SILAKAN PERGI SUAMIKU

SILAKAN PERGI SUAMIKU
KAU HANYA BISA MENIKAH DENGANKU


__ADS_3

“Aku tahu yang terbaik untuk putriku,” jawab Tuan harold.


“Diana adalah wanita yang cerdas dan mandiri!” imbuh Abraham sedikit protes.


Tuan Harold tidak ingin banyak berdebat, lalu dia pun berkara, “Masih banyak tamu yang harus aku sapa dan temui, nikmati pestanya.”


Abraham pun terdiam sembari memasukan kedua tanganya kedalam saku celananya. Dia pun tidak bisa berkata-kata lagi, pertunangan ini memang nyata adanya. Merasa tidak mood lagi, maka dia pun segera pergi meninggalkan grand ball room.


Sementara Frezy yang memiliki kecanggungan dalam bersosialisasi sudah mulai terlihat panik. Berada di tempat keramaian membuatnya merasa seperti berada dalam medan perang. Terdengar bising sekali.


Frezy pun bersembuyi di bawah meja makan, Diana langsung ikut berjongkok dan masuk ke bawah meja nakan, "Hei apa yang kau lakukan?"


Frezy nampak gemetaran, tidak menjawab dia malah menutup kedua telinganya, Diana mengernyitkan alisnya, "Oh ya ampun, apakah dia sedang kambuh."


Dia berpikir jika tunangannya ini membuat keributan di pesta ini, maka esok hari tanpa henti kejadian ini akan terus menjadi trending topik.


Diana pun berpikir harus mengendelikan keadaan, perlahan dia mengulurkan tangannya, lalu menepuk-nepuk lembut puncak kepala tunangannya itu seraya berkata, "A-apa kau mau bebek karet?"


Mendengar kata bebek karet Frezy pun bereaksi. Perlahan dia menurunkan tangannya, lalu menatap Diana dan sedikut mengangguk. Bagi Frezy Bebek karet itu adalah kawan baik yang selalu menemaninya.


Diana mengulurkan tangannya seraya berkata, "Jika begitu maukah ikut denganku?" tanya Diana.


Frezy ragu-ragu menerima uluran tangan Diana, tapi pada akhirnya menerimanya. Dia menarik Freyz keluar dari bawah meja makan.


Baru saja keluar, beberapa wartawan memfoto mereka berdua, melihat jika Frezy akan mulai antipati lagi, maka Diana langsung saja mengecup pipi Frezy, lalu berbisik di daun telinga tunangannya itu "Ada aku di sini, tenanglah."


Frezy pun langsung saja dengan cepat tenang kembali. Diana langsung saja memapahnya dan membawa tunangannya itu menuju ke ruang VIP. Charlotte ingin berdiri. Tapi, Sean menghentikan gerakan Charlotte seraya berkata, "Biarkan mereka saling mengenal."


Charlotte menoleh kepada Sean, dan mengehempaskan tangan suaminya itu seraya berkata, "kau bukan teman baik Diana jadi tidak merasakan apa yang aku rasakan!"


Charlotte pun segera mengejar Diana dan Frezy, di dalam Ruang VIP. Diana memberikan bebek karet yang dia pinta dari Tuan Vic.


"Nah, ini aku tidak bohong kan," bujuk Diana.

__ADS_1


Charlotte langsung saja menerabas masuk ke ruang VIP, "Diana!" ujarnya.


Frezy langsung memeluk pinggul ramping Diana, menyembunyikan wajahnya. Di peluk tiba-tiba tentu saja membuat Diana terkejut. Dengan Reflek dia langsung mengusap lembut puncak kepala tunanganya itu.


Charlotte pun menurunkan nada suaranya Seraya berbisik, "Apa ini maksudnya?"


Diana meletakan satu jari di tangannya, memberi isyarat agar Charlotte berhenti bertanya. Melihat itu maka Nyonya Smith hanya bisa menghela napas. Dia tahu betul jika Diana memiliki hati malaikat, sangat-sangat baik hati. Jadi tak heran jika dia bisa dengan mudah memperlakukan Frezy dengan baik dan sopan.


Diana menepuk-nepuk punggung Frezy seraya berkata, "Dia bukan orang jahat. Ini adalah Charlotte teman baik ku."


"Ayo, beri salam. Jangan takut," ujar Diana yang terdengar seperti membujuk bayi berusia lima tahun.


Frezy pun melepaskan rangkulan tangannya, lalu melambaikan tangannya kepada Charlotte seraya berkata, "Hai."


Charlotte menyambutnya dengan sopan seraya berkata, "Maafkan aku jika menganggetkanmu."


Frezy menengadahkan kepalanya, lalu melihat kepada Diana yang tersenyum manis dan menenangkan. Melihat itu maka barulah Frezy menyambut uluran tangan Charlotte untuk berkenalan.


Pada saat ini Tuan Harold dan Tuan Vic datang masuk, melihat papanya masuk. Frezy langsung bangkit berdiri dan memeluk Tuan Vic.


"Tidak apa, aku mengerti. Kau hanya ingin membahagiakan putrimu saja," ujar Tuan Vic.


"Jangan tersinggung ya, jika kami pamit lebih dulu," ujar Tuan Vic.


"Kami lama tak bertemu, jadi sepertinya membutuhkan waktu panjang untuk saling berbincang," ujar Tuan Vic sembari merangkul putranya itu.


Tuan Harold dan Diana pun pergi mengantar. Mereka pergi, Sean pun datang ke ruang VIP, "Kenapa lesu?"


Charlotte menjawab, "Entahlah apakah aku harus senang atau sedih atas pertunangan ini."


"Daripada murung terus, sebaiknya kita doakan saja yang terbaik untuk mereka," hibur Sean kepada istrinya itu.


"Mengapa kau tidak membantu menyelidiki?" tanya Charlotte.

__ADS_1


Sean menaikan satu alisnya seraya berkata,"Tentang apa?"


Charlotte merasa gemas lalu dengan santainya menapukan kedua tangannya di wajah Sean seraya berkata, "Hish ... kau ini!"


Kedua mata Sean sedikit terbelalak, lalu dia mengambil tangan mungil istrinya itu dan mengecupi keduanya dengan penuh kelembutan.


Charlotte yang baru tersadar akan situasi canggung mereka pada saat ini pun, langsung saja berdiri seraya berkata, "Aku lelah!"


Sean pun ikut berdiri, dan berkata, "Ayo kita pulang."


Tuan dan Nyonya Smith pun pergi meninggalkan grand ball room pesta. Sementara itu, Tuan Vic dan Frezy pergi ke apartemen yang putra angkatnya itu tempati.


Melihat betapa mewahnya apartemen putranya itu, maka Tuan Vic langsung saja bertanya, "Kau sebenarnya kerja apa?"


"Membuat program sistem untuk database komputer," jawab Frrzy seraya memainkan bebek karetnya.


"Sedari kecil kau memang anak yang pandai. Dan, Papa ingin kau untuk selalu ingat itu, Ok!"


Tuan Vic waktu itu menemukan Frezy di musim dingin pada musim salju pertama turun di tahun itu. Tepat berada di bawah pohon, berbalut kain selimut yang dari sekilas pun dia tahu jika itu adalah kain tenun yang sangat mahal.


Tak heran jika jejak ketampanan di wajah Frezy terlihat jelas. Tuan Vic berpikir itu pastilah diwariskan dari orang tuanya, entah dari ayah atau ibunya.


Tuan Vic merasa keputusannya membiarkan Ferzy hidup mandiri adalah sudah betul. Putra angkatnya itu membiarkan dia menginap di apartemennya.


Di rumah utama Smith, Charlotte tidak bisa tidur. Sebentar-sebentar bergerak, Sean pun segera memeluk Charlotte serata berkata, "Tidurlah, bayi kita juga butuh Mamanya untuk tidur bersama."


Charlotte terdiam sejenak, selain memikirkan Diana, dia juga berpikir sejak kapan mereka betdua menjadi akrab seperti ini.


Charlotte berkata, "kapan kau akan menandatangani surat cerai kita?"


Gerakan tangan Sean mengusap-usap perut Charlotte pun terhenti, dia menghela napas seraya menjawab dengan berbisik di telinga Charlotte, "


"Apa kau sudah tidak sabaran ingin bercerai dariku?" imbuh Sean.

__ADS_1


Chalrottte terdiam, suasana malan yang hening semakin terasa henaing karena keduanya sama-sama terdiam, lalu Sean memecahkan keheningan itu, "Kau hanya boleh menikah dengan aku, kau hanya boleh melahirkan anak-anak ku saja, tidak dengan pria lain," ujar Sean lalu memunggungi Charlotte.


__ADS_2