Si Pengecut Yuria

Si Pengecut Yuria
Bab 25 Penyesalan Yuri


__ADS_3

Yuri ikut berbaris dan bersalaman dengan lawan juga wasit yang bertugas, sekilas wajahnya nampak murung seperti biasa namun jika di lihat dari dekat ada sebuah luka yang dalam.


"Tidak apa, kita semua sudah berusaha keras. Cepat bereskan barang kalian setelah melakukan peregangan," ujar pelatih mencoba menghibur.


"Baik!" sahut mereka serentak.


Semua wajah kembali menunduk dengan beberapa isak tangis diantara mereka, membuat Yuri semakin tak tahan.


"Maafkan aku!" seru Yuri tiba-tiba sambil menundukkan kepala.


Air mata yang sedari tadi ia tahan jatuh menggenang di lantai, membuat Imel yang sejak tadi mencoba tegar segera ikut menangis.


"Andai aku berusaha lebih keras, andai saja aku tidak pernah malas pasti.... pasti... " ucapan Yuri tersendak di tenggorokannya.


Tak mampu keluar karena nafasnya yang tersenggal akibat tangis, baru kali ini ia menyesal karena tidak bersungguh-sungguh. Baru kali ini ia memiliki keinginan dan tak dapat mewujudkannya karena sifatnya yang pengecut dan mudah menyerah.


Gep


Tiba-tiba Imel memeluknya, menangis kuat di pundaknya. Satu persatu hingga semua teman satu clubnya pun ikut memeluk, membuat Yuri merasa keberatan akan beban yang menumpuk pada tubuhnya tapi hatinya terasa menjadi lapangan kosong.


"Kita sudah berusaha, tak apa... " ujar Nora sebagai kapten yang mengerti perasaan sedih Yuri.


Semua mengangguk setuju, menyuruh Yuri menyunggingkan senyum dan kembali bersemangat. Masih ada turnamen lain yang dapat mereka ikuti, oleh karena itu kini mereka harus cepat pulang dan mengumpulkan tenaga sebanyak-banyaknya.


Termenung, bahkan air mata Yuri berhenti menetes saking kagetnya. Selama ini ia selalu sendirian, sejauh ini temannya hanya Imel, Rapka dan Noah. Lalu entah sejak kapan tiba-tiba kini ia memiliki teman banyak, padahal Yuri berfikir mereka hanya orang-orang yang memiliki satu kegiatan club yang sama.


Ternyata selama ini ia sudah di anggap teman meski jarang bicara, jarang berinteraksi dan jarang tersenyum.


"Mm!" seru Yuri sambil mengangguk keras.


Kali ini bersama orang-orang yang ia anggap teman ia akan memulai perjuangan baru, melangkah bersama mereka sambil mengangkat wajah dengan bangga.


Kembali ke sekolah pelatih mentraktir mereka makan sebelum pulang ke rumah masing-masing, meski tak bernafsu makan tapi mereka tetap menghabiskan makanan untuk menghormati pelatih.

__ADS_1


Puas melepas kesedihan akhirnya mereka dapat berpisah dengan senyum di wajah masing-masing, Yuri pun yang kini merasa jauh lebih baik berjalan di sepanjang jalan trotoar menuju rumah.


Hari sudah sore dan ia ketinggalan bus terakhir sehingga terpaksa berjalan kaki, tapi Yuri tidak keberatan karena ia memang sedang ingin menghabiskan waktu dengan berjalan sampai benaknya jernih.


Kiiiiiiiiitttt


Decitan sepeda yang di rem membuat Yuri berhenti melangkah, matanya menatap kaget Noah yang berhenti tepat di sampingnya.


"Aku antar kau pulang," ujarnya.


"Ah, tidak perlu. Aku bisa jalan sendiri," jawab Yuri yang memang ingin sendiri.


Gep


Tapi tiba-tiba Noah menarik tangannya hingga mereka begitu dekat, membuat jantung Yuri seakan berhenti sejenak.


"Aku tidak akan membiarkan gadis dengan pikiran kosong berjalan di sore hari," ujar Noah datar.


"Ayo naik!" ajak Noah melepaskan genggaman tangannya.


Yuri yang tak pernah bisa menolak akhirnya naik ke atas sepeda Noah, berpegangan pada pinggang Noah sebelum sepeda itu melaju menyusuri jalan.


Sepanjang jalan mereka tak bicara, membuat mereka terlihat seperti pasangan kekasih yang sedang marah satu sama lain hingga akhirnya mereka sampai di depan rumah.


"Terimakasih," ujar Yuri.


Noah mengangguk dan menyuruh Yuri untuk segera masuk ke dalam agar dapat beristirahat, sementara ia sendiri akan langsung pulang.


"Yuri!" panggil Noah membuat Yuri menengok.


"Permainan mu tidak buruk," ujarnya kemudian mengayuh sepeda untuk pergi.


Yuri termangu, butuh waktu untuk menyadari bahwa Noah menonton pertandingannya sehingga masuk akal lah sikapnya itu.

__ADS_1


......................


Noah turun dari sepeda dan menuntunnya masuk ke dalam lapangan pinggir jalan, Rapka yang mengetahui kedatangan Noah menghentikan segera aktivitasnya menendang bola.


"Terimakasih sepedanya," ujar Noah memarkir sepeda itu.


"Tidak masalah, ayo pulang!" ajak Rapka.


Ia memasukkan bolanya ke dalam tas baru menuntun sepedanya di samping Noah, mereka berjalan meninggalkan lapangan menuju trotoar.


"Menurut mu apa mereka baik-baik saja?" tanya Rapka yang masih kepikiran.


"Entahlah," sahut Noah yang memang tak tahu.


Pagi tadi saat mereka melihat Yuri masuk ke lapangan voli mereka segera ingat ini adalah hari club voli putri mengikuti pertandingan, Rapka yang ingin memberi semangat akhiy mengajak Noah untuk bolos demi menonton turnamen.


Dengan menaiki bus akhirnya mereka sampai di stadion, sayangnya mereka tak berhasil menemui Yuri atau pun Imel untuk memberi semangat secara khusus.


Akhirnya mereka pun hanya bisa memberi semangat dari bangku penonton, mereka melihat semua yang terjadi selama pertandingan juga mendengar ejekan penonton lain yang menghina permainan Yuri yang kurang baik.


Saat pertandingan berakhir dengan kekalahan bagi tim Yuri sebenarnya mereka ingin memberi semangat, namun mereka sama sekali tidak memiliki kesempatan hingga akhirnya pulang.


Noah yang kemudian tanpa sengaja melihat Yuri berjalan sendiri memutuskan untuk meminjam sepeda Rapka dan mengantarnya pulang, memberi sedikit dorongan agar Yuri berhenti tenggelam dalam kesedihannya.


Esoknya seperti yang mereka harapkan Imel tampil ceria seperti biasa meski jelas matanya yang sembab mengatakan ia telah menangis semalaman, tentu ia yang paling merasa terpukul atas kekalahan ini.


Tapi sejauh ini ia baik-baik saja, begitu juga dengan Yuri yang tak lebih murung dari biasanya.


Ia mengucapkan terimakasih kepada Noah atas semangat yang di berikan kemarin, Rapka yang tak sengaja mendengar tiba-tiba merasa sedikit tak senang.


Ia merasa Noah telah curang karena tidak jujur kepadanya, padahal kemarin Noah meminjam sepedanya dengan alasan ada urusan sebentar namun ternyata urusan itu adalah mengantar Yuri pulang.


Apalagi saat jam istirahat mereka tak lagi makan bersama, Noah memilih untuk makan di kantin bersama dengan Yuri dan Imel.

__ADS_1


__ADS_2