
Butuh waktu bagi Imel untuk memasang wajah cerianya, setelah ia merasa siap baru di ketuknya pintu itu sambil memanggil Yuri. Untuk beberapa detik tak ada jawaban, Imel mencoba kedua kalinya dan masih tak ada jawaban sehingga ia langsung masuk meski belum mendapat ijin.
Di kamar dengan pencahayaan yang kurang ia melihat Yuri tengah terbaring dengan mata terpejam, rambutnya yang berantakan menutupi pipi cekungnya karena kurang mendapat nutrisi.
Hati Imel teriris mendapati kondisi Yuri yang sangat memprihatinkan, ia pun duduk disamping Yuri cukup lama sampai ia terbangun.
"Sejak kapan kau disini?" itulah kalimat pertama yang Yuri ucap setelah berhari-hari bungkam.
"Cukup lama," sahut Imel.
"Kau sudah terlalu lama tidak masuk sekolah jadi aku datang menjenguk, teman-teman menitip salam padaku. Mereka ingin kau cepat pulih dan latihan lagi," lanjut Imel.
Yuri tak menjawab, ia malah membuang muka seakan tak ingin melihat Imel.
"Sebentar lagi kita akan mengikuti pertandingan jadi kau harus cepat sembuh," ujarnya.
"Maaf, cari orang lain saja," sahut Yuri pelan.
Mengepalkan tangan Imel kini sudah tak bisa menahan perasaannya lagi.
"Bodoh! kau tidak sendirian! kau masih punya aku, Noah, Rapka, teman-teman dari club voli dan masih ada teman-teman sekelas juga! kau tidak boleh terus tidur di kamar ini! kau harus pergi ke sekolah besok dan melihat betapa semua orang merindukan mu!" seru Imel dengan derai air mata yang tak bisa ia tahan.
Tapi Yuri tak menggubris pernyataan itu, ia tak keberatan tak memiliki teman bahkan ia tak peduli jika ia sendirian.
"Aku mohon.... jika kau tidak mau bangun demi dirimu maka lakukan untuk ku... aku... sangat membutuhkan mu," pinta Imel yang tak tahu harus mengatakan apa lagi.
__ADS_1
Ternyata permintaan itu lebih mampu membuat Yuri melirik Imel, melihat wajah tersiksa Imel yang menderita karena kehilangan dirinya.
"Jika kau terus begini siapa yang akan buatkan aku bekal? siapa yang akan menemani aku latihan? lalu siapa yang bisa aku ajak untuk menonton? aku memang di keliling banyak orang tapi tidak ada yang seperti mu. Tidak ada yang benar-benar mau menjadi temanku," tanya Imel yang justru kemudian membuatnya terdiam.
Ia baru sadar bahwa selama ini telah sangat bersalah kepada Yuri, ia selalu merepotkan orang lain karena itu tak ada yang benar-benar mau menghabiskan waktu bersamanya. Mungkin karena ini juga Yuri tak mau lagi berteman dengannya.
"Maaf," ujar Imel tiba-tiba yang membuat Yuri kaget.
"Maaf karena selama ini aku selalu merepotkan mu," lanjutnya.
Imel bangkit dan menghapus air matanya, memutuskan untuk pergi ia pun berpamitan. Membuat Yuri bingung dengan apa yang telah terjadi padanya, bukankah tadi ia bilang sangat membutuhkan Yuri tapi kemudian berubah menjadi seakan tak ingin bergantung pada Yuri.
Setelah kepergian Imel Yuri baru keluar dari kamarnya, nenek yang mendengar teriakan Imel sedikitnya mengerti dan menyuruh Yuri duduk sambil makan buah dari Imel.
"Sepertinya kau belum mengerti benar ucapan nenek waktu itu," ujar nenek membuyarkan lamunan Yuri.
Yuri tertegun, ia pikir ucapan nenek waktu itu hanya berlaku untuk hubungannya dengan orangtuanya saja tapi ternyata tidak. Masih ada satu hubungan yang telah susah payah ia jalin, itu adalah sebuah pertemanan yang ia pikir adalah misi.
......................
Alih-alih pulang kerumah Imel justru menghabiskan waktu di taman, melihat banyak anak-anak yang bermain dengan teman mereka.
Ia ingat selalu mendapat pujian dari ibu-ibu karena ceria dan aktif, tapi justru kebanyakan temannya tidak menyukainya. Di depan mereka semua bersikap manis dan baik tapi di belakang mereka sering bicara buruk tentangnya, ia dianggap sebagai anak paling berisik dan suka cari perhatian orang dewasa.
Jika sedang bersemangat kadang ia suka memaksakan kehendak, membuat sulit teman-temannya sebab tak bisa menolak keinginannya.
__ADS_1
Di club voli pun sebenarnya ia kurang di senangi karena terlalu bersemangat, ia selalu mengajak yang lain untuk terus latihan tanpa mengenal lelah. Karena itu hanya kak Nora yang paling dekat dengannya, juga yang paling pengertian kepadanya.
Menyadari dia adalah orang yang suka merepotkan sebisa mungkin Imel selalu menjaga perasaan agar jangan terlalu bersemangat dan lupa diri, tapi setelah bertemu Yuri tak bisa menolak permintaan orang lain akhirnya ia malah semena-mena.
Terbawa suasana sifat aslinya timbul dan tak terkontrol, andai orangtua Yuri tidak meninggal sehingga membuat Yuri sakit mungkin sampai saat ini ia tak akan sadar telah bersikap keterlaluan kepada Yuri.
Menghembuskan nafas panjang kini Imel harus menjaga jarak dengan Yuri agar tak merepotkan lagi seandainya ia kembali masuk sekolah, tapi ia ragu Yuri akan datang setelah melihat seberapa buruk kondisinya.
Esoknya Rapka yang mendengar kabar kalau Imel pergi menjenguk Yuri tentu penasaran bagaimana kondisi Yuri saat ini.
"Orangtuanya meninggal karena kecelakaan, itu membuat kondisi Yuri benar-benar tidak baik. Mungkin... dia tidak akan pergi sekolah lagi atau mungkin pindah ke kota lagi," jawab Imel.
Tentu Rapka dan Noah kaget mendengar berita buruk itu, Noah pun yang selalu terlihat dingin dan acuh menunjukkan ekspresi sedih untuk Yuri.
Apalagi Rapka yang telah banyak berhutang kepada Yuri, ingin rasanya ia pergi menemui Yuri hanya untuk mengucapkan bela sungkawa.
Keheningan yang begitu kentara hadir di antara mereka, seolah memisahkan mereka dari hiruk pikuk dunia. Sepanjang hari itu hingga kegiatan club Imel yang biasanya paling berisik kali ini diam seribu bahasa, membuat heran semua orang yang mengenalnya.
Esoknya ia juga masih begitu pendiam begitu juga dengan Rapka, sementara Noah menghabiskan waktu dengan melamun sambil menatap ke luar jendela.
Bel berbunyi tanda pelajaran siap di mulai, bu Susi masuk bersamaan dengan murid-murid lainnya dan siap untuk mengabsen.
"Maaf saya terlambat!" seru seseorang di pintu dengan nafas terengah-engah dan wajah yang merah.
Semua mata menatap kearahnya termasuk Noah, awalnya tentu ia terkejut tapi kemudian senyum tersungging di bibirnya.
__ADS_1
"Kau belum terlambat Yuri, masuklah!" sahut bu Susi mempersilahkan.
Yuri mengangguk dan berjalan masuk ke dalam kelas, melewati Imel yang menatapnya tanpa berkedip. Kemudian melewati Rapka sambil menunduk seperti biasa sebab mata Rapka terlalu berbinar yang membuat jantungnya tak aman, saat melewati Noah dan duduk di kursinya ia membalas senyum Noah yang meski tipis tapi tulus.