Si Pengecut Yuria

Si Pengecut Yuria
Bab 22 Jarak


__ADS_3

Padahal ia sudah minta di buatkan bekal tapi karena Imel sudah terlalu lama tidak minta ibunya malah jadi lupa, akhirnya terpaksa imel pergi ke kantin.


Dalam perjalanan ia yang sudah kelaparan membayangkan menu hari ini yang akan mengenyangkan perutnya, tapi tak di sangka yang ia lihat kemudian membuat rasa laparnya hilang.


Diantara banyaknya meja dan murid yang sedang makan matanya tertuju pada Noah dan Yuri yang sedang makan bersama, ia jelas melihat senyum Yuri yang mencerminkan kebahagiaan dan sorot mata Noah yang hangat.


Terpaku di pintu masuk ia baru sadar saat seseorang menyuruhnya untuk tidak menghalangi jalan, dengan cepat Imel pun bersembunyi di balik pot bunga besar di samping pintu.


Memperhatikan bagaimana kedua temannya mengobrol sambil makan, jika perhatikan lebih dalam Imel merasa seakan mereka sedang kencan.


"Ah benar!" gumamnya mengerti satu hal.


Kemarin Yuri tiba-tiba mengatakan tidak bisa membuat bekal, rupanya inilah alasannya. Tapi cukup mengherankan juga sebab Yuri tidak berkata terus terang, bukankah dia bisa bilang akan makan di kantin? kecuali dia ingin makan tanpa ada Imel bersamanya.


Satu pikiran terlintas cepat dalam benaknya, membuatnya mengumpulkan berbagai macam kebersamaan mereka yang bisa ia jadikan bukti.


Hingga pada akhirnya ia yakin sesuatu telah terjadi diantara Yuri dan Noah, terlalu penasaran ia bergegas kembali ke kelas hanya untuk menemui Rapka.


"Ikut aku!" ajak Imel sambil menarik tangan Rapka.


"Eh tunggu!" seru Rapka yang kaget.


Tapi ia tetap berlari mengikuti Imel, sampai akhirnya mereka tiba di atap sekolah yang sepi barulah Imel melepaskan genggaman tangannya.


"Ada apa? kenapa kau membawaku kemari?" tanya Rapka.


"Ini tentang Noah, aku ingin bertanya sesuatu padamu," ujar Imel.


Rapka terdiam dan mendengarkan ucapan Imel, tapi saat Imel mengungkapkan asumsinya tiba-tiba raut wajahnya berubah menjadi kecut.


......................


Bel hampir berbunyi yang menandakan pelajaran akan segera di mulai kembali, tapi Yuri tak melihat Imel maupun Rapka di kursinya.

__ADS_1


Mencoba memberanikan diri ia bertanya kepada teman yang duduk tepat di sampingnya.


"Ah aku lihat tadi Imel tiba-tiba datang dan mengajak Rapka pergi, keliatannya seperti ada hal yang harus mereka bicarakan berdua saja."


Jawaban itu membuat Yuri heran sekaligus penasaran, ia bertanya-tanya hal apa yang harus mereka bicarakan sampai mencari tempat sepi.


Tepat saat benaknya di penuhi dengan berbagai macam pikiran Imel dan Rapka masuk ke kelas bersama, dari raut wajah mereka sesuatu yang mengganjal seakan mengganggu.


Pulang sekolah hati kecil Yuri ingin bertanya apa yang membuat ekspresi Imel begitu keras, tapi ia tak punya keberanian untuk hal itu.


Di sepanjang latihan nampak Imel lebih pendiam dan itu membuatnya sedikit tak nyaman, bahkan hari-hari berikutnya saat ia berhenti membuat bekal seakan ada jarak diantara mereka yang membuatnya sedih.


"Kau bosan?" tanya Noah membuyarkan lamunannya pada saat makan di kantin.


"Oh tidak, setiap hari menunya beda jadi aku tidak bosan," jawabnya cepat kembali pada dunia nyata.


"Kalau begitu apa yang menggangu mu?" tanya Noah kini dengan perhatian penuh.


Melihat ekspresi Yuri tentu Noah mengerti hal yang begitu mengganggunya, ia tahu Yuri adalah gadis yang pendiam. Tapi saat Yuri diam karena suatu masalah ia benar-benar tidak menyukainya.


"Kenpa kau tidak bicara langsung padanya?" tanya Noah.


"I-itu tidak mungkin, lagi pula apa yang harus aku katakan?" sergah Yuri.


"Tapi kau tidak tahan kan?" tebak Noah yang tepat sasaran.


Menghembuskan nafas panjang Noah kemudian menatap Yuri yang sebenarnya tidak berubah sama sekali kecuali rambutnya.


"Jika kau hanya bertanya dalam benakmu jarak itu akan semakin melebar, tapi jika kau memilih untuk mengatakannya hanya akan ada dua kemungkinan. Jarak itu menghilang atau justru jarak itu berubah menjadi tembok pemisah," ujar Noah.


Butuh waktu bagi Yuri untuk mengerti maksud Noah, sama seperti nasihat nenek waktu itu. Tapi setidaknya kini Yuri tak perlu menghabiskan waktu berhari-hari untuk mengerti, setelah pulang sekolah sebelum latihan di mulai ia berencana untuk mengajak Imel bicara.


Ia meminta waktu kepada Imel sambil mengisi air botol, tentu Imel sedikit terkejut sebab melihat raut wajah Yuri yang serius membuatnya berfikir macam-macam.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Imel mengawali pembicaraan empat mata itu.


Yuri perlu mengambil nafas dalam-dalam sebelum kemudian ia menatap Imel tanpa rasa gugup.


"Apa aku melakukan kesalahan? apa kau marah padaku?" tanya Yuri sekonyong-konyong.


"T-tidak," sahut Imel kaget mendengar suara Yuri yang tegas.


"Lalu kenapa kau menjauhi ku?" tanya Yuri lagi kini dengan perasaan meledak.


Tentu Imel seketika sadar akan masalah yang memang tengah ia rasakan juga, setelah memergoki Yuri dan Noah makan bersama sejak hari itu ia tak ingin menganggu Yuri lagi.


Melihat wajah bahagia Yuri ia merasa selama ini telah merepotkan meski berkali-kali Yuri mengatakan ia senang bersama Imel, tetap saja ia merasa tak enak.


"Aku tidak menjauhimu," sahut Imel dengan senyum tipis.


"Tapi... " Yuri ingin menjelaskan bagaimana perasaannya namun ia tak mendapatkan kata-kata yang tepat.


"Mungkin karena satu kebiasaan kita yang berubah jadi terasa sedikit aneh, kita biasa makan siang bersama dan sekarang sudah tidak jadi aku mengerti perasaan mu."


"Kalau begitu mari makan siang bersama lagi," ajak Yuri yang enggan jarak itu menjadi tembok pemisah.


"T-tapi... " ujar Imel ragu sebab ia tak mau mengganggu waktu Yuri dan Noah saat bersama.


"Setiap hari aku di kantin dengan Noah, kau bisa ikut bergabung dengan kami dan kita bisa makan bersama. Ketimbang makan berdua aku rasa lebih seru jika makan dengan banyak orang," ucap Yuri.


"Apa tidak masalah?" tanya Imel hati-hati.


"Aku.... sudah terbiasa makan bersama mu, menghabiskan waktu bersama mu. Jadi jika berpisah sedikit lebih lama itu sangat tidak menyenangkan," akui Yuri.


Imel tak tahu mengapa dimata Yuri ia seakan berharga, padahal dirinya hanyalah penggaggu tapi Yuri selalu bersikap seakan membutuhkannya. Sikap itu sangat alami yang membuatnya semakin tidak ingin merepotkan Yuri, dengan senyum penuh syukur akhirnya Imel mengangguk.


Esoknya tanpa pemberitahuan Yuri dan Imel datang membawa nampan masing-masing dan duduk tepat di hadapan Noah, membuat pemuda dingin itu mendengus kesal sebab ketenangannya kini terganggu.

__ADS_1


__ADS_2