
Yuri dapat melihat dengan jelas satu dinding yang transparan itu, dinding yang tak bisa di lihat oleh sembarang orang. Dinding yang telah memisahkan Noah dan Rapka, memang mereka sudah saling berinteraksi tapi belum bicara dengan normal seperti biasanya.
Mungkin tidak sepatutnya Yuri ikut campur dalam masalah mereka, tapi Yuri sangat tidak suka akan dinding pembatas yang sempat ia rasakan juga.
Ia ingin membantu Noah seperti yang dilakukan Noah untuk memperbaiki hubungannya dengan Imel, tapi ia tak tahu harus mulai dari mana.
Selama makan siang bersama di kantin alhasil ia banyak melamun sampai tidak sadar Noah menghabiskan makanannya, begitu Yuri hendak menyuap tahu-tahu makanannya habis.
"Eh, Noah! kenapa kau makan bagianku?" tanya Yuri kaget sekaligus kesal.
"Sejak tadi kau diam jadi aku pikir kau tidak mau," sahut Noah santai.
"Hhhhhh.... aku kelaparan," tukas Yuri sambil menghembuskan nafas.
Noah tersenyum kecil melihat wajah Yuri yang lucu saat cemberut, sebenarnya ia ingin menggoda Yuri lebih jauh tapi karena tak tega akhirnya ia membelikan sebungkus roti dan susu.
Selesai makan mereka berjalan bersama kembali ke kelas, saat melihat keluar jendela tanpa sengaja ia melihat pengurus taman sekolah yang sedang merawat tanaman bunga.
Sebuah ide pun muncul dalam benaknya, sesuatu yang ia pikir dapat membuat Noah dan Rapka kembali akur seperti biasa.
"Noah, apa sabtu ini kau senggang?' tanyanya.
"Sepertinya, ada apa?" balas Noah.
"Nenek ku menyuruh membantu memanen jagung, karena kebunnya luas pasti memakan waktu lama untuk mengerjakannya. Apa kau bisa membantu ku? nanti aku beri imbalan deh!" jawabnya.
"Oh, baiklah," sahut Noah tanpa berpikir lebih dulu
"Sungguh? aku akan menunggu mu kalau begitu," ujar Yuri senang.
Senyumnya yang ceria membuat Noah berhenti berjalan, memperhatikan Yuri dalam waktu lama sampai Yuri ikut berhenti melangkah.
"Ada apa?" tanyanya heran.
"Apa hanya dihadapanku kau bersikap seperti ini?" tanya Noah penasaran.
"Maksudmu?" balas Yuri tak mengerti.
Noah menatap Yuri cukup lama, meneliti ekspresi wajahnya yang kebingungan.
"Tidak ada," sahutnya kemudian berjalan kembali.
......................
__ADS_1
Sabtu pagi sesuai janji Noah benar-benar datang, Nenek yang telah di beritahu tentu senang karena pekerjaannya akan menjadi lebih mudah.
"Hai.... " seru Imel yang baru tiba.
Noah cukup kaget melihat kedatangan Imel yang juga ternyata bersama Rapka, menatap Yuri kemudian ia mengerti ini adalah rencana yang sudah di persiapkan.
"Ah aku pikir akan terlambat," ujar Imel menghampiri.
"Tidak, kami juga baru mau berangkat," sahut Nenek.
"Kalau begitu ayo!" seru Imel memimpin jalan.
Di ikuti yang lain mereka pun mulai berjalan, menyusuri hutan belakang rumah yang rimbun. Udaranya yang sejuk dengan kicauan burung membuat Yuri merasa damai, seolah ia baru terlahir menjadi sesuatu yang baru.
"Ah!" pekiknya saat tak sengaja terpeleset.
Gep
Beruntung Noah menangkapnya tepat waktu, memegang tangannya dengan kuat hingga tak sampai terjatuh.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Noah.
"Oh.. tidak, terimakasih.. " sahut Yuri seraya tersenyum.
"Hati-hati," ujar Noah membantu Yuri berdiri tegak.
"Waaaaaahhhh..... luasnya!" seru Imel takjub setelah mereka sampai.
Kebun milik Nenek memang luas, tak heran jika ia sibuk bertani karena selain kebun jagung ia juga memiliki sawah dan kebun lainnya yang ia rawat sendiri.
Membagikan keranjang Nenek menyuruh ke empat anak itu memanen dengan barisan yang telah ia tetapkan, Imel yang paling antusias mengajak ke tiga temannya berlomba memanen jagung terbanyak.
Rapka menyanggupi dengan ikut bersemangat sementara Yuri dan Noah hanya mengangguk tanpa mau membuang tenaga dengan percuma, mereka hanya akan mengambil tanpa peduli siapa yang menang.
Di kebun yang luas itu Imel yang paling aktif terus berseru kadang bernyanyi, membuat mereka tertawa dengan tingkah lucunya.
Asik memanen tanpa terasa matahari sudah terik di atas kepala, kelelahan mereka beristirahat di bawah pohon yang sejuk. Menikmati air dingin yang tadi mereka bawa dan nasi kepal buatan Nenek.
"Mmm, enak sekali... Nenek sangat pandai membuatnya!" puji Imel.
"Terimakasih, makanlah sampai puas. Nanti kita buat jagung bakar yang kalian panen," sahut Nenek.
"Sungguh? asyik!" seru Imel senang.
__ADS_1
"Apa batremu tidak ada habisnya? sejak tadi kau terus bicara dengan kencang," omel Noah yang merasa lelah melihat Imel.
"Apa maksudmu? memangnya aku boneka?" tanya Imel kecut.
Hahahaha
Tawa mereka menjawab pertanyaan Imel, tentu saja tidak ada yang tahan melihat wajah kesal Imel yang lebih lucu dari pada lawakannya.
Puas menertawai Imel sampai hilang lelah mereka pekerjaan pun kembali di lanjutkan sampai sore, meski belum semua jagung di panen tapi hari itu mereka sudah mendapat jagung yang cukup.
Sesuai janji saat kembali ke rumah Nenek segera membuat tungku di luar untuk membakar jagung, sementara Yuri menyiapkan teh dan cemilan lainnya.
Imel terus mengajak Rapka dan Noah bercanda agar mereka tak kaku, upayanya perlahan berhasil saat Rapka mulai bicara seperti biasa kepada Noah.
Mengajaknya bicara dan bercanda meski respon Noah datar seperti biasa, setidaknya dinding transparan yang Yuri lihat semakin menipis dan mulai menghilang.
"Ini tehnya," ujar Yuri menaruh satu nampan berisi teko dan gelas.
"Terimakasih," sahut Noah segera mengambil satu gelas dan menuang teh.
"Yuri cobalah, rasanya sangat manis!" seru Rapka menyodorkan satu jagung bakar yang baru matang.
"Oh baik!" sahutnya segera turun.
Saat mengambil jagung itu dari tangan Rapka tanpa sengaja Yuri menyentuh tangan Rapka, membuatnya tersentak karena sengatan yang tak pernah ia sangka.
Membeku sejenak Yuri baru sadar beberapa detik kemudian saat Rapka menatapnya panjang, kegugupannya kembali hadir yang membuatnya membuang muka.
Tak tahan akan rasa malu itu Yuri memilih untuk duduk di samping Noah, memakan jagung bakarnya dengan cepat secepat debaran jantungnya.
"Hhhh kau bukan anak kecil lagi, makanlah yang benar," komentar Noah melihat banyak biji jagung yang berjatuhan di paha Yuri.
Belum lagi yang menempel di sudut bibir Yuri yang kemudian Noah ambil, saat itulah debaran jantung Yuri tiba-tiba hilang bersama dengan nafasnya. Bahkan waktu seakan berhenti saat mata mereka beradu pandang dalam jarak yang begitu dekat, entah mengapa tiba-tiba Yuri baru sadar kalau Noah cukup tampan.
Jika di perhatikan ia memiliki bulu mata yang panjang, habisnya juga cukup tebal sehingga membuatnya maskulin.
"Makanlah perlahan," ujar Noah.
Yuri mengedipkan mata, kembali pada kenyataan setelah beberapa detik mati.
Puas membakar jagung Imel benar-benar di buat kenyang dan senang, apalagi saat mereka berpamitan pulang Nenek memberi mereka satu tas penuh berisi berbagai macam sayuran untuk makan malam.
Yuri yang mengantar sampai ke halte bis saling berbisik dengan Imel di belakang Rapka dan Noah, bersyukur sebab rencana mereka telah berhasil.
__ADS_1
Sementara Rapka yang merasa bersalah dengan wajah murung meminta maaf kepada Noah atas sikapnya selama ini, dengan wajah datar seperti biasa Noah tidak mempermasalahkan.
Ia sama sekali tidak peduli padahal dalam hati diam-diam dia juga merasa kehilangan sosok Rapka yang selalu ada untuknya, saling tersenyum mereka melirik pada Yuri yang kini jauh lebih bisa terbuka dan bersikap layaknya teman kepada mereka.