
Dalam diam Sean teringat akan perangai dia selama ini kepada istrinya itu, hatinya pun meredup. Dia berpikir saat ini sudah lebih dari cukup karena Charlotte berada di sisinya. Karena hal ini maka Sean pasrah jika istrinya itu bersikap acuh tak acuh, sedikit dingin.
Sean menutup laptopnya dan kembali ke ruang tamu, Charlotte tidak ada di ruang tamu. Melihat pelayan dia pun langsung bertanya, “Nyonya?”
“Di kamar,” jawab pelayan itu.
Sean pun segera pergi ke kamar utama, dia membuka pintu dan melihat jika Charlotte sedang duduk bersandar di ranjang mereka. Sean berjalan mendekati, seraya duduk di sisi ranjang mereka. Charlotte ingin menarik kakinya yang sedang dia luruskan.
Sean menahannya seraya berkata, “Aku pijit ya.”
Charlotte mengernyitkan alisnya lalu menjawab, “Tidak perlu.”
“Perlu! Kau pasti lelah kan? Kandungan semakin membesar. Itu pasti terasa berat membawanya kemana-mana,” imbuh Sean seraya mulai memijit-mijit kaki istrinya itu.
Charlotte memandang Sean yang terlihat begitu menikmati memijat-mijat kaki. Dia pun menghela napas seraya berpikir,pernikahan mereka pasti akan sangat indah jika sedari awal tidak ada kesalahpahaman antara mereka.
Charlotte mengusap lembut perutnya seraya tersenyum, sungguh saat ini hatinya terasa damai. Sebentar lagi bayi mereka akan lahir, dan Sean ada di sisinya, menjadi suami yang siaga, “Sudah cukup, ini sudah tidak terasa pegal lagi,” ujarnya kepada Sean.
“Tuan Smith,” panggil Charlotte lagi.
Mendengar paggilan formal itu, lagi-lagi membuat Sean terdiam dan menghentikan gerakan tangannya yang sedang memijat, “Ada apa?” tanya Sean dengan suara sedikit tercekat.
“Aku sudah memberikan kesempatan untuk melepaskan diri dariku, lalu mengapa kau malah menahanku?” tanya Charlotte dengan nada serius.
“Kau ini istriku, mana boleh melepaskan aku!” jawab Sean sambil berdiri dan mengepakan kedua tangan di balik punggungnya.
“Tidak cinta, bukankah lebih baik melepaskan?” ujar Charlotte lagi.
“Tidak cinta … tidak cinta,” gumam Sean berkali-kali dalam hati.
Dengan suara sedikit sengau dia berkata, “Apa kau tidak mencintaiku?”
Charlotte sedikit terkejut mendengar pertanyaan Sean lalu dia berkata, “Aku tahu, kau tidak ingin bercerai karena bayi yang sedang ku kandung ini.”
“Aku tidak akan melarangmu untuk menemui bayi kita nanti, jadi jangan takut untuk bercerai,” sambung Charlotte lagi.
__ADS_1
“Apa kau tidak mencintaiku?” tanya Sean lagi.
Charlotte terdiam, tidak bisa menjawab. Napas Sean yang tadi terasa sesak, akhirnya melega melihat sikap Charlotte, dia pun bersimpuh di sisi istrinya itu, lalu mengambil kedua tangan mungil nan indah itu dan mulai menciuminya.
“Kau mencintaiku … kau masih mencintaiku, aku tahu itu,” ujar Sean.
“Aku tahu, aku salah. Kau kupersilakan menghukumku dengan cara apa pun yang kau mau selama tidak meminta cerai ataupun pergi meninggalkanku,” ujar Sean lagi seraya meletakan kepalanya di pangkuan Charlotte.
“Apa kau tahu tentang hati yang terluka ibarat kaca yang pecah. Meski bisa kau satukan kembali, tetapi goresannya masih bisa terlihat,” ujar Charlotte dengan suara sedikit sendu.
Sean mendongak lalu menjawab perkataan Charloote, “Aku tahu, memaafkan tanpa membenci itu membutuhkan waktu. Aku mohon kau mau memberikan aku waktu dan kesempatan untuk bisa mendapatkan maaf itu.”
“ Aku tahu itu akan sangat sulit memperbaiki patah hatimu, aku akan berusaha keras untuk memperbaikinya,” imbuh Sean lagi memohon kesempatan kedua kepada Charlotte.
Dia pun berdiri sambil menatap istrinya itu, lalu dia berkata. “ Pikirkanlah, apakah aku adalah pria yang bisa membuatmu merasa luar biasa pada satu menit atau apakah kau menganggapnya biasa?”
“Ini bukanlah pertanyaan yang harus dijawab dengan cepat,” ujar Sean seraya pergi meninggalkan Charlotte.
Sean menutup pintu dengan pelan, seperti memperlihatkan jika dia tidak marah terhadap reaksi Charlotte terhadap bab baru dalam hubungan mereka ini, tidak marah terhadap penolakannya. Charlotte memandangi kepergian suaminya itu dengan hati yang sedikit galau. Selama ini diperlakukan tidak enak, tiba-tiba suaminya itu bersikap manis, terasa sedikit aneh di hati.
“Hei, kenapa kau ada di sini?” tanya Enzo.
“Perusahaan ini milikku, mengapa aku tidak boleh ada di sini?” jawab sarkas Sean.
“Bukankah kau bekerja dari rumah?” imbuh Enzo.
Sean menatap dingin kepada kawan baiknya itu, Enzo pun mengangkat kedua tangannya seraya berkata, “Ok … ok, kau dipersilakan datang kapan saja.”
Sean pun masuk ke ruang kerjanya, tapi tidak ada yang bisa dia kerjakan karena tidak bisa konsentrasi, memikirkan betapa dinginnya sikap Charlotte padanya saat ini. Sementara itu, Diana membawa Frezy ke hotelnya.
Papa beruang langsung saja menyambut pasangan muda itu dengan senyuman sumringah, “Selamat datang.”
“Halo,” sapa balik Frezy dengan sedikit terbata.
“Aku titip dia ya, aku harus segera membuka rapat dulu,” ujar Diana seraya menyodorkan Frezzy kepada Papa Beruang.
__ADS_1
“Eh ini … tapi, harus bagaiamana?” ujar Papa beruang kepada Diana yang sudah berlalu pergi.
Papa Beruang pun menoleh kepada Frezy, Melihat bebek karet yang ada di tangannya maka dia pun berkata, “Apa kau suka berenang?”
Frezy menganggukan kepalanya memberikan jawaban ‘iya’ melihat ini Papa Beruang pun tersenyum lalu berkata lagi, “Ayo, kita pergi ke kolam renang.”
Di ruang pertemuan. Peserta rapat hanya tinggal menunggu Diana saja, pintu terbuka pemilik hotel pun menyapa semuanya, “Mohon maaf karena terlambat.”
Hari ini Diana ada pertemuan dengan para dokter yang ingin menggelar acara seminar di Quaint hotel. Abraham hadir juga di dalam pertemuan ini. Diana sekilas memandang kepada kawannya itu lalu melanjutkan rapat mereka.
Setelah selesai rapat, Diana segera pergi meninggalkan ruang pertemuan. Abraham mengejar langkahnya, “Apa sedang terburu-buru?” tanyanya kepada Diana.
“iya,” jawab Diana.
“Mau kemana?” tanya Abraham lagi.
“Ada tunanganku di sini, dia sedang menunggu ku?” ujar Diana.
Mendengar jawaban Diana, maka Abraham langsung menarik lengan wanita itu seraya berkata, “Apa kau benar-benar akan menikah dengannya?”
Abraham mendorong tubuh Diana ke dinding, “Kau ini kenapa?” tanya Diana dengan nada sedikit marah.
“Aku tanya, apa kau benar-benar akan menikahinya?” ujar Abraham lagi.
Diana mendorong tubuh Abraham, lalu berkata, “lihatlah, cincin yang melingkar di jariku. Ini tandanya aku akan segera menikah.”
“Kau tidak mengenal pria itu, dia adalah pria asing bagimu. Mengapa begitu ceroboh memilih calon suami!” ujar marah Abraham lagi.
“Dia bahkan terlihat seperti anak kecil, lihat saja kelakukannya, membawa bebek karet kemana-mana,” ujar sarkas Abraham tentang Frezy.
“Kau ini mau menikah, apa mau jadi pengasuhnya hah!?” ujar Abraham lagi.
Abraham terdiam, ketika satu tamparan mendarat di wajah Abraham, “Jaga ucapanmu, dia adalah pria yang aku pilih. Jadi jangan menghina dia seenak lidahmu!” ujar marah Diana.
Diana mendorong Abraham dan bergegas pergi meninggalkannya. Baru saja beberapa langkah dia pun berhenti dan berkata, “Seseorang hadir dalam hidup kita, tidak harus selalu kita miliki selamanya. Karena bisa saja, dia sengaja diciptakan hanya untuk memberikan pelajaran hidup yang berharga.”
__ADS_1
Abraham memandang kepergian Diana dengan sambil memegang pipinya yang terasa panas karena tamparan keras dari Diana, keduanya tidak menyadari jika ada orang lain di sana yang mengamati perdebatan mereka tadi.