SILAKAN PERGI SUAMIKU

SILAKAN PERGI SUAMIKU
INI AKAN MENJADI KAMAR KITA


__ADS_3

BAB 45


Sean tiba di hotel grup Smith, meski sepanjang malam tidur dengan tidak proposional, posisi yang tidak nyaman. Tapi , pagi ini wajahnya malah terlihat bersinar. Enzo menunggu Sean di lobi, dia bersedekap tangan ketika melihat Sean masuk ke dalam lobi.


"Ini kertas pidatomu, baca dengan baik!" perintah Enzo seperti seorang dosen.


Sean mengambilnya, membaca sekilas lalu dengan tersenyum, "Ok, aku sudah paham."


Sean malah mengembalikan berkas pidato itu, dan berlalu pergi begitu saja. Enzo pun sedikit berteriak, "Hei, kau mau ke mana?"


"Tentu saja mandi, dan bersiap pidato," jawab Sean dengan bersamangat.


Dikamar presidential suite, Sean nampak sedang mematut-matut dirinya di depan kaca, "Nah, tampan. Sudah tampan."


Sore ini adalah hari peresmian hotel baru milik Sean. Enzo merasa khawatir jika Sean lupa akan isi pidatonya karena hanya membacanya sekilas. Sementara itu Tuan Hook datang ke rumah Charlotte, Karena mendapat kabar jika seluruh bunga di hotel Smith akan dipasok oleh Tuan Hook, sebagai vendor utama pemasok bunga.


Tuan Hook sudah rapih dengan setelan jas nya. Datang ke rumah Charlotte, "Ini aku bawakan gaun yang indah untukmu," ujar Tuan Hook.


Dengan senyuman canggung, Charlotte sambil berpikir, bagaimana caranya menolak untuk pergi. Tuan Hook sangat bersemangat, "Kau benar-benae dewi keberuntungab bagi kami."


"Jadi jangan bilang kau tidak ingin pergi," ujar Tuan Hook.


Charlotte memandang ke arah Alfred, merasa tidak enak hati karena mereka sudah sangat baik kepadanya, menemani dan menghibur dirinya ketika patah hati. Pada akhirnya Charlotte setuju untuk ikut pergi.


Gaun yang Tuan Hook belikan sangat pas ditubuh Charlotte yang sedang hamil. Sean telah menyediakan kursi VVIP bagi Tuan Hook.


Asisten Enzo menyambut tamu agung itu, lalu mengantarkan ke kursi VVIP mereka. Baru saja duduk, manajer hotel membawakan hidangan pembuka khusus untuk Charlotte.


"Nyonya sedang hamil, pasti sedikit-sedikit merasa lapar, jadi kami akan sangat memperhatikan ini," ujar si manajer hotel.


Charlotte pun mengangguk, makanan yang diberikan kepada Charlotte, dibuat dengan susunan gizi dari ahli gizi. Sean memperhatikan dari salah satu sudut. Merasa bahagia, karena Charlotte tidak menolak pengaturan dari dia tentang perlakuan istimewa itu, malah melahap semua makanan yang diberikan.


Acara pun dimulai, saatnya sean memberikan pidato. Dia pun naik ke atas panggung dan memulai pidatonya. Sean memandang kepada Charlotte yang sedang menikmati es krim.

__ADS_1


Dipandangi dengan tatapan mendalam dari sean, Charlotte menundukan kepalanya. Sean pun berkata, "Menjalani kehidupan bukanlah sesuatu yang mudah. Ada beragam masalah atau persoalan hidup yang harus dihadapi setiap harinya. Oleh karena itu, seseorang akan selalu membutuhkan semangat agar tidak mudah putus asa dan selalu optimis bahwa hari esok akan menjadi hari yang lebih indah."


"Sebelumnya aku adalah orang yang pesimis, sampai akhirnya datanglah seseorang yang menarikku dari segala kekhawatiran dan ketakutanku."


"Aku hanya ingin bilang, kau sangat keren. Terima kasih karena telah hadir dalam hidupku. A-aku menyukaimu sudah sangat lama," ujar Sean menutup pidatonya sambil tersenyum karena melihat Charlotte yang salah tingkah.


Enzo menepuk keningnya berkali-kali, pidato yang Sean bawakan sungguh jauh dari teks pidato yang telah di susun. Tapi, malah mendapatkam tepuk tangan yang meriah.


Enzo yang tadi ingin marah, akhirnya tidak jadi marah. Sean menyudahi pidatonya acara pun dilanjutkan. Charlotte pergi ke taman yang ada di hotel untuk menghirup udara segar.


Sean berjalan mengikuti seraya membuka jas tuxedo nya. Dia pun memakaikan itu ke tubuh Charlotte, "Angin malam tidak baik untuk tubuhmu dan juga bayi kita."


Charlotte berhenti melangkah, memandang jas yang menutupi tubuhnya, dia pun melepaskannya dan memberikan kepada Sean.


"Aku benar-benar tidak memahami mu," ujar Charlotte.


"Bukankah ini yang kau mau? Bercerai?" ujar Charlotte.


"Kau bisa mencari wanita lain. Tapi bukan aku!" ujar Charlotte.


"Jika kau tidak bersedia, lalu mengapa kau menulis nama mu di samping nama ku?" taya Sean.


"Nama di pohon Oak," pikir Charlotte dengan ekspresi wajah yang terkejut.


"K-kau ..." ujar Charlotee terbata.


"Kau bersedia menikah denganku kan, aku sangat bahagia," ujar Sean seraya memegang kedua tangan istrinya itu.


Charlotte menghempaskan tangan sean, "Apa kau lupa jika kita sudah menikah, dan akan segera bercerai."


"Jadi Tuan Smith, silakan pergi," ujar Charlotte seraya pergi meninggalkan Sean.


Pria itu tidak ingin kehilangan Charlotte lagi, lalu dia pun berkata, "Kita akan segera pulang, bersiaplah."

__ADS_1


Charlotte menoleh, dia melihat Sean melangkah pergi, dia pun terduduk lemas di bangku taman, "Lihatlah bagaimana Papa mu, dia pasti akan melakukan cara apa pun untuk membawa kita pulang."


Di kamar presedential suite, Sean memanggil Enzo, "Kita segera pulang, Charlotte dan bayiku juga akan ikut pulang."


"Apa dia bersedia pulang?" tanya Enzo.


"Jika tidak beesedia, maka cari cara agar dia bersedia!" perintah Sean.


"Ok!" ujar Enzo.


Sean duduk di sofa seraya memijit-mijit pelipisnya, memikirkan penolakan dari Charlotte membuat hatinya benar-benar tidak bersemangat.


"Seribu kali kau menolak, seribu kali juga aku akan mengejar mu," ujar Sean dalam hati.


Beberapa hari kemudian, Enzo benar-benar menjalankan perintah Sean. Ketika naik ke pesawat, Sean dibuat terkejut. Tuan Alfred dan Charlotte sedang terlelap dikursi.


"Kau ..." baru saja Sean ingin marah. Tapi Enzo langsung saja menyelak perkataan kawan baiknya itu, "Kau bilang apa pun cara nya."


Sebelum Sean berbicara lagi Enzo langsung saja berkata, "Tenang, sebelumnya aku sudah berkonsultasi dengan dokter."


Sean pun terdiam lalu dia duduk di sisi Charlotte, membenarkan selimutnya lalu mencium kening istrinya itu seraya mengucapkan, "Selamat datang kembali, Nyonya Smith."


Enzo membawa Alfred, karena tahu pria tua itu begitu penting bagi Nyonya Smith. Dan alasan lain karena agar Charlotte tidak sepenuhnya marah kepada dirinya itu.


Sean mengatur Charlotte dan Alfred untuk tinggal di Mansion keluarga Brown yang telah berpindah tangan kepadanya. Ketika sampai, Sean menggendong Charlotte, membawanya ke kamar utama.


Sean merebahkan tubuh Charlotte di ranjang besar milik mereka, "Ini akan menjadi kamar kita. Kedepannya kita akan tinggal di sini," ujar Sean sembari menyelipkan rambut Charlotte ke balik daun telinga.


Alfred terbangun di kamar yang tidak asing, "I-ini di mansion Brown!" ujarnya terkejut.


Alfred langsung saja membuka pintu kamarnya, berniat keluar mencari Charlotte. Tapi sudah disambut oleh pengawal yang berdiri di depan kamarnya.


"Tuan Alfred, mari aku antar untuk bertemu tuanku!" ujar si pengawal itu.

__ADS_1


__ADS_2