Si Pengecut Yuria

Si Pengecut Yuria
Bab 24 Pertandingan Voli 2


__ADS_3

Ini adalah kali pertama jantungnya berdegup kencang bukan karena gugup, debarannya sama saat seperti ia menerima sekaleng minuman dari Rapka juga saat Imel memuji masakannya yang enak.


Debaran yang membuatnya tak bisa menahan senyum, matanya yang berbinar menatap si kulit bundar yang terus melambung di udara setelah di pukul.


Dalam hati ia ingin menyentuhnya lagi, memberi operan yang bagus untuk seniornya yang dalam satu semester lagi tidak akan berada di lapangan yang sama dengannya.


Ada banyak pertadingan setelah ini tapi jika mereka tak memenangkan pertandingan yang satu ini maka langkah mereka terhenti sudah, dan Yuri tak mau hal itu terjadi. Ia ingin bermain satu kali lagi bersama seniornya dalam sebuah pertandingan serius.


"Bersiaplah," ujar pelatih tiba-tiba.


Yuri menatap kaget, tapi melihat senyum pelatih entah mengapa ia segera mengerti maksudnya.


Pelatih itu sudah cukup lama mendidik anggota club voli putri, saat menyadari potensi yang di miliki Imel ia merasa sayang anak itu harus masuk ke sekolah yang tidak dapat mendukungnya.


Tapi saat Yuri ikut masuk ada satu hal yang membuatnya bersyukur, meski Yuri tidak memiliki potensi dalam olahraga tapi ia mampu membuat Imel terus bergerak mengembangkan potensinya meski tak ada harapan.


Ajaibnya Yuri yang lemah dan pengecut menebarkan aura aneh yang membuat orang lain merasa lebih hebat dari dirinya, bahkan pelatih menyadari semua anggota club yang awalnya leha-leha menjadi lebih giat berlatih hanya untuk menunjukkan bahwa mereka sangat hebat hingga membuat Yuri semakin kecil.


Seakan orang-orang di sekitar Yuri ingin menunjukkan bahwa mereka kuat dan hebat agar mampu mengintimidasi Yuri, itu memang menyakitkan bagi Yuri tapi dalam pertandingan ini pelatih tahu sebenarnya Yuri-lah yang paling dominan.


Priiit


Peluit berbunyi, semua mata kemudian tertuju pada Yuri yang akan menggantikan temannya untuk memberikan service.


Tak ada yang berharap pada Yuri, dia tak pernah bisa melakukan service yang bagus. Tapi justru karena itu semua teman dalam satu club yang kini berdiri di atas lapangan pertadingan mengerahkan kemampuan terbaik mereka, harus menjadi lebih kuat dan lebih baik agar mampu menutupi kesalahan yang Yuri buat.


Priiiitt...


Saat peluit berbunyi Yuri yang tersentak kaget segera melemparkan bolanya ke atas, menatap bagaimana bola itu melayang Yuri bersiap memukulnya dengan kekuatan penuh.


Buk


Syuuuuuuttt


"Out!" seru lawan yang berdiri di paling belakang.

__ADS_1


Bum


Bola itu benar-benar keluar lapangan, membuat lawan mendapat satu angka dari Yuri. Kesal karena tak dapat melakukannya dengan baik Yuri hanya bisa mengepalkan tangan, kembali ke bangku cadangan kini ia kehilangan semangatnya.


Tak ada gunanya, sampai kapan pun ia tak akan pernah bisa bermain dengan benar.


Hhhhhhhhh


Yuri menghembuskan nafas panjang, berfikir tak ada gunanya untuk meneruskan hal ini. Ia akan kembali menjadi Yuri yang biasa, Yuri yang tak melakukan apa pun.


Tapi pelatih tetap memasukkannya ke dalam pertandingan untuk memberikan service yang sama sekali tidak bisa memberikan poin, putus asa dan tak mengerti dengan jalan pikiran pelatihnya Yuri hanya bisa melakukan apa yang di perintahkan.


Ini menjadi ketiga kalinya Yuri memberikan service dan gagal, membuatnya semakin tenggelam dalam kubangan putus asa.


Pertandingan terus berjalan, sesuai harapan pelatih anak didiknya semakin membaik setelah Yuri melakukan kesalahan. Mereka dapat mengejar ketinggalan hingga akhirnya berhasil unggul dengan satu poin, semua semakin bersemangat untuk menunjukkan kelayakan diri masing-masing termasuk Imel yang paling banyak mencetak poin.


Bagai matahari ia adalah pusat yang paling terang diantara segalanya, ia mendapat perhatian tak hanya dari lawan tapi juga semua penonton termasuk Yuri.


"Satu kali lagi," ujar Pelatih.


Meski sudah enggan bermain tapi Yuri tak bisa menolak, ia mengangguk pelan. Tiba dimana ia berdiri dengan memegang papan nomor Yuri tak dapat mengangkat wajah untuk melihat teman-temannya.


"Lakukan dengan benar bodoh!" seru seseorang dari bangku penonton.


Tentu Yuri terkejut mendengar teriakan itu, saat ia mengangkat wajah yang pertama ia lihat adalah tatapan mata yang sudah hampir ia lupakan.


Sebuah tatapan merendahkan, menghina, mencibir, benci. Hampir ia lupa pada perasaan yang membuatnya kecil dan tak berdaya, kini karena seruan itu jantungnya berdebar keras.


Mengancam jiwanya yang tidak boleh melakukan kesalahan, gemetar tangannya memegang bola di tangan.


Prriiiitttt...


Peluit berbunyi yang menandakan ia harus melakukan service, kali ini Yuri tak terkejut mendengar peluit itu karena memang ia tak mendengarnya.


Yang terngiang di telinganya hanyalah jutaan kata-kata penghinaan untuk dirinya, menekan hatinya dengan begitu hebat saat ia mulai melambungkan bola itu di udara karena suatu perintah di kepalanya.

__ADS_1


Yuri berlari kecil dan sedikit melompat saat memukul bola itu, dengan perasaan terintimidasi yang membuatnya hanya fokus pada satu tujuan matanya menatap kemana bola itu melayang.


Orang yang mengoloknya sudah diam dengan hanya berfokus pada bola, tapi Yuri masih bisa mendengar semua cacian itu yang membuatnya sedikit pun tidak tersenyum saat bola mendarat di wilayah lawan.


Sorak dan tepuk tangan riuh menggema di dalam arena, semua memuji Yuri yang berhasil mencetak poin. Tapi Yuri bahkan tak menyadari ketulusan pujian itu, ia telah kembali menjadi Yuri yang membuat dinding di sekelilingnya.


"Yuri..... sekali lagi!" seru Imel.


Yuri tersentak, kesadarannya tiba-tiba kembali penuh. Menatap ke depan ia menemukan semua mata yang tengah tersenyum bangga padanya, lalu melihat papan score timnya ternyata sudah unggul dua poin.


Jika ia mendapatkan satu poin ini maka mereka akan menang di babak kedua dan bisa berjuang lagi bersama di babak terakhir.


"Yuri, lakukan!" perintah Nora sebagai kapten dengan penuh kepercayaan.


Prriiiitttt...


Peluit berbunyi yang memberi pertanda bahwa Yuri memiliki waktu delapan detik untuk melakukan service, membuat kegugupan Yuri hadir lagi sehingga ia tak memiliki kesempatan untuk bersiap.


Buk


Bola yang ia layangkan ke udara kemudian ia pukul sekuat tenaga tanpa perhitungan yang tepat, alhasil bola itu melambung jauh melewati garis pertandingan.


Lawan menghembuskan nafas lega, mereka memiliki kesempatan untuk membalas dan kembali merebut poin sementara Yuri berada di ambang jurangnya.


Waktu terus bergulir, pertandingan terus berjalan dengan kekhawatiran yang pelatih rasakan perlahan menjadi kenyataan. Saat ia melihat Yuri berhasil mencetak angka ia tahu kewaspadaan yang lain sedikit menurun, andai Yuri berhasil mencetak poin lagi mereka hanya butuh kerja keras untuk satu poin kemenangan.


Sayangnya Yuri gagal dalam service kedua sehingga itu membuat kerja keras saja tidak cukup, mereka juga butuh keberuntungan.


Yuri yang tak sanggup melihat pertandingan tetap menundukkan kepalanya, tak ingin tahu apa yang sedang terjadi. Seruan-seruan pelatih dan penonton yang memberi semangat seakan sebuah cacian untuk dirinya yang tidak pernah becus dalam segala hal, entah bagaimana kedepannya ia akan menjalani hidup ia tak dapat membayangkannya lagi.


Priiiittt


Priiiiiiiiiiiiittttttt......


Itu adalah sebuah bunyi peluit yang menandakan pertandingan telah selesai, Yuri harus mengangkat wajahnya untuk melihat siapa yang menang.

__ADS_1


Tapi sebuah tepukan di pundaknya cukup memberi jawaban yang membuatnya enggan untuk bangkit.


__ADS_2