
Yuri memarkirkan sepedanya di tempat biasa, saat ia hendak pergi Rapka datang mengayuh sepedanya. Bukannya senyum sapaan yang Yuri berikan tapi sebuah tatapan tanda tanya, matanya tertuju pada lebam di sudut bibir Rapka yang membiru.
"Kau... baik-baik saja?" tanya Yuri.
"Hah? oh... ya.. " sahut Rapka yang sadar mengapa Yuri bertanya.
Yuri tak percaya begitu saja, ia pernah mendapat luka yang persis seperti itu dari pembullynya dulu dan rasanya sangat sakit untuk beberapa hari.
Namun tak dapat yang Yuri lakukan kecuali menatap, bahkan saat Imel yang bertanya Rapka benar-benar bungkam mulut.
"Aku rasa dia habis berkelahi," bisik Imel pada Yuri.
"Sepertinya begitu," sahut Yuri setuju.
"Mungkin kita bisa tahu jawabannya dari Noah," harap Imel.
Tapi begitu Noah datang justru mereka melihat lebam juga di wajah Noah, terdapat pada ujung pelipisnya yang membiru. Ini membuat Yuri dan Imel saling menatap panjang, tanpa berkata mereka bisa membaca isi pikiran masing-masing.
Saat jam istirahat Imel tak ikut makan di kantin sebab ia hendak bersama Rapka, Yuri tentu mengerti. Imel pasti khawatir pada keadaan Rapka dan sama sepertinya ingin mengetahui apa yang terjadi pada kedua temannya itu.
Sepanjang makan siang Yuri sekali-kali menatap Noah, ingin bertanya tapi bingung harus mulai dari mana.
"Berhenti mencuri pandang seperti itu, aku memang terlibat perkelahian dengan Rapka tapi kami baik-baik saja," ujar Noah yang sudah bisa membaca isi pikiran Yuri.
"Oh, begitu.. " sahut Yuri yang sebenarnya tidak puas.
Ia pun berhenti menatap Noah seperti yang di perintahkan dan mulai makan dengan tenang, sementara Imel terus mendesak Rapka agar buka mulut.
"Ini hanya salah paham," sahut Rapka yang enggan mengatakan kebenarannya.
"Sungguh? tapi kalian bersikap tidak biasa," ujar Imel tak mau menyerah.
Tentu saja Rapka tak bisa bersikap normal setelah apa yang terjadi kemarin, saat mereka pulang sekolah seperti biasa Rapka yang ingat obrolan dirinya dengan Imel tentang Noah akhirnya buka suara.
"Seharusnya kau bilang yang sebenarnya, kenapa harus berbohong?" tanyanya murung.
__ADS_1
"Apa maksud mu?" balas Noah tak mengerti.
Hari itu saat Imel memergoki Noah makan berdua dengan Yuri ia segera mengajak Rapka bicara, Imel menduga mereka memiliki hubungan dan sedang mencoba menyembunyikannya dari mereka.
Mengetahui hal itu sebenarnya Rapka sedikit murung, diam-diam dia menyukai Yuri meski rasa itu belum menjadi sesuatu yang lebih.
Kini mengetahui Noah mengantar Yuri pulang entah mengapa ia merasa di khianati, ia kurang suka pada sikap Noah yang bertindak di belakangnya.
"Kalian sudah berapa lama berhubungan?" tanya Rapka kemudian.
"Siapa?" tanya Noah yang benar-benar tidak mengerti.
"Aku membicarakan mu dengan Yuri!" tegas Rapka.
Noah berhenti melangkah, ia menatap Rapka dengan raut wajah kesal. Selama ini ia bagai buku diary yang mengetahui isi hati Yuri meski tak Yuri ceritakan dengan benar, ia tahu sebenarnya Yuri menyukai Rapka dan alasan Yuri memotong rambutnya adalah karena ia ingin melupakan cintanya pada Rapka yang bertepuk sebelah tangan.
Yang membuatnya kesal adalah Rapka sama sekali tidak sadar akan semua tingkah Yuri yang sebenarnya selalu mencari perhatian Rapka, ia kesal karena Rapka begitu tidak peka padahal ia langsung mengerti hanya dengan melihat cara Yuri memandang.
"Kami tidak memiliki hubungan seperti yang kau pikirkan," ujar Noah dingin.
"Kenapa kau masih berbohong? jika tidak memiliki hubungan kenapa kalian begitu dekat? kalian selalu bersama sampai kemarin kau mengantarnya pulang tanpa memberitahu ku," ucap Rapka meradang.
"I-itu.... aku hanya... ingin bertanya saja," sahut Rapka bingung.
Jika memang mereka pacaran tentu Rapka tak bisa berbuat apa pun kecuali mendukung sebagai teman yang baik, tapi Noah justru membenci hal itu karena memang mereka tak memiliki hubungan selain dari teman.
Buk
Satu pukulan tiba-tiba mengenai pipi Rapka, membuatnya terhuyung jatuh dengan sudut bibir yang mengeluarkan darah. Terpaku karena kaget Rapka menatap sepasang mata Noah yang nyala oleh api kebencian.
"Noah... kenapa?" tanyanya pelan.
"Aku tidak suka orang yang setengah hati seperti mu," jawab Noah dingin.
Butuh waktu bagi Rapka untuk mengerti, ia lupa bahwa Noah adalah orang yang mudah membaca isi pikiran orang lain. Pasti Noah sudah tahu bahwa dia menyukai Yuri dan membenci perasaannya itu, tapi mau bagaimana lagi? ia kalah saing dengan sahabatnya sendiri.
__ADS_1
"Apa kau akan diam saja? pengecut sekali," olok Noah.
Buk
Satu pukulan cepat itu mengenai pelipis Noah, membuat matanya berkunang-kunang hingga jatuh karena pusing.
"Itu balasan untuk pukulan mu tadi," ujar Rapka datar.
Ia menatap Noah yang masih terduduk di trotoar, untuk beberapa saat mereka hanya saling memberi tatapan tajam sampai akhirnya Rapka memutuskan pergi dengan mengayuh sepedanya.
Sejak perkelahian itu sepanjang malam Rapka tak bisa tidur, ia tak tahu harus bersikap bagaimana baik kepada Noah ataupun Yuri. Hingga akhirnya ia bertemu dengan mereka tak ada yang bisa ia lakukan kecuali diam.
"Jam istirahat sudah habis, ayo masuk!" ajak Imel yang akhirnya menyerah.
Meski masih khawatir tapi ia mencoba percaya kedua sahabat itu akan berbaikan lagi, masuk ke dalam kelas pelajaran segera di mulai tak lama kemudian.
Seorang guru datang memberi tugas kelompok, satu kelompok berisi empat orang dan murid bisa memilih dengan bebas siapa teman kelompok mereka.
Yuri dan Imel yang sudah satu pikiran segera menggeser kursi dan meja mereka ke arah Rapka dan Noah, tanpa ijin kedua pria itu mereka menggabungkan meja menjadi satu dan mulai membentuk kelompok.
Rapka yang tak ada pilihan terpaksa ikut, sementara Noah yang tak peduli hanya diam memperhatikan.
"Akan ku tulis nama kelompoknya," ujar Yuri mengambil secarik kertas dan mulai menulis nama mereka berempat.
"Siapa yang akan menjadi ketua kelompok?" tanya Imel.
Mereka saling menatap, Rapka memiliki sifat ceria dan mudah bergaul yang membuatnya cocok sebagai ketua. Tapi aura kharismatik yang di pancarkan Noah tak kalah bagusnya sehingga ia juga cocok menjadi ketua, tak dapat memilih antara kedua pria itu Yuri menunjuk Imel.
"Kau ketuanya," ujarnya.
"Hah? kenapa aku?" tanya Imel.
"Karena kau cerewet hehe," sahut Yuri sambil tertawa.
Fuhh hahahahhahaha
__ADS_1
"Benar juga," balas Imel yang tak bisa menahan geli.
Tawanya yang tak bisa berhenti akhirnya membuat Rapka ikut tertawa juga, Noah pun ikut tersenyum melihat tingkah bodoh Imel. Akhirnya suasana yang tadinya tegang dapat mencair, membuat Yuri bersyukur selalu berteman dengan Imel yang dapat di andalkan.