SILAKAN PERGI SUAMIKU

SILAKAN PERGI SUAMIKU
KAMAR PENGANTIN


__ADS_3

Diana memapah Abraham untuk mengantarnya pulang. Dia merogoh-rogoh saku Abraham untuk mencari kunci rumahnya. Setelah menemukan dia pun segera keluar dari mobil dan lebih dulu membuka pintu rumah agar lebih mudah ketika memapah Abraham.


Memapah orang mabuk sangatlah berat, jadi Diana benar-benar terseok-seok. Berhasil masuk ke dalam rumah. Diana merebahkan tubub Abraham di ranjang. Dia membukakan dasi dan juga sepatu Abraham.


Diana menghela napas seraya berkata, ini pertama kali dan terakhir kalinya aku membukakan sepatumu, "Selamat tinggal."


Diana pun melajukan mobilnya bergegas kembali ke rumahnya. Sementara itu di apartemen Frezy, nampak dia tengah memincingkan matanya. Ketika foto Diana dan Abraham yang terlihat saling berpelukan baru saja keluar dari bar.


Beberapa hari kemudian Diana sedikit merasa resah, karena Frezy menjadi sulit dihubungi. Beberapa kali dia datang ke apartemennya, tapi Frezy menolak bertemu. Merasa bingung maka Diana meminta bantuan Papanya.


Pada akhirnya Frezy mau menemui Diana di Quaint hotel. Pada saat ini Diana baru saja selesai melakukan pertemuan. Melihat Frezy berdiri di koridor dia langsung saja menghampiri.


"Kau kenapa, apa ada masalah. Mengapa menghindariku?" tanya Diana.


Freezy masih saja diam, merasa jika di sini banyak orang, maka Diana membawa Frezy ke ruang kerjanya, "Apa ada sesuatu yang mengganggumu?" tanya Diana dengan nada sedikit terheran.


Frezy hanya memasang wajah cemberut, diam enggan untuk menjawab. Setengah jam Diana membujuk agar Frezy mau berbicara tapi tidak kunjung bicara. Diana merasa frustasi, lalu dia berdiri seraya berkata, "Jika hanya diam saja, maka duduk saja di sini. Aku masih banyak pekerjaan," ujar Diana yang bersiap untuk pergi.


Baru beberapa langkah Diana pergi, lalu Frezy menyusul langkahnya, dan tiba-tiba saja memeluk Diana dari belakang. Kedua mata Diana terbelalak, terkejut lalu dia melihat satu tangan Frezy seperti sedang mengepal sesuatu perlahan Diana mengambil sesuatu yang Frezy genggam itu.


"Apa ini?" ujar Diana sembari membuka kertas foto yang sudah terkepal lusuh.


Ketika melihat itu, kedua matanya lebih terbelalak lagi. Itu adalah foto dia dengan Abraham. Diana langsung membalikan badannya dan berkata, "Kau mwndapatkam ini dari mana?"


"Apa kau mematai-matai aku?" tanya Diana.


Melihat Diana berbalik marah kepadanya, Frezy semakin tidak bisa berkata-kata. Dalam hatinya dia merasa sangat tidak menyukai jika Diana dekat dengan pria lain. Tapi dia merasa bingung menyampaikan maksud hatinya. Jadi hanya bisa meremas foto itu.

__ADS_1


Melihat wajah Diana yang mulai memerah karena marah, Frezy langsung saja mendorong tubuh Diana ke dinding lalu menundukan kepalanga dan memangut bibir Diana.


Setelahnya melepaskan dan berkata, "Jangan pergi."


Diana nampak tersengal, sekali lagi matanya terbelalak, tak sangka jika Frezy lihai dalam mencium, sampai-sampai membuat napasnya terasa pendek.


"Apa kau pikir aku akan meninggalkanmu?" tanya Diana kepada Tunangannya itu.


Frezy mengangguk, ini pertama kalinya dia mau mencoba berkomunikasi lebih dalam dengan seseorang. Diana pun menghela napas, lalu memeluk tunangannya itu seraya berkata, "Aku sudah memilihmu, jadi percaya padaku, aku tidak akan meninggalkanmu."


Frezy mengeratkan kedua tangannya di punggung Diana, menenggelamkan wajahnya di bahu wanitanya itu. Hatinya sedikit tenang setelah mendengar perkataan Diana.


"Apa mau menemaniku bekerja?" tanya lembut Diana.


Frezy mengangguk, lalu mereka berdua pergi ke ruang kerja Diana. Hari pernikahan mereka pun semakin dekat. Menjelang hari penting Diana, Sean melarang Charlotte untuk ikut langsung membantu keperluan pernikahan Diana.


"Tenang saja, aku sudah meminta sekretarisku juga bawahanku yamg lainnya untuk memastikan semua berjalan lancar.


"Enzo?" tanya Charlotte.


"Iya," jawab Sean.


"Jika begitu aku merasa sedikit tenang," ujar Charlotte.


Sean mencoba mengalihkan pembicaraan, "Apakah kau sudah menarik gugatan cerainya?" tanya Sean.


"Gugatan cerai," ujarnya dengan pelan lalu menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Sean menghela napas, lalu berkata lagi, "Aku tidak memaksa kau untuk mencabut itu, aku hanya berharap kau berubah pikiran saja."


Sean berdiri, lalu berkata lagi, "Masih ada pekerjaan yang harus aku kerjakan."


Charlotte tiba-tiba saja merasa gamang di hati. Hatinya masih belum condong ke salah satu keputusan. Apakah meneruskan pernikahan dengan Sean, ataukah mengakhirinya.


Hari hari berlalu, pada akhirnya pernikahan Diana dan Frezy akan terlaksana Lusa. Staff hotel dan Papa beruang adalah orang yang paling sibuk. Sebab Charlotte meminta agar Papa beruang mewakili dirinya untuk membantu pernikahan Diana.


Pada hari ini di Grup Smith, Tuan Harold datang menjadi tamu yang sangat penting bagi Sean. Kedua pengacara telah berkumpul untuk melakukan transaksi jual beli Quaint hotel.


Sean membeli hotel itu dengan harga tinggi, harga yang tidak bisa ditolak oleh Tuan Harold. Dan, akhirnya bersedia menjual hotel itu kepada Sean.


"Terima kasih atas kerjasamanya yang baik ini," ujar Sean mengulurkan jabat tangan kepada Tuan Harold.


"Ya semoga aku tidak menyesali keputusan ini," ujar Tuan Harold dengan sedikit tertawa.


Malam harinya, Sean dan yang lainnya telah berada di hotel. Kerabat dan keluarga telah berada di Quaint hotel.


"Lakukan dengan benar, aku sudah memberikan denahnya, kau ikuti saja," ujar Katie.


"Ok," jawab pria yang disebrang telpon sana.


Kamar suite yg akan digunakan menjadi kamar pengantin masih terkunci.Seorang pria tak dikenal menggunakan tipuan untuk membongkar pintu kamar hotel Quaint.


Dia menggunakan batang besi dengan ujung yang bengkok,lalu memasangnya melalui celah pintu di bawah untuk mengaitkan ujung batang besi ke pegangan pintu. Sehingga pintu dapat dibuka dengan mudah dari luar.


Hiruk pikuk sedang terjadi di Quaint Hotel, sehingga ketika CCTV koridor kamar pengantin tidak berfungsi mereka tidak begitu menyadarinya.

__ADS_1


Papa beruang meminta Diana masuk ke kamar pengantin itu, "sudah biarkan kami yang menangani ini," jawab Papa Beruang.


__ADS_2