SILAKAN PERGI SUAMIKU

SILAKAN PERGI SUAMIKU
SOAL CERDAS CERMAT


__ADS_3

Mereka pun sampai di rumah sakit, tim dokter khusus keluarga Smith telah siaga menunggu di depan lobi. Begitu melihat mobil yang di tunggu telah datang maka tim medis pun mengeluarkan ranjang dorong pasien.


Sean keluar dengan cepat ketika mobil berhenti. Seketika saja gerakan tim medis semua terhenti. Mereka mati-matian menahan tawa. Ada yang menggigit bibir bawahnya. Ada yang mencubit-cubit tangannya sendiri. Ada yang berbalik badan seraya mengambil napas panjang-panjang sambil meyakinkan hatinya, "Jangan tertawa, jangan tertawa. Karir cemerlangmu di pertaruhkan di sini."


Enzo juga turun, lalu berkata, "Kalian, ayo cepat. Mengapa malah diam saja!"


Enzo juga paham jika mereka pasti juga sedang menahan tawa. Tim medis pun dengan cepat mendorong ranjang pasien. Charlotte berteriak, "Enzo ... Enzo!"


Alis Sean mengernyit, "Aku kan suamimu, mengapa malah memanggil Enzo?"


Sekali lagi Charlotte memanggil Enzo, maka kawan baik Sean itu pun mendekat, "iya," jawabnya dengan sedikit takut-takut.


"Iya ada apa?" tanya Enzo.


"Pastikan selama persalinanku, berjalan lancar tanpa gangguan!" ujar Charlotte.


"Maksudmu?" tanya Sean dan Enzo berbarengan.


"Aku ingin kau menjauhkan Tuan Smith dari ruang persalinan!" jawab Charlotte.

__ADS_1


"Kenapa begitu?" tanya Sean dan Enzo berbarengan lagi.


"Lihat saja dia ..." ujar Charlotte.


Sean pun menunduk ke bawah dan melihat ada bahan merumbai di bawah dengkulnya, "oh ya ampun," ujar Sean seraya menepuk keningnya.


Baju tidur mereka adalah baju tidur pasangan, jadi tentu saja memiliki warna yang sama. Karena itu tadi Sean tidak terlalu memperhatikan.


"Aku tidak ingin kepanikannya menular kepada kami yang di dalam," ujar Charlotte lagi.


"Siap kapten," jawab Enzo yang langsung memegangi Sean Smith agar berhenti mengikuti langkah tim medis membawa Charlotte ke ruang persalinan.


Sayang ... sayang," ujar nya berteriak juga kepada Charlotte dengan tetap memberontak lepas dari pitingan Enzo.


"Kapten sudan memerintahkanku, jadi aku harus menjalankan mandat ini," jawab Enzo.


"Oh ya ampun, kau mau bergulat di sini ya!" ujar Sean lalu membalas dengan meng-KO kan Enzo dan berbalik memitingnya.


"Kau pikir aku selemah itu kah?" ujar Sean sembari mengangkat satu kaki Enzo ke atas sementara Enzo menjambak kerah piyama tidur sean.

__ADS_1


"Kau tidak bisa mengalahkanku, dasar kau Nyonya penggerutu!" ujar Enzo sembari mematahkan pitingan tangan Sean.


"K-kau berani mengataiku, Hah! Makan ini. Dasar Paman Gober," balas Sean sambil menempelkan sandal hotel ke wajah Enzo.


Perawat yang melihat pergulatan dua tuan muda merasa bingung harus menyemangati yang mana karena keduanya sama-sama tampan. Setelah petugas keamanan datang barulah mereka bisa di lerai. "Tuan-tuan, ini di rumah sakit. Bukan arena tinju."


"Aku tahu," jawab Sean seraya bangkit dan mengeratkan kimono gaun tidur milik Charlotte yang ada di tubuhnya itu.


Enzo pun beberapa kali berdehem, lalu pergi mengikuti jejak langkah Sean. Mereka berdua berdiri diam di depan ruang persalinan. Lalu Sean berkata, "Menurutmu ini akan memakan waktu berapa lama?"


"Apakah ada perbedaan waktu lama melahirkan antara anak perempuan dan anak laki-laki?"


"Apakah robekannya akan berbeda antara anak laki-laki dan perempuan?"


"Apakah darah yang keluar akan lebih banyak jika itu melahirkan anak laki-laki, atau melahirkan anak perempuan?".


"Apakah ..." belum juga Sean menyelesaikan pertanyaannya sudah langsung di potong oleh Enzo.


"Stop ... kau ini mau menunggui istrimu melahirkan atau mau menyusun soal cerdas cermat?"

__ADS_1


__ADS_2