
Tak ingin terburu-buru karena takut akan penolakan Yuri hanya menikmati setiap waktu yang ia miliki, dan setiap kesempatan yang datang tak pernah ia sia-siakan.
Seperti saat ini, minggu terakhir sebelum mereka menghadapi ujian. Imel yang memaksa ingin bersenang-senang untuk membuka ruang di otaknya yang sebentar lagi akan di penuhi semua materi pelajaran, mengajak mereka pergi nonton film komedi.
Tiba di bioskop tugas membeli karcis di berikan kepada Imel sementara mereka menunggu di dekat pintu masuk.
"Aku akan membeli popcorn dan minuman," ujar Rapka selagi menunggu Imel yang masih mengantri.
"Biar aku bantu, akan repot jika kau bawa sendirian," ucap Yuri.
"Terimakasih," sahut Rapka merasa tertolong.
Mereka kemudian pergi, meninggalkan Noah sendirian di pintu masuk. Menatap setiap gerak-gerik Yuri yang menurutnya benar-benar berbeda dari pertama mereka bertemu, kini Yuri nampak lebih bisa mengekspresikan diri bahkan mengutarakan pendapatnya.
Ia tak lagi sembunyi dari balik rambutnya, senyumannya juga lebih sering terlihat yang membuat hati Noah merasa bersyukur.
"Kemana yang lain?" tanya Imel saat ia selesai membeli karcis.
"Membeli cemilan," sahut Noah.
"Maaf, apa kami pergi terlalu lama? tadi ada sedikit antrian saat kami membeli popcorn," ujar Rapka melihat Imel yang sudah datang.
"Tidak, ayo masuk!" ajak Imel yang tak sabar.
Mereka segera masuk, duduk di kursi yang sesuai dengan karcis. Imel duduk paling ujung, di sebelahnya Noah, Yuri dan Rapka.
Selang beberapa menit kemudian film pun di putar. Satu jam lebih mereka tak bisa berhenti tertawa selama film di putar, bahkan setelah mereka keluar ruangan mereka masih mengobrol tentang film sambil tertawa.
"Ah aku lelah," keluh Yuri yang merasa kram pasa pipinya.
"Aku juga," timpal Rapka setuju.
"Bagaimana kalau kita istirahat di taman?" tawar Imel.
__ADS_1
Mereka segera mengangguk, kembali berjalan dan siap menyebrang saat lampu lalu lintas berwarna merah.
Tiiiiiittt.....
"Yuri!" teriak Noah yang sadar satu mobil hendak menerobos lampu merah.
"Aaaaa... " Bruk
"Kau tidak apa-apa?" tanya Noah cemas sambil segera menghampiri.
"Tidak, bagaimana dengan mu? apa aku menabrukmu cukup keras?" sahut Yuri yang justru lebih mengkhawatirkan Rapka sebab saat Noah berteriak ia reflek segera mundur sampai menabrak Rapka yang berdiri tepat di belakang.
"Aku baik-baik saja, kau sendiri tidak terluka kan?" balas Rapka yang tentu saja khawatir pada Yuri.
Yuri menggeleng, tapi Rapka tetap mengecek kondisi badannya. Noah yang melihat kedekatan mereka terpaku dalam benaknya, merasa bodoh karena ikut campur dalam hubungan dua orang itu.
Sementara penonton lainnya yaitu Imel merasa lebih bodoh lagi karena ia baru paham apa yang telah terjadi selama ini, padahal ia sangat dekat dengan mereka semua tapi rupanya tidak cukup dekat hingga tak bisa peka pada perasaan setiap temannya.
......................
"Liburan nanti aku berencana pergi ke rumah paman ku, bagaimana dengan kalian?" tanya Imel memulai obrolan.
"Sepertinya aku tidak pergi kemanapun, mungkin aku akan mengisi waktu liburan dengan kerja part-time," sahut Rapka.
"Bagaimana dengan mu Noah?" tanya Imel penasaran.
"Entahlah, aku tidak punya rencana apa pun," sahutnya acuh seperti biasa.
"Apa kau punya rencana Yuri? bagaimana kalau kerja part-time di kafe bersamaku?" tawar Rapka berharap.
Yuri sedikit kaget mendengar tawaran Rapka, ia tak menyangka kesempatan baik itu akan datang padanya. Tapi ia sudah punya kesibukan sendiri yang sudah jauh-jauh hari ia persiapkan.
"Maaf, aku tidak bisa," sahutnya pelan dengan senyum sendu tanpa bisa menatap Rapka.
__ADS_1
"Eh kenapa? kau sudah punya rencana ya?" tanya Rapka sedikit kecewa.
Yuri mengangguk tanpa mengatakan apa rencana yang ia miliki, melihat ekspresi Yuri yang terlihat sedikit sedih tak ada yang berani bertanya rencana apa yang telah ia miliki.
"Tapi aku akan pulang sebelum malam tahun baru, apa nanti kita bisa berkumpul untuk merayakannya bersama?" tanya Yuri.
"Ide bagus, mari berkumpul di alun-alun kota!" seru Imel tak sabar.
Yuri tersenyum mendapat sambutan baik dari semuanya, itu membuat hatinya cukup lega dan tak sabar menunggu malam tahun baru.
Saat libur telah tiba ia mengatakan rencananya kepada nenek, tentu nenek tak mungkin menghalangi Yuri mengisi waktu liburnya dengan kegiatan yang ia inginkan.
Apalagi kegiatan itu adalah pulang kerumah orangtuanya, mempersiapkan hati agar lapang tetap saja saat tiba di depan pintu rumahnya air mata mengalir deras seketika.
Setiap kenangan menjadi jarum yang menusuk hatinya yang kemudian membuatnya menangis, di rumah yang luasnya tak seberapa itu meski waktu yang ia habiskan bersama orangtuanya tak banyak tapi kenangan tetap tercipta dengan jelas.
Apalagi di ruang makan dimana itu adalah tempat terakhir mereka berkumpul bersama, ada banyak diskusi dan obrolan di waktu makan yang membuat Yuri semakin merindukanmu orangtuanya.
Lelah karena perjalanan dan menangis Yuri baru pergi ke pemakaman esok harinya, ia menaruh bunga di masing-masing makan ibu dan ayahnya.
"Ini libur pertama ku di sekolah bekas ibu, semua temanku memiliki rencananya sendiri tapi kami berencana untuk menghabiskan waktu bersama di malam tahun baru. Ibu pasti senang bukan? akhirnya malam tahun baru akan ku habiskan bersama teman-teman bukan di kamar," ujar Yuri sambil menatap batu nisan.
Air matanya kembali mengalir.
"Aku berhasil, aku mendapatkan banyak teman. Apa ibu bangga padaku?" tanyanya lirih.
"Ternyata... hidup dengan memiliki teman... memang menyenangkan... kenapa... tidak dari dulu ibu menyuruhku tinggal di desa?" pertanyaan yang keluar dari mulutnya itu di sertai dengan aliran mata yang semakin deras.
Semakin ia berfikir tentang kebahagiaannya bersama teman-temannya semakin sakit hatinya mengingat kepergian orangtuanya yang mengenaskan, sampai ia sadar bahwa yang harus di salahkan sebenarnya adalah dia.
Andai dari dulu ia tak begitu pendiam, andai ia mampu melawan, andai ia sedikit memiliki keberanian. Mungkin temannya saat ini bukan Imel, Noah dan Rapka tapi kebahagiaan yang ia miliki pasti sama.
"Maafkan aku ibu, aku akan berkunjung lagi besok," ujar Yuri pelan sambil mengusap pipinya yang basah.
__ADS_1
Berjalan sempoyongan saat angin menggoyangkan tubuhnya benak Yuri yang terombang-ambing kembali utuh begitu telinganya mendengar deru mobil yang bising, tepat di bawah kakinya berpijak ada banyak kendaraan yang lalu lalang melewati jembatan itu.
Menatap kecepatan kendaraan yang masih mampu ia ikuti terbesit sebuah pertanyaan dalam benak Yuri, jika ia melompat apa ia juga akan di bawa ke rumah sakit namun tak tertolong?.