
“Hah, kalian pikir hanya kalian saja yang punya mobil bagus,” ujar Diana lagi dengan berapi-api.
Diana tertawa lepas ketika melihat mobil mewah yang satunya lagi menabrak tempat sampah dan tertinggal jauh dari mereka. Baru beberapa saat merasa senang, Dia pun terdiam, menepikan mobil nya lalu berkata, “Gawat!”
Frezy memandang aneh kepada Diana, lalu dia menapuk wajah tunangannya itu sembari berkata, “Tadi aku menerabas beberapa lampu merah, bagaimana ini!” ujarnya dengan rasa khawatir.
Frezy melepaskan tangan Diana seraya berkata, “Pulang!”
Diana pun mengeratkan sabuk pengaman-nya dan melajukan mobil nya kembali ke apartemen Frezy. Setelah mereka sampai, dia sudah tidak ada selera lagi untuk bermain. Dia pun memberikan kunci mobil dan berjalan lunglai menujua masuk ke dalam taksi.
“Huffh …” gumam nya seraya bersandar di kursi belakang taksi.
Frerzy langsung saja masuk ke unit apartemen nya, lalu dia membuka lemari nya dan mengeluarkan sebuah laptop yang memiliki sistem pendingin yang menggunakan logam cair, yang diperlukan untuk menunjang segala kegiatan kerja Frezy.
Frezy menggeratakan jari-jari tangannya, lalu dengan cepat dia membuat bahasa coding, dan tidak membutuhkan waktu lama, semua rekaman CCTV hari ini, insiden kebut mengebut di pagi hari, ketika akhir pekan tadi semua terhapus menghilang tanpa jejak.
Tanpa berkata apa-apa Frezy baru saja menyelamatkan Diana. Sementara tunangannya itu sudah menyiapkan hati jika Papa nya akan memarahi dia karena beru saja berlaku dengan tidak bertanggung jawab. Dia baru saja tiba, dan sedikit terkejut ketika melihat Sean ada di rumahnya, “Mau apa dia kemari?” pikirnya.
“Tuan Smith, apa Charlotte ikut bersamamu?” tanya Diana.
“Tidak, kehamilannya semakin besar. Jadi rumah adalah tempat yang paling aman untuknya,” jawab Sean.
Tuan Harold pun mengantarkan Sean sampai ke pintu keluar rumah mereka. Diana duduk dengan tergugup. Melihat Tuan Harold menghampirinya dia semakin gugup. Dia pun berdiri lalu berkata, “Pa, apa ada sesuatu yang terjadi hari ini?” tanyanya dengan sedikit gugup.
Raut wajah Tuan Harold nampak berubah, lalu dia menjawab, “Iya ada sesuatu,” jawab Tuan Harold seraya duduk sambil menyilangkan kakinya.
“Matilah aku,” gumam pelan Diana.
“Duduklah , ada hal yang ingin Papa bicarakan kepadamu!” ujar Tuan Harold.
“Ada apa Pa?” tanya Diana semakin gugup.
__ADS_1
“Tuan Smith datang dan memberikan penawaran kepada Papa,” jawab Tuan Harold.
“Benarkah?” tanya Diana dengan nada senang, karena sepertinya Tuan Harold tidak mengetahui tentang edisi kebut mengebut di pagi hari tadi.
Diana pun dengan melega berkata, “Dia menawarkan apa?” 3
“Uang yang banyak,” jawab Tuan Harold.
“Untuk apa?” tanya Diana.
“Membeli Quaint hotel, dia bilang itu untuk hadiah yang akan dia berikan kepada Charlotte, Hadiah kelahiran untuk bayi mereka,” jelas Tuan Harold.
Diana berdiri, berpikir sebentar lalu berkata, “Menurut Papa sebaiknya kita harus bagaimana?”
“Hmm … jika di pikir-pikir Keuntungan dari Quaint hotel saat ini sangat-sangat bagus, tapi kita juga tidak boleh melupakan siapa yang membuat hotel ini kembali ke masa kejayaannya,” imbuh Tuan Harold.
“Charlotte …” jawab Diana.
“Beri aku waktu beberapa hari. Barulah aku akan memberi jawaban,” ujar Diana.
Di apartemen, Frezy segera menutup laptop nya begitu mendengar ada yang masuk ke unit nya. Itu adalah katie yang memiliki kartu akses masuk ke unit apartemen ini. Dengan senyum merona, dia meletakkan dua jinjing tas belanja sambil berkata, “Aku membawakan makanan dan mainan kesukaan mu.”
Dia pun duduk dengan anggun nya lalu meletakkan foto Charlotte di atas meja, dia pun berkata, “Wanita ini adalah penghalang bagi kau untuk bisa masuk ke dalam keluarga kita.”
“Ingat Diana adalah kunci untuk kau agar bisa mendekati wanita yang ada di dalam foto itu,” ujar Katie lagi.
“Selama kau bisa membuat wanita itu sengsara, atau bahkan menghilang maka aku akan dengan mudah membawamu masuk ke dalam keluarga kita. Dan, aku akan memastikan tidak akan ada orang yang berani untuk mengolok-olokmu.
“Apa kau paham?” tanya Katie dengan nada sinis licik.
Frezy mengangguk, katie pun langsung memuji, “Nah, begini barulah kau bersikap seperti Crwonly sejati.”
__ADS_1
Di kediaman utama keluarga Smith, Charlotte terlihat sedang memakan camilan-camilan yang sedang ingin dia makan. Sean baru saja tiba, langkahnya terhenti ketika dia melihat pipi charlotte yang menggembung karena mungunyah banyak camilan.
Sean mendekati istrinya itu seraya berkata, “Pelan-pelan saja makannya, tidak akan ada yang berebut denganmu.”
Charlotte pun berhenti makan, lalu menarik Sean agar duduk di sisinya, dia pun berkata lagi, “Apa kau benar-benar tidak mau menyelidiki alasan Tuan Harold mengizinkan Diana bertunangan dengan Frezy?”
Sean terdiam sesaat lalu berkata dengan lembut, “Kali ini kita biarkan itu menjadi urusan keluarga mereka, Ok!”
“Oh ya Tuhan, mana bisa begitu,” imbuh Charlotte.
“Apa karena dia bukan teman baik mu, jadi kau tidak mau menolong?” tanya Charlotte lagi.
“Bukan … bukan itu. Ada baiknya kita ikuti saja dulu skenario Tuhan,” jawab diplomatis Sean.
“Percayalah apa yang terlihat buruk menurut kita, belum tentu buruk akibatnya untuk kita,” nasihat Sean lagi.
“Jangan terlalu banyak berpikir ok!” ujar Sean sembari menyelipkan rambut Charlotte ke balik daun terlinga nya.
Charlotte menghela napas, dan mulai mensugesti dirinya untuk bisa menerima takdir Tuhan dan percaya kepada perkataan Sean jika semuanya akan baik-baik saja.
Sean memanggil salah satu pelayan, dan meminta semua camilan manis diangkat dari meja, Charlotte menghalau seraya berkata, “Eh, aku masih mau makan.”
“Sudah cukup makan manis nya, tidak baik untuk kesehatan mu dan bayi kita jika terlalu sering makan manis,” nasihat Sean lagi.
Merasa jika ini demi kebaikan si bayi maka Charlotte pun patuh, dan mengganti cemilan manis itu dengan memakan buah-buahan saja dan juga susu. Karena perut yang semakin membesar Charlotte sudah mulai kesulitan jika ingin berdiri. Sean pun merentangkan tangannya kepada Charlotte, memeluk dan membantu istrinya itu untuk berdiri. Tapi, bukannya melepaskan dia malah memeluk lebih lama lagi.
“Tuan Smith, kau memegang ku terlalu erat. Aku tidak bisa bernapas,” ujar Charlotte.
Mendengar jika Charlotte memanggil Tuan Smith, dia pun melepaskan pelukan nya dan terdiam sesaat. Lalu malah meninggalkan Charlotte tanpa sepatah kata pun. Sean berjalan ke ruang kerjanya sembari menggerutu pelan, “Dia sedang mengandung bayiku, tapi malah memanggil ku dengan panggilan formal ‘Tuan Smith’ Hah! apa-apaan itu.”
Sean memasuki ruang kerjanya dengan hati sedikit kesal. Dia duduk di meja kerjanya, membuka laptop nya tapi hanya memandangi nya saja, tidak tahu mau mengerjakan apa.
__ADS_1