SILAKAN PERGI SUAMIKU

SILAKAN PERGI SUAMIKU
DI RUMAH ISTRI


__ADS_3

Bab 53


Sean pun menarik tangan Charlotte untuk ikut pergi bersamanya. Sementara Enzo merangkul Tuan Alfred seraya berkata, "Ayo, kita urus pelunasan bunga-bunga dandelionnya."


Sean membawa Charlotte ke kamar presidential suitenya, barulah dia melepaskan genggaman tangannya. Charlotte malah berlari ke arah pintu, sean pun berkata, "Tanpa perintahku, maka mereka tidak akan membuka akses pintu masuk dan keluar."


Charlotte menghentikan uluran tangannya, lalu berkata, "kau mengunci semua pintu hotel ini?"


"Iya," jawab Sean dengan nada santai.


Charlotte menghela napas panjang lalu berkata, "Apa yang kau inginkan?"


"Sudah jelas bukan, aku menginginkanmu, juga bayi yang sedang kau kandung itu," Jawab Sean.


Charlotte terdiam sesaat lalu menjawab perkataan Sean, "Maaf, kata maaf sepertinya saat ini akan sangat sulit aku terima."


Sean langsung saja mengambil tangan Charlotte dan berkata, "Apa kita tidak bisa membicarakan tentang ini."


"Katakan padaku apa yang harus aku lakukan agar kau menginginkanku?" tanya Sean dengan nada memohon.


Charlotte menarik tangannya seraya berkata, "Menjaulah dari kami."

__ADS_1


Sean membalikan badannya, lalu dia mendongak seraya mengambil napas panjang-panjang lalu menoleh dan berkata, "Untuk yang itu tidak akan pernah lagi," jawab Sean seraya mengeratkan rahangnya.


"Aaah ..." ujar Charlotte seraya memegangi perutnya.


Sean langsung saja memapah Charlotte seraya berkata, "Kenapa, ada apa?" Tanya nya dengan panik.


Sean membawa Charlotte duduk di sofa, dia pun bersimpuh di depan istrinya itu. Mengusap lembut di perut Charlotte, seketika saja di terbelalak ketika merasakan tangannya ditendang oleh bayi yang sedang dikandung Charlotte.


Sean pun langsung meletakan kepalanya di perut besar istrinya itu, lalu berkata, "iya ini Papa ... ini Papa," ujarnya dengan senang.


Chatlotte pun menangis melihat ini semua, mendengar Sean mengatakan kata Papa kepada bayi mereka. Dengan suara sengau dia menahan tangis, Charlotte berkata, "Aku lelah, jadi bisakah kau membiarkan kami pulang!"


Merasakan tendangan bayi mereka yang begitu aktif, maka Sean pun mengangguk. Tidak ingin membuat ibu dan bayi sakit. Sean pun segera berdiri seraya berkata, "Akan aku antar."


Sean diam tidak membantah, lalu dia melirik ke sepatu datar yang Charlotte pakai. Dia pun tersenyum, karena merasa jika istrinya itu benar-benar menjaga diri dengan baik selama masa kehamilannya.


Alfred telah menerima setengah pembayaran yang telah dijanjikan, dia dan Charlotte bertemu di lobi, "Apakah baik-baik saja?" tanya Alfred.


"Aku tidak apa-apa," jawab Charlotte yang berkata lagi, "Ayo, kita pulang."


Charlotte merangkul lengan Alfred, dan melangkah pergi dari hotel Smith grup. Sean mengikuti langkah keduanya. Mobil Alfred pun melaju, Charlotte duduk terdiam di kursi penumpang. Berpikir jika jerat benang merah diantara mereka ternyata tidak terputus.

__ADS_1


"Sepertinya kita diikuti," ujar Alfred membuyarkan lamunan Charlotte. Dia pun menoleh dan memperhatikan jika itu adalah Sean, "Oh ya ampun," ujar Charlotte.


"Jadi bagaimana, apa mau menghindarinya?" tanya Alfred.


"Biarkan saja," jawab Charlotte.


Berpikir jika suaminya itu bisa menemukan dirinya di sini, maka hanya menemukan tempat tinggalnya bukanlah hal yang sulit. Mobil Alfred menepi di sebuah rumah.


Charlotte dan Alfred pun masuk. Sementara Sean, tetap berdiam diri di mobil. Memandangi rumah istrinya itu. Bahkan ketika lampu kamar Charlotte telah padam, sean masih berada di dalam mobilnya. Meski saat ini tidak berada di kamar yang sama, setidaknya mereka berada di satu langit yang sama.


Keesokan paginya, Charlotte bangun. Dia membuka tirai jendela kamarnya lalu melihat jika mobil Sean masih ada di sana, terpakir. Di dalam mobil ponsel Sean berdering, itu adalah panggilan dari Enzo.


"Kau di mana?" tanya Enzo.


"Di rumah istri." Jawab Sean.


"Charlotte?" tanya Enzo.


"Siapa lagi?" jawab Sean.


"Peresmian sebentar lagi, jangan berbuat hal yang aneh-aneh," nasihat Enzo.

__ADS_1


Sean melihat ke tirai jendela yang terbuka, Charlotte berdiri di sana dan sedang memandanginya. Sean melajukan mobilnya ketika melihat Charlotte menghilang dari balik jendela kamarnya.


__ADS_2