
Bab 36
Mendengar perkataan Nyonya Grifin, maka kedua nya pun terdiam. Sean menatap istri nya tanpa berkedip. Dia merasa seperti nya baru saja melihat objek indah keluar dari lukisan.
"Tuan Smith," ujar Nyonya Griffin.
"Ah iya?" Jawab Sean yang baru saja lamunan nya terbuyarkan.
"Bisakah berdiri di sisi Charlotte!" pinta Nyonya Grifin.
Sean pun berjalan ke arah Charlotte, tidak bisa dipungkiri jika mereka terlihat sangat cocok mengenakan setelan pakian yang dibuat oleh Nyonya Grifin.
"Benar-benar cocok, seperti memang dibuat untuk kalian berdua," puji Nyonya Grifin.
Charlotte menoleh ke arah lain, daun telinga nya memerah karena merasa malu-malu. Sean melihat ini, dia pun tersenyum samar.
Melihat jika nenek nya sudah memutuskan, maka willy hanya bisa mematuhi nya, "Ok, aku ingin kalian berlatih berjalan sebentar sebelum benar-benar berjalan di panggung utama," ujar Willy.
__ADS_1
"Ok," jawab Sean di ikuti oleh anggukan kepala Charlotte.
"Kau, rangkulah lengan Tuan Smith!" perintah Willy.
Charlotte melihat kepada Sean, yang sudah memberikan lengan nya untuk di rangkul. Dia pun merangkul lengan Sean, lalu mereka berdua berjalan bersama. Alunan langkan kedua nya begitu sempurna, bahasa tubuh mereka terlihat jika mereka seperti sudah terbiasa satu sama lain.
"Ok, sudan bagus!" puji Willy seraya memberikan arahan ketika nanti melepas rangkulan dan saat nya berjalan sendiri-sendiri.
Sean menyimak dengan serius, ketika mengambil pekerjaan ini dia benar-benar serius akan mengerjakan nya. Untuk pembukaan pertama, akan ada model-model dari Willy yang akan memeragakan busana buatan nya. Setelah itu barulah giliran Charlotte dan Sean.
Mereka berdua duduk di balik panggung, saling berdiam diri menunggu giliran tiba. Sedikit-sedikit Sean melirik pada Charlotte. Merasa tidak biasa, maka istri nya itu mengibaskan kipas untuk menutup wajah nya.
"Apa kau baru saja kembali?" tanya Charlotte.
"Iya baru saja, lalu aku melihat surat undangan mu tentang acara ini. Karena itu aku bergegas datang," jawab Abraham.
"Surat undangan," pikir Sean yang tiba-tiba merasa masam di hati, karena jika bukan Alfred yang datang, maka dia malam ini tidak akan datang karena tidak di undang.
__ADS_1
"Kau sungguh cantik sekali," puji kagum Abraham.
Lagi-lagi sean merasa masam di hati, karena jelas-jelas charlotte adalah istrinya, tapi malah telinga nya harus mendengarkan pujian dari pria lain kepada istri nya itu.
Sean pun berdiri, lalu menghampiri seraya berkata, "Apa sudah selesai?"
Abraham menoleh, "Tuan Smith," sapa nya.
"Maaf, kami harus bergegas. Jadi tidak bisa mengobrol lebih banyak lagi," ujar Sean seraya menarik tangan Charlotte.
"Nanti telpon aku, ok," ujar Charlotte.
Mendengar hal itu, Sean langsung mengencangkan genggaman tangan nya pada tangan Charlotte. Telinga nya terasa terganggu dengan perkataan Charlotte tadi. Dia pum berdiri menunggu giliran dengan berwajah masam. Meski begitu, itu tidak mengurangi ketampanan di wajah nya.
Willy menghampiri mereka berdua, "Saat nya tiba ... dan kau, cobalah untuk tersenyum!" ujar Willy kepada Sean.
Sean pun sedikit menekuk lengan nya, lalu Charlotte merangkul nya. Lampu di aula pergelaran padam, hanya menyisakan sedikit lampu yang menyala, sehingga cahaya temaran berwarna oranye memenuhi aula pergelaran itu.
__ADS_1
Sean dan Charlotte pun melangkah, lampu sorot langsung saja menuju kepada pasangan sensasional di malam ini.
Beberapa tamu pun berbisik-bisik, "Bukankah itu Sean Smith."