
Bab 55
Alfred pun mengikuti langkah si pengawal yang membawanya ke ruang perpustakaan Mansion Brwon. Sedikit bingung jika begitu banyak foto Charlotte yang terpampang di setiap koridor rumah. Sampailah mereka di ruang perpustakaan.
Lagi-lagi Alfred terlihat limbung ketika melihat foto pernikahan Charlotte dan Sean terpampang besar di dinding perpustakaan. Dia menoleh ketika ada suara yang menyapanya, “Halo Tuan Alfred.”
“Tuan Smith,” ujar Alfred.
“Kau … menculik kami?” tanya nya.
“Bukan aku, tapi Enzo,” jawab Sean.
Tuan Alfred mengernyitkan alisnya lalu berkata, “Bukankah itu sama saja,” ujar Tuan Alfred.
Sean kehabisan kata-kata lalu mulai mengajak Alfred berbicara serius, “Aku ingin melakukan kesepakatan denganmu.”
“Kesepakatan apa?” tanya Alfred.
Sean menghela napas lalu menjawab, “Jika Charlotte terbangun, dia pasti akan sangat marah kepadaku,” jelas Sean.
“Ya itu sudah pasti,” jawab Alfred.
__ADS_1
“Aku ingin kau selalu menghiburnya jika dia sedang merasa marah kepadaku,” pinta Sean.
“Menenangkannya?” tanya Alfred.
“Iya,” jawab Sean lagi.
“Jika kau tidak ingin dia marah, maka menjauhlah darinya,” nasihat Alfred.
“Tidak bisa, aku tidak bisa menjauh darinya,” imbuh Sean.
“karena aku tidak bisa berjauhan darinya, karena itu aku meminta bantuanmu untuk menenangkannya jika dia sedang marah kepadaku. Sementara aku akan selalu membiarkan jika dia marah, menerima semua kemarahannya,” jelas Sean lagi.
“Sepakat ,” jawab Sean.
Sean pergi ke kamar utama. Dia memandag istrinya itu sembari memegangi dadanya yang berdegup kencang, Charlotte merasa bermimpi ketika tidur dia mencium wangi aroma bunga-bunga di taman setelah tersiram air hujan. Charlotte pun tersenyum, merasa seakan-akan kembali ke rumah masa kecilnya.
Sean pun tersipu melihat Charlotte tersenyum dalam tidurnya, dia pun duduk di sisi istrinya, tiba-tiba Charlotte memeluk tubuh Sean yang tengah duduk sembari meracau, “Mama.”
“Dia sedang bermimpi,” pikir Sean.
Sean pun menundukan kepalanya, lalu mencium-cium lembut wajah Charlotte. Dengan perlahan Charlotte membuka kedua matanya, Merasa tercengang, ketika melihat wajah Sean begitu dekat dengan wajahnya.
__ADS_1
“Astaga hantu!” ujarnya sembari mendorong Sean sampai terjatuh dari sisi ranjang.
Melihat sepertinya mengenali kamar tempat dia berada Sekarang, Charlotte lebih terkejut lagi, “i-ini …” ujarnya sembari menutup mulut degan kedua tangannya.
Sean berdiri lalu berkata, “Selamat kembali pulang Nyonya Smith.”
Charltotte bangkit dari ranjang, dia pun segera membuka pintu balkon kamarnya yang langsung menyambung ke taman rumah, “Aku sedang tidak bermimpi, i-ini di rumah,” ujar Charlotte.
‘Iya kita sudah di rumah,” jawab Sean.
Charlotte menoleh lagi kepada sean, beberapa saat tadi dia sempat lupa akan hadirnya Sean karena sangking terkejut senangnya, “K-kau menculikku?” tanya Charlotte setengah limbung.
“Tidak, membawa istri sendiri pulang ke rumah, tidak termasuk dikatakan perbuatan menculik,” jawab Sean.
“Apa lupa, aku sudah menggugat cerai?” imbuh Charlotte.
“Gugatan itu … Hmm, aku tidak pernah menganggappnya ada,” ujar Sean.
Lalu sean berkata lagi, “Jika ingin memakiku setiap hari, aku persilakan, aku akan menerimanya tanpa membalas sepatah katapun. Asalkan kau tetap di sisiku.”
Sean mendekati Charlotte, menatapnya dengan tatapan yang meneduhkan lalu berkata lagi, “Tapi, jangan terlalu marah ok, ingat ada bayi kita yang sedang bertumbuh di perutmu.”
__ADS_1