
Frezy pun menghampiri Diana dan Charloote, lalu menyodorkan kotak berisi cincin yang telah dia pilih dan berkata, “ Yang ini.”
Charlotte mencubit lengan Diana yang sedikit tertidur, “Dia sudah memilih cincin nya,”
Merasa ada yang mencubitnya, maka Diana pun terbangun, “iya … iya itu terllihat indah,” ujar Diana yang langsung berdiri.
“Yang ini saja, kami memilih yang ini,” ujar Diana kepada Charlotte.
Sekretaris Sean yang ada di sana, pun langsung mengurus pembelian cincin itu, “Kami nanti akan mengirimkannya ke rumah Nona Diana,” ujar Manajer toko perhiasan itu.
Baru saja keluar dari toko perhiasan itu, Sean sudah berada di depan toko. Bersandar di mobil menunggu Charlotte, “Kau ada di sini?” ujar istrinya itu.
__ADS_1
“Hari ini pekerjaan sedang tidak banyak,” jawab Sean sembari merangkul lengan Charlotte.
Sean melihat kepada Frezy yang memandanginya, lalu menyapanya dan berkata, “Kita selalu hidup dengan sesuatu yang tidak terlihat oleh mata. Seperti udara, kau bernapas dengannya, tanpa pernah berpikir seperti apa wujud asli udara. Ia ada, tapi tak tersentuh. Kau hanya bisa merasakan dinginnya. Kau bisa pura-pura tidak melihatnya. tetapi kau dapat merasakannya di dalam dirimu dan di sekelilingmu,” sapa kata Sean sedikit panjang.
“Akan ada saatnya udara membuat banyak hal yang tidak bisa terlihat dengan jelas karena tertutupi kabut, ia menyapunya bersih maka terlihatlah wujud yang sebenarnya,” tambah kata Sean lagi.
Charlotte merasa bingung terhadap perkataan Sean lalu menarik lengan suaminya itu dan berkarta, “Jangan membuatnya bingung,” ujar Charlotte dengan nada sedikit protes kepada suaminya itu.
Diana pun merangkul Frezy dan berkata, “Ayo kita juga pulang.”
Jika Diana dan Charlotte sedang merancang pernikahan yang sempurna, maka Katia juga sedang merancang rancana untuk menjatuhkan mereka. Jika dia masuk ke lubang neraka, maka Charlotte juga harus ikut masuk ke dalam lubang neraka itu.
__ADS_1
Setelah mampir sebentar ke apartemen Frezy, maka Diana pun bergegas pulang. Baru beberapa saat melajukan mobilnya, ponsel Diana berdering. Itu adalah telpon dari salah satu pelayan bar yang mengatakan jika Tuan Abraham, mabuk berat. Dan selalu memanggil-manggil nama Diana.
Karena itu pelayan bar itu memberanikan diri untuk menghubungi nomornya dari ponsel Abraham, “Dia mabuk dari semenjak sore,” jelas pelayan itu.
“Baik aku akan datang ke sana,” jawab Diana.
Sesampainya di Bar, Diana langsung masuk ke ruang VIP yang pelayan sebutkan. Dia tertegun melihat Abraham begitu berantakan. Dia tertidur di sofa sembari memeluk botol kosong, dan, beberapa botol berserakan di lantai.
Diana mendekati Abraham lalu berkata, “Ya ampun, kau ini sedang kenapa?”
Sekali lagi, Abraham meracaukan nama Diana, memanggilnya berkali-kali, “Diana … kau ada di sini … kau datang untukku bukan?” ujar Abraham sedikit melirih.
__ADS_1
Diana terdiam, memaksakan senyumannya sambil menahan air matanya, lalu berkata, “Terkadang kita terjebak pada satu masa yang salah dalam hidup, yaitu masa mencari sesuatu yang hilang. Tidak ada yang hilang, jadi tidak perlu mencari lagi. Jangan menangis, karena sedari edari awal kau dan aku tidak saling memiliki. Jadi biarkan kehidupan berjalan apa adanya untuk kita. Aku bukan untukmu, dan kau bukan untukku,” ujar Diana seraya melihat kepada cincin yang Frezy sematkan ketika di acara pertunangannya kala itu.