
Bab 60
Hari-hari persiapan pertunangan pun berjalan dengan lancar, acara akan diadakan di hotel Quaint ini. Jika semua terlihat sibuk, maka Diana masih biasa saja. Malam nanti adalah pesta pertunangannya tapi dia malah sibuk melakukan meeting manajemen. Seakan nanti malam hanyalah sebuah makan malam biasa dengan teman dan keluarga.
Papa beruang memanggil Charlotte, karena hanya dia yang bisa menghentikan Diana untuk bekerja. Dengan sambil mengusap perutnya yang semakin membesar, Nyonya Smith masuk ke ruangan rapat, lalu menarik Diana seraya berkata, “Biarkan sekretarismu bekerja.”
“Eh tapi,” ujar Diana sembari melangkah mengikuti kemana Charlotte menariknya.
Charlotte membawa Diana ke salah satu kamar yang telah Papa Beruang siapkan, “Mulai dandani dia!” perintah Charlotte.
Petugas rias pun segera menarik Diana ke kamar mandi, “Eeh, tunggu dulu,” ujar protes Diana.
Charlotte pun duduk di sofa, seraya mengambil salah satu majalah dan mulai membacanya dengan santai. Mereka memandikan Diana satu jam lamanya, begitu selesai Diana langsung saja protes lagi kepdaa Charlotte, “Kau ini sedang mengerjaiku ya!”
“Mengerjai, Hmm … wah wangi sekali bukan?” jawab Charlotte seraya tersenyum.
Diana pun menyadari jika tubuhnya saat ini sudah sangat bersih dan wangi, dia pun tidak berkata protes lagi. Charlotte langsung saja merangkuk Diana dan berkata, “Nah, karena sudah wangi, sekarang saatnya untuk make up.”
Baru saja Diana ingin protes lagi, Charlotte langsung memegang perutnya, “Aww …” ujarnya.
“Kau kenapa?” tanya Diana dengan panik.
“Bayiku menendang kencang sekali, sepertinya dia tidak suka jika Mamanya dimarahi,” jawab Charlotte lagi.
“Hisssh …” ujar Diana yang akhirnya berhenti protes.
Melihat Diana dengan sukarela duduk di kursi dan di make up, Charlotte pun tersenyum senang seraya mengusap-usap perutnya, “Kerja bagus nak,” puji Charlotte kepada bayinya.
Beberapa jam kemudian Diana pun selesai berdandan, Charlotte pun memujinya, “Wah kau sangat cantik sekali.”
“Bayiku pasti akan senang memiliki ibu baptis sepertimu,” ujar puji Charlotte lagi kepada kawan baiknya itu.
Di Grup Smith, Sean melirik jam tangannya lalu menyudahi pekerjaannya karena harus menghadiri pesta pertunangan Diana. Dia dan Enzo pun segera melaju ke tempat acara. Katie pada saat ini sedang tersenyum sendiri karena merasa senang membayangkan kemenangan yang akan segera dia genggam, prinsipnya jika dia hancur maka musuhnya juga harus ikut hancur bersamanya, Frezy Selama ini diasuh oleh kepala panti asuhan yang sudah mengangkatnya menjadi anak. Berdalih memberinya penghidupan yang layak, maka kepala panti asuhan mengijinkan Katie membawa Frezy.
__ADS_1
Pada saat ini juga, Frezy sudah mengenakan jas tuxedo-nya yang licin dan rapi, sebuah mobil menunggunya di bawah. Dia pun dengan patuh masuk ke dalam mobil yang akan membawanya ke Hotel Quaint.
Abraham pun saat ini sudah ada di Hotel Quaint, dia juga sama seperti tamu yang lainnya, tak sabar ingin menyapa tuan rumah yang akan segera bertunangan. Asisten Tuan Harold mendekati dan berbisik pelan, “Orangnya sudah datang.”
Tuan Harold langsung saja berdiri dan menyambut Tuan Vic dan juga putranya itu, pria yang akan bertunangan dengan Diana malam ini. Sewaktu muda mereka berjanji jika memiliki anak putra atau putri maka akan menjodohkan anak-anak mereka. Sayangnya Tuan Vic tidak memilki anak dan hanya memiliki anak angkat saja.
“Lama tidak berjumpa,” sapa Tuan Vic.
“Aku terlalu sibuk bekerja, dan kau terlalu sibuk mengurus ratusan anak,” jawab Tuan Harlod tertawa.
“Iya … iya sungguh beruntung kita bisa memenuhi janji kita,” ujar Tuan Harold lagi.
Tuan Vic sedikit terdiam lalu berkata lagi, “Apa kau benar-benar tidak menyesal?”
“Menyesal karena apa?” tanya Tuan Harold.
“Kau tahu dia hanya putra angkat saja,” jawab Tuan Vic.
“kau tahu keadaan dia bagaimana,” ujar Tuan Vic.
“Yang aku tahu dia tampan dan berbakat,” imbuh Tuan Harold.
Tuan Vic pun merasa lega, suatu keberuntungan jika putra angkatnya itu memang dikarunia wajah yang tampan, dia pun berkata, “Sebentar lagi orangnya akan datang.”
Tuan Harold pun mengajak kawan baiknya itu menunggu di ruang VIP, acara pun akan segera dimulai. Barulah Diana keluar dari kamar suite, Charlotte juga sudah berdandan sangat cantik. Kehamilannya sama sekali tidak bisa menutupi kecantikan Charlotte.
“Apa kau gugup?” tanya Charlotte.
“Ya sedikit,” jawab Diana dengan nada yang terdengar sedikit gugup.
Tuan Harold dan Tuan Vic tengah menunggu di pintu Aula, “Aku akan masuk lebih dulu,” jawab Charlotte.
Sekretaris Sean mendekati Charlotte seraya berkata, “Nyonya, silakan ikuti saya,” ujarnya seraya mengantar ke tempat Sean duduk menunggu.
__ADS_1
Tuan Vic melihat Diana lalu memujinya, “Kau cantik sekali.”
Diana tersenyum lalu berkata, “Dimana orangnya?”
Bari saja bertanya, calon tunangannya tiba dan berdiri di sisi Tuan Vic, “Nah, ini orangnya,” jawab Tuan Vic.
“D-dia …” ujar Diana, tapi tuan Harold langsung mencubit lengan Diana agar berhenti bertanya.
“Pecayalah, Papa memilihkan pria terbaik untukmu,” jelas Tuan Harold dalam bisiknya.
Tuan Vic segera mengambil bebek karet yang sedang dipegang oleh putra angkatnya itu, dan memberikan kepada asistennya, “Simpanlah ini.”
“Diana ini Frezy, dan Frezy kenalkan ini Diana, “ ujar kedua kawan baik itu.
Tuan Harold mendorong Diana ke sisi Frezy, Tuan Vic merangkulkan tangan putra angkatnya itu ke lengan Diana, seraya berkata, “Ayo saatnya kita masuk.”
Pintu Aula pun terbuka, mereka berempat berjalan masuk ke dalam Grand Ball Room, semua mata memandang kepada pasangan yang akan bertunangan, terdengar sedikit bisik-bisik dari para tamu yang datang, Diana yang begitu berparas cantik, elegan dan dikenal pandai berjalan dengan pria tampan tapi terlihat sedikit kekanak-kanakan.
Abraham termasuk Charlotte pun hampir-hampir tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Frezy berjalan sambil merangkul erat lengan Diana, seakan sedang berlindung di bahu Diana. Charlotte benar-benar terkejut lalu menoleh kepada Sean dan berkata, “Apa kau benar-benar tidak tahu tentang ini?”
Sean masih terlihat tenang, lalu mengambil tangan Charlotte, menepuk tepuknya seraya berkata, “Percayalah jika pilihan Tuan Harold tidak akan salah.”
“Tuan Harold pasti memiliki pertimbangan sendiri, karena itu menyetujui pertunangan ini terlaksana,” imbuh Sean lagi menenangkan hati Charlotte.
Charlotte memandang ke Arah Diana yang terlihat seperti sedang menangani seorang bayi yang ingin selalu bergelayutan bersama mama atau papanya. Tuan rumah memberikan pidato, dan ketika selesai, Abraham memberanikan diri untuk mendekati Tuan Harold dan berkata, “Apa yang terjadi?”
“Maksudmu?” tanya Tuan Harold.
“Pria yang menjadi tunangan Diana,” jawab Abraham.
“Apa ada yang salah dengannya?” tanya Tuan Harold lagi.
“Dia terlihat kekanak-kanakan sekali,” jawab Abraham.
__ADS_1