
Frezy berkata lagi, "ini adalah neraka yang aku ciptakan untukmu."
"Selamat menikmati dan jangan salahkan aku, karena kau yang telah membangkitkan iblis di dalam diriku," ujar Frezy seraya mencium kening Katie untuk pertama kali dan terkahir kalinya.
Frezy menutup pintu ruang rawat itu dengan sangat pelan seakaan takut akan membangunkan Katie. Perawat yang berjaga di depan memberi senyum kepada Frezy. Dia pun membalas dengan senyuman polosnya.
Mobil seam telah menunggu di depan lobi rumah sakit, Frezy yang melihatnya pun segera mempercepat langkahnya dan masuk ke dalam mobil Sean.
Supir pun melajukan mobil itu, membawa mereka kembali kepada kesayangan mereka masing-masing. Sebelum mereka sampai di Quaint hotel, Sean berkata, "Kau boleh melakukan apa saja kepada orang lain, tapi itu tidak berlaku kepada Diana, istrimu. Satu kali saja aku menemukan kesalahan, maka aku yang akan lebih dulu menghabisimu."
Frezy memandangi Sean yang sudah turun lebih dulu turun dari mobil, dengan penuh makna. Memahami maksud perkataan Sean dia pun turun juga dari mobil dan segera bergegas pergi ke kamar pengantinnya. Pada saat dia masuk, Diana sudah terpulas tidur dengan gaun tidurnya.
Frezy membersihkan dirinya, tidak ingin membawa aroma Katie ketika nanti dia naik ke atas ranjang. Sudah berganti dengan piyama dia pun naik ke atas ranjang besar mereka, lalu tidur dengan memeluk pinggul ramping Diana.
Pada saat ini hal yang sama juga dilakukan oleh Sean, dengan perlahan dia memeluk Charlotte yang sudah tertidur nyenyak sedari tadi. Di masa kehamilannya ini, Charlotte sedikit-sedikit mudah merasa mengantuk.
__ADS_1
Baru saja ingin terpulas, tiba-tiba lengan Sean yang sedang merangkul pinggul Charlotte terasa sakit dan perih, dia merasa ada kuku-kuku yang menancap.
Sean membuka matanya yang baru saja hampir terpulas, dia melihat itu adalah kuku Charlotte yang menancap di lengannya. Melihat ini maka Sean pun langsung merasa panik.
"Kenapa ... apa ada yang sakit?" tanya Sean.
"Bayi kita ..." jawab Charlotte terbata.
"Bayi kita sepertinya akan lahir," jawab Charlotte.
"Aargh ..." terika Charlotte membuyarkan kekosongan pikiran Sean.
Mendengar itu, maka Sean langsung bangkit dari ranjangnya, mengambil jubah panjang piyamanya. Memakainya lalu memapah Charlotte, "Ayo kita ke rumah sakit."
Charlotte mengambil tasnya, lalu pergi bersama suaminya. Ketika sudah masuk ke dalam mobil, Sean malah terdiam memandangi stir mobilnya, seketika dia sepertinya lupa cara menyetir.
__ADS_1
Charlotte menggelengkan kepala, lalu mengambil ponsel dari dalam tas nya, "Enzo, aku akan segera melahirkan, aku sudah di parkiran, bisakah kau turun dan membawaku ke rumah sakit?"
"Apa, melahirkan ... tunggu aku di sana," jawab Enzo dan segera melesat turun.
Enzo membuka pintu kemudi supir, "Kau kenapa?" tanyanya kepada Sean.
Charlotte menjawab sembari menarik napas, "Dia sedikit lupa ingatan."
Enzo menarik Sean dan menempatkannya di kursi belakang, "Kau duduk di sini saja, biarkan aku yang menyetir."
Sean pun patuh, duduk di belakang sambil membimbing Charlotte untuk mengambil napas dalam-dalam. Suara napas Sean mengganggu telinga Enzo, "Yang mau melahirkan itu istrimu atau kau, mengapa kau yang berisik," ujar protes Enzo.
"Fokus saja menyetir, masih mau liburan kan? Maka tebalkan saja daun telingamu itu," jawab Sean.
Enzo pun menutup mulutnya, dia malas berdebat dengan pria yang memakai kimono gaun tidur wanita.
__ADS_1