu. Saat ini nenek masih tenang karena kau belum punya rencana untuk masa depan mu tapi nanti... " ucapan nenek terhenti.
Ia menatap Yuri dan tersenyum.
"Nikmati masa kebersamaan mu selagi masih ada waktu, saat perpisahan tiba jangan sampai kau menyesal dan mengutuk dirimu sendiri atas segala hal yang kau lewatkan."
Yuri tertegun, nasihat nenek telah membuat kerongkongannya tak bisa menelan karena terdapat rasa pahit di sana.
__ADS_1