SILAKAN PERGI SUAMIKU

SILAKAN PERGI SUAMIKU
SILAKAN PERGI SUAMI-KU


__ADS_3

Papa beruang pun memberikan pelukan hangat untuk Charlotte, "Semua akan baik-baik saja," ujar nya seraya menepuk-nepuk punggung Charlotte.


Charlotte segera meminta bantuan Diana untuk menjual hotel nya, "Apa! Kau akan pergi?" tanya Diana.


"Kau ada di mana sekarang?" tanya Diana lagi.


"Di hotel," jawab Charlotte.


"Tunggu aku di sana?" Ujar Diana.


Mendengar teman nya itu akan pergi, maka dia pun segera melajukan mobil nya dengan kencang. Begitu sampai dia pun langsung menerabas masuk, "Ada apa ini, menjual hotel lalu pergi?"


Charlotte tidak menjawab perkataan Diana, dia hanya tersenyum dan memberikan sebuah amplop berlogo rumah sakit, "Apa ini?" tanya Diana.


"Bukalah?" Jawab Charlotte.


Diana pun membuka nya, lalu dia langsung menutup mulut nya karena terkejut, "Benarkah ini?" tanya nya dengan sedikit tidak percaya.


"Iya, ia ada di sini, sedang bertumbuh," jawab charlotte.


Kedua mata Diana langsung saja berkaca-kaca, dia pun menundukan kepala nya seraya berkata, "Halo, aku adalah Tante Diana?"


"Aku adalah Ibu baptis mu kelak nanti," ujar Diana lagi.


Diana melihat kepada Charlotte lagi, "Apa sudah memiliki tempat yang dituju?"


"Sudah," jawab Charlotte.


"Aku harus segera pergi dari sini, sebelum Sean menyadari jika aku hamil."


"Menjual hotel ini adalah cara yang terbaik," imbuh Charlotte lagi.


Diana tahu jika hati kawan baik nya itu saat ini tengah hancur, ini adalah warisan indah yang ibu nya tinggalkan untuk Charlotte. Tapi, malah harus menjual nya.


"Oh sayang, kita pasti akan mendapatkan jalan keluar," ujar Diana membesarkan hati Charlotte.


"Aku tidak ingin Sean tahu, jika aku ingin menjual hotel ini," apa kau bisa membantu ku?"


"Emm ... biarkan aku memikirkan sebuah cara," jawan Diana.


"Terbaik, kau memang pantas menjadi ibu baptis bayi ku," puji Charlotte.


Hari dan minggu berlalu, Charlotte agak kesulitan menawarkan hotel nya dengan cara diam-diam. Dia pun merasa sedikit frustasi. Diana pun sama putus asa nya juga, satu bulan berlalu. Kandungan Charlotte sebentar lagi akan terlihat.


Pada saat ini dia juga bersyukur, jika Sean pergi melakukan perjalanan bisnis selama berbulan-bulan. Sehingga Charlotte lebih mudah di dalam menyembunyikan kehamilan nya.


Diana pun terpikirkan satu cara, dia pun melajukan mobil nya ke tempat orang yang pasti mau membeli Quaint Hotel.


"Papa," sapa Diana.


Tuan Harold melepas kacamatanya, lalu berkata, "Apa sudah berubah pikiran?"


"Wah, Papa hebat sekali?" jawab Diana.


"Apa ada syarat nya?" tanya Tuan Harold lagi.


"Wah papa ku ini memang benar-benar hebat," puji Diana sekali lagi.

__ADS_1


"Papa ini pebisnis, setiap kesepakatan pasti ada syarat," ujar Tuan Harold.


"Katakan apa syarat mu?" ujar Tuan Harold lagi.


"Emm ..." ujar Diana seraya memeluk Papa nya dari belakang kursi.


"Aku ingin Papa membeli Quaint hotel," jawab Diana.


"Bukankah itu sudah akan bangkrut?" tanya Tuan Harold.


"Ih mana ada, papa ini mengapa sembarangan sekali mendengar gosip," ujar Protes Diana.


Sebelum datang Diana sudah mempersiapakan data-data lengkap. Mengenal bagaimana Papa nya itu, maka dia pun sudah menyiapkan semua ini, "Papa Lihat saja, ini adalah acara-acara yang akan diadakan di sana dalam rentang waktu enam bulan ke depan."


Tuan Harold membaca nya, sedikit menaikan alis nya berpikir, jika dalam satu bulan, hampir setiap hari ada acara di sana.


"Bagaimana?" tanya Diana.


Tuan Harold berpikir seperti nya tidak akan rugi jika membeli hotel itu. Di tambah jika membeli nya maka putri satu-satu nya ini akan bersedia menjalani bisnis keluarga yang selama ini mati-matian dia tolak. Karena lebih memilih menjadi seniman, menjadi pelukis.


Tuan Harold pun menjawab, "Oke."


"Sepakat," jawab Diana dengan senang.


Diana juga memberi syarat, agar pembayaran segera dilakukan dan surat-surat menyusul untuk pengurusan nya. Setelah mencapai kesepakatan dengan Papa nya itu, dia pun segera saja menghubungi Charlotte.


"Aku sudah menemukan pembeli," ujar Diana.


"Benarkah, Siapa?" tanya Charlotte penasaran.


"Tuan Harold," jawan Diana.


"Iya Papa aku," jawab Diana.


"Apa yang kau tukar?" tanya Charlotte.


Diana pum terdiam, lalu menjawab, "Sudahlah, itu tidak penting," jawab Diana.


"Apa kau menukarnya dengan cita-cita mu?" tanya Charlotte.


"Itu hanyalah cita-cita, aku masih bisa melukis jika waktu senggang," jawan Diana.


"Nyawa yang bertumbuh di rahim mu, lebih penting. Itu adalah sebuah masa depan," jawab Diana.


"Oh sayang ku, kau begitu baik kepada kami. Bagaimana cara kami membalas nya?" ujar Charlotte dengan terharu.


"Jalani hidup dengan bahagia, saja" jawab Diana.


Charlotte benar-benar terharu, dan Tuan Harold pun dengan cepat membayar pembeliam hotel itu.


Charlotte pun segera mempersiapkan kepergian nya. Dia segera melunasi hutang-hutang nya di bank, lalu mengurus surat gugatan cerai. Menunjuk seorang pengacara untuk mengurus segala nya.


Di Finlandia Sean mendengar jika Charlotte sudah berhasil melunasi semua hutang-hutang nya di bank. Merasa sudah cukup lama dia berada di Finlandia maka dia meminta Enzo untuk mengurus kepulangan mereka.


Pada saat ini, Charlotte pergi ke sebuah bukit, di sana terdapat pohon Oak yang besar. Dia melihat ada terukir nama Sean di sana, dia lalu berkata, "Kita beri salam perpisahan dengan Papa."


Charlotte mengukir nama nya di pohon Oak itu, mengukir di sebelah nama Sean. Dia tersenyum lalu berkata lagi, "Silakan pergi suami-ku."

__ADS_1


Di dalam mobil Alfred telah menunggu, Charlotte masuk ke dalam mobil, "Ayo kita pergi, Ayah," ujar Charlotte yang telah mengubah nama belakang nya mengkuti nama belakang Alfred.


Hari ini mereka akan terbang ke Finlandia. Sebelum pergi, Charlotte menghubungi Diana, "Sedang sangat sibuk ya?"


"Janji jalani hidup dengan baik di sana, ok," Jawab Diana.


"Jika senggang, aku akan datang mencarimu," jawab Diana.


"Ok," jawab Charlotte dengan suara sedikit tercekat.


Diana tidak bisa mengantar kepergian Charlotte, karena memang sangat sibuk. Dia harus mengurus perusahaan keluarga dan juga Quaint hotel. Papa beruang merasa senang jika Diana adalah orang yang membeli hotel ini.


Pada saat Charlotte telah pergi, Sean pun tiba. Dia segera kembali ke rumah, hatinya antara sabar dan tidak sabar umtuk segera masuk ke rumah. Dia melihat ke sekeliling rumah merasa aneh, seperti ada yang baru saja menghilang. Dia pun segera pergi ke kamar Charlotte.


Dia pergi memeriksa lemari, sedikit melega melihat jika baju-baju Charlotte masih ada di dalam lemari. Begitu juga dengan koper nya. Dia pun berjalan pelan masuk ke kamar nya.


Dia duduk di ranjang lalu mengendurkan dasi nya, baru saja membuka kancing lengan kemeja nya, dia melihat ada sebuah amplop surat.


Sean membuka dan membacanya, itu adalah surat gugatan cerai, "Dia menggugat cerai aku," pikir nya.


Dia pun langsung pergi ke Quaint hotel untuk menemui Charlotte, melihat ada Papa Beruang, Sean langsung saja berkata, "Di Mana dia, aku ingin bertemu dia."


"Bertemu siapa?" tanya sopan Papa Beruang.


"Charlotte," jawab Sean.


"Mohon maaf seperti nya tidak bisa," jawab Papa Beruang.


"Kenapa tidak bisa, apa dia tidak ingin menemui ku?" tanya Sean.


"Karena dia sudah tidak ada di sini," jelas Papa Beruang lagi.


"Apa maksud mu?" tanya Sean lagi.


"Dia telah menjual hotel ini," jawab Papa Beruang.


Sean tidak percaya dengan apa yang di katakan Papa Beruang, malah dia membuat keributan di sana, berteriak memanggil nama Charlotte berkali-kali agar segera keluar pergi menemui nya.


Pada saat ini Diana datang, menarik bahu Sean lalu menampar nya, "Kau mau pergi, atau mau aku tampar lagi?"


Melihat jika itu adalah Diana, teman baik Charlotte maka dia pun langsung bertanya, "Di mana dia?"


"Sedang menuju ke kehidupan bahagia nya, dan yang pasti tanpa ada diri mu di dalam nya," jawab sarkas Diana.


"Apa maksud mu?" tanya sean lagi.


"Dia sudah mempersilakan kau pergi, Tuan Smith yang terhormat," jawab Diana.


"Dan, aku juga mempersilakan kau pergi dari sini!" ujar Diana dengan nada marah.


"Kau tidak akan bisa menemukan nya, karena saat ini dia sudah terbang di langit." Jawab Diana lagi.


Sean pun pergi meninggalkan hotel dengan hati yang marah, "Berani-berani nya dia menggugat cerai!"


Dia pun segera menghubungi pengacara nya untuk mencari tahu siapa pengacara yang mewakili Charlotte.


Sean melajukan mobil nye ke bandara dengan kencang, sesampai nya di sana, dia memarkir mobil nya dengan sembarangan. Lalu berlari tuk segera masuk ke bandara, tapi malah sial dia tertabrak mobil. Dia mencoba bangkit herdiri, tangan nya memegang kening nya yang terasa basah.

__ADS_1


"Tuan kau berdarah," ujar salah satu petugas.


Sean mengabaikan petugas keamanan itu, dan berusaha menerabas masuk lagi. Berjalan terhuyung, lalu terjatuh dan malah pingsan.


__ADS_2