
Sean menarikan kursi untuk Charlotte duduk, lalu dia pergi naik ke atas panggung untuk memberikan sebuah pidato, “Cinta... Cinta... Cinta... Satu kata yang tidak pernah berhenti menjadi satu topik yang menarik... Entah perasaan apa itu namanya, yang pasti rasa itu menjadi sesuatu yang aneh dan ganjil yang ada dimuka bumi ini,”
“Orang bilang itu namanya Cinta... Hal ganjil yang susah diuraikan. Rasa yang tak pernah pandang bulu. Ganjil, Lucu dan menyebalkan. Tapi, kadang juga indah dan penuh warna, seolah tak pernah ingin berpisah, seolah hanya milik kita, seolah hanya untuk kita, seolah dunia ini hanya milik kita berdua... hahahaha,”
“Itulah cinta...Lima huruf yang mempunyai daya sihir yang sungguh luar biasa...
Tak ada yang bisa menandingi dan tak ada yang pernah bisa membendungnya.
Dia seperti kekuatan semu yang luar biasa,”
Sepanjang pidato Sean selalu tersenyun dan melemparkan pandangannya kepada Charlotte. Wajah Charlotte memerah ketika dia melihat seluruh yang ada di ruangan itu tengah memandangnya. Sean pun turun dari panggung lalu berjalan dengan elegan tampan ke arah istrinya itu, lalu berdiri di depannya. Dia menundukan kepala seraya mencium kening Charlotte dan berkata, “Selamat datang Nyonya Smith.”
Mendengar perkataan Sean, Charlotte hanya bisa membalasanya dengan senyuman, Suaminya itu pun duduk di sebelahnya dan memulai makan malam bersama mereka. Semua karyawan berbisik betapa manisnya perlakuan Direktur mereka kepada istrinya. Sebagian juga ada yang berbisik-bisik tentang katie Crownly yang selama ini terlihat jika wanita itu adalah calon istri bos besar mereka. Tapi, siapa sangka jika malam ini bos besar mereka membawa Nyonya Smith yang sedang mengandung besar.
Keesokan harinya, hampir semua media mengutip pidato indah Sean tentang cinta, foto-foto Sean memandang Charlotte penuh dengan tatapan cinta pun terpampang jelas besar, termasuk foto ketika mencium kening istrinya itu.
Di Grup Smith, juga masih santer pembicaraan tentang kejadian semalam itu, makan malam bersama yang terasa romantis. Enzo masuk dengan membawa koran, “Wuah Tuan Smith, sepertina kau benar-benar menikmati menjadi trending topik ya.”
Wajah Sean terlihat cerah sumringah, bagaimana tidak senang, wajah dia dan wajah Charlotte terpampang besar di salah satu media cetak. Pagi ini dia pun merasa sangat bersemangat untuk menyelesaikan semua pekerjaannya. Sementara, itu di rumah utama, Charlootte duduk di kursi malas sambil membaca artikel tentang dirinya dan Sean.
“Apa dia benar-benar mencintaiku,” gumam pelan Charlotte yang masih sedikit meragu karena berpikir bisa saja Sean bersikap manis kepadanya karena bayi yang telah dikandungnya.
“Sedang memikirkan apa?” tanya Diana yang baru saja tiba.
“Tidak ada,” jawab Charlotte sedikit terbata.
__ADS_1
Diana pun duduk di sisi Charlotte seraya berkata, “Bantu aku memilih cincin pernikahan ya.”
Diana menunjukan katalog koleksi cincin pernikahan dari batu batu berlian yang indah, Charlotte mengambil katalog itu, lalu dia berkata, “Diana.”
“Sekali lagi aku bertanya kepadamu, apa kau benar-benar yakin akan keputusan mu menikah dengan Frezy.”
Diana pun tertawa lalu menjawab, “Oh ayolah, kau ini adalah teman baik ku jadi aku mohon jangan berpikir seperti mereka-mereka ok!”
Diana melanjutkan perkataannya lagi, “Banyak orang yang terlalu mencintai orang lain, sampai dirinya kecewa ketika memahami bahwa orang tersebut biasa saja dengan dirinya. kau masuk terlalu dalam, sementara tuan rumah tidak membukakan pintu. Bisa apa?
“Meski banyak orang mengaku mencintai tanpa mengharap balasan, tapi kekecewaan tetap menjadi perasaan yang tidak bisa terhindarkan ketika kamu mencintai seseorang yang tak punya rasa sama denganmu. Jadi dicintai lebih baik dari pada mencintai,” jelas Diana memberi pemahaman situasi kepada Charlott
Charlotte menghela napas lalu teesenyum dan mulai memberikan pendapatnya “Eum, yang ini bagus … yang ini juga bagus.”
“Apa kabar anak kesayangan ku ini,” ujar Diana seraya mengusap lembut-lembut perut Charlotte.
“Nanti setelah kau lahir, ibu baptis mu ini akan langsung memberikanmu adik bayi untuk menemanimu bermain,” janji Diana dengan bersemangat.
Di apartemen Frezy, terlihat dia sedang serius melakukan sesuatu di komputernya, jari-jari tangannya nampak begitu cepat menulis bahsa koding untuk suatu program. Pada saat ini dia sedang mengerjakan program pesanan dari kliennya yang berada di luar negri.
Sesekali terlihat Frezy berhenti membuat koding karena memperhatikan, memonitoring jalannya program yang telah dia buat untuk klien asing lainnya. Dalam ruang kerjanya terpampang layar-layar datar yang mengeluarkan data yang hanya dimengerti oleh sedikit orang saja.
Konsentrasi Frezy terbuyarkan karena bunyi dering ponselnya, melihat jika nama Diana yang tertera di layarnya maka dia pun segera mengangkatnya, “Ya.” Jawabnya.
“Besok apakah ada waktu, kita harus melihat cincin pernikahan kita,” ujar Diana.
__ADS_1
“ya,” jawab Frezy.
“ok, esok aku akan menjemputmu.” Ujar Diana seraya menutup ponselnya.
Di rumah utama Crownly, terdengar keributan lagi antara kedua orang tua Katie. Tuan Crownly ingin segera bercerai dengan Nyonya Crwonly. Meski sudah hidup terpisah, tapi Nyona Crownly enggan menandatangani surat cerai. Merasa jika bercerai maka dia akan kehilangan setengah kekayaan yang dia miliki sekarang.
“Sampai mati pun aku akan tetap menjadi Nyonya Crwonly!” hardik marahnya kepada suaminya itu.
“Kau ini sudah semakin menua, sudah tidak pantas menemani ku pergi dalam perjamuan bisnis ataupun hal lainnya!” ujar sarkas Tuan Crownly.
“Apa kau lupa, bagaimana usahaku selama ini mendukung bisnis mu!” ujar Nyonya Crownly tak kalah marahnya dengan nada suara suaminya itu.
“Maksud mu dengan menjual tubuhmu?” imbuh Tuan crownly dengan sedikit menghina.
Mendengar ini sudah benar-benar memancing kemarahan Nyonya Crownly, dan membalas perkataan sarkas suaminya itu dengan sangat lantang, “Jika bukan karena tubuhku, maka kau tidak akan sukses.”
Katie yang mendengar pertengkaran sengketa ini langsung saja masuk ke kamarnya, membanting pintu dan menutup kedua telinganya. Hatinya bertambah dengki kepada Charlotte yang pada saat ini terlihat memiliki hidup yang tenang dan sebuah keluarga kecil yang indah. Sementara, dia seperti hidup di neraka.
“Brengsek!” ujar marahnya seraya membanting dan melempar semua barang yang ada di kamarnya.
Puas melampiaskan dia pun pergi meninggalkan kamarnya, lalu berkata kepada pelayan, “Bersihkan kamarku, ganti semua barang-barangnya!”
Katie pun menyalakan mesin, dan melajukannya dengan mengebut, dia tidak perduli dengan lampu merah semua diterabas olehnya sampai-sampai di menabrak seorang pengemis. Bukannya bertanggung jawab, dia malah meninggalkan pengemis itu.
Merasa panik maka dia pun pergi ke tempat Frezy, memiliki kunci dan pintu akses maka dia dengan mudah masuk ke unit apartemen itu, dia membuka pintu dan berteriak memanggil nama Frezy.
__ADS_1