
bab 57
“kau ini, mendengarkan aku tidak?” tanya Charlotte yang melihat Sean hanya diam dan sebentar-sebentar malah tersenyum ketika sedang dimarahi.
Lalu sean malah berkata, “kenapa berhenti mengomel?”
“Hah! Apa?” pikir Charlotte yang melihat sepertinya Sean malah lebih senang jika dimarahi.
“Iya, marahi aku lagi, mengapa hanya sebentar marahnya?” imbuh Sean.
“Kau ini, benar-benar sudah kerasukan hantu,” ujar Charlotte dengan ketus seraya beranjak pergi.
“Berdekatan dengan dia terus, bisa-bisa hari kelahiran bayi ini jadi akan lebih cepat datang,” gumam pelan charlotte lagi sambil menuju pergi ke taman untuk menenangkan diri.
Sean keluar dari ruang keluarga, baru saja ingin melangkah keluar menyusul Charlotte ke taman, dapi dia berpasasan dengan Alfred yang langsung menggelengkan kepalanya kepada Sean, memberi tanda agar Sean tidak mengikuti istrinya ke taman.
__ADS_1
Sean pun menuruti saran Alfred. Charlotte mengambil ponsel dari balik saku cardigans-nya, “Halo,” sapanya kepada Diana.
“Kau ada di mana?” tanya Diana langsung tanpa basa-basi.
“Di Mansion,” jawab Charlotte.
“Mansion mana?” tanya Diana lagi.
“Tentu saja Mansion Brown,” jawab Charlotte lagi.
“Apa? saat ini kau ada di sini?” tanya Diana lagi.
“Ok, aku akan datang ke sana,” jawab Diana.
Pada saat ini Diana sedang bersama Abraham, karena dia sedang berada di klinik Abraham, membawa kucing perliharaan yang sedang sakit, “Apakah itu Charlotte?” tanya Abraham.
__ADS_1
“Iya,” jawab Diana dengan terburu-buru masuk ke dalam mobil.
Abraham malah ikut masuk dan duduk disebelah Diana seraya berkata, “Aku ikut.”
Diana menghela napas, lalu melajukan mobilnya menuju mansion Brown. Sementara itu, Katie saat ini sedang berada di gedung apartemen yang berada di daerah yang sedikit kumuh, yang ada tak jauh dari pemukiman mewah. Tempat ini masuk dalam daerah pusat berkembangnya perusahaan-perusahaan raksasa teknologi.
The Jungle adalah sebutan untuk apartemen ini, mereka yang tinggal di sini datang dari berbagai latar belakang. Ada seorang tukang kayu, tukang bangunan, dan ada pula seorang pengusaha yang jatuh bankrut lalu pindah hidup di sana.
Katie berjalan dengan menggunakan masker dobel, merasa tidak tahan dengan udara yang ada di sekitranya. Dia masuk lift, tangannya yang memakai sarung tangan menekan angka 3. Lift itu pun mulai bergerak naik. Sampai di lantai 3, katie berjalan ke salah satu pintu bernomor 303, lalu menekan bel pintu itu, pintu pun terbuka. Seorang pria yang seumuran dengannya membukakan pintu seraya menyerahkan boneka bebek dari karet. Katie tersenyum sedikit sinis sambil mengambil bebek karet tersebut, “Oh, lihatlah kau begitu manis, jika patuh maka aku akan membelikan banyak mainan lagi,” janji katie kepada pria muda tersebut seraya menutup pintu unit apartemen itu.
Diana dan Abraham pun tiba di Mansion Brown, Charlotte tengah menunggu mereka di teras depan. Abraham langsung saja turun ketika melihat Charlotte sedang duduk menunggu mereka, dia setengah berlari menghampiri Cherlotte, “K-kau … kau hamil,” ujarnya dengan sedikit terbata.
Charlotte berdiri seraya bertemu, “Lama tidak bertemu,” sapanya kepada Abraham.
Diana langsung saja memeluk kawan baiknya itu, “Apa kau baik-baik saja?” tanya Diana.
__ADS_1
“Kenapa kembali ke sini?” tanya Diana lagi.
“Suaminya ada di sini, tentu saja dia harus kembali ke mansion ini,” ujar Sean.