
Charlotte mengelus lembut perut besarnya sembari mengangguk, tiba-tiba Sean menundukan kepalanya, mendekatkan ke perut istrinya itu. Seakaan meminta untuk diusap lembut juga.
Charlotte tertawa melihat sikap kekanakan dari suaminya itu, dia pun perlahan meletakan tangannya di puncak kepala Sean.
Perlahan Charlotte mengusap lembut puncak kepala suaminya itu, pada saat ini hati Sean terasa sejuk dan damai. Dia ingin saat-saat seperti ini akan selalu dia rasakan sepanjang hidupnya. Tidak terasa air mata Sean pun menetes karena merasa sangat bahagia, dia meyakinkan dirinya jika tidak hari ini, hari esok atau nanti istrinya itu pasti akan memaafkannya. Meski harus menunggu seribu purnama pun maka dia akan bersabar hati untuk menunggu maaf itu datang dan untuk menyembuhkan luka yang pernah dia torehkan.
“Papa menyayangi kau, Papa sangat mencintai Mama, jadi jangan memberinya kesusahan ok!” ujar Sean sambil menciumi perut Charlotte.
Hati Charlotte sedikit terharu mendengar perkataan suaminya itu. Sean pun segera kembali duduk ke posisi semula, lalu melajukan mobilnya menuju ke rumah mereka. Charlotte merasa sedikit lelah dan kekenyangan sepanjang perjalanan pun dia tertidur.
Mereka telah sampai di rumah, tapi Sean tidak berani membangunkan. Dia memandangi Charlotte dengan penuh makna seraya berkata, “Aku tahu ini akan sangat sulit untuk mendapatkan hatimu lagi, yang terjadi kini aku hanya ingin membuatmu bahagia dan membuat retak yang aku buat tidak akan berbekas terlihat,” janji Sean seraya mengecupi lembut wajah Charlotte.
Charlotte membuka kedua matanya yang langsung bertatapan dengan kedua mata Sean, sepersekian detik mereka berdua sampai akhirnya Charlotte membuka suaranya, “Apa kita sudah sampai?”
“Ya, kita sudah sampai,” jawab Sean seraya menarik tubuhnya menjauh, turun dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Charlotte keluar.
“Hati-hati,” ujar lembut Sean seraya merangkul dan memegang tangan istrinya itu.
Begitu masuk Sean langsung berkata kepada pelayan, “Bawa Nyonya beristirahat di kamarnya.”
“Aku masih sedikit ada pekerjaan yang harus aku selesaikan, kau istriahat duluan saja ya,” ujar Sean kepada Charlotte.
Sean mencium kening Charlotte lalu bergegas pergi ke ruang kerjanya, Dia mengambil ponsel dari sakunya dan menghubungi Enzo, “jadi bagaimana?”
“Aku sudah menemukan rumah sakit jiwanya,” jawab Enzo.
“Bagus, jika sudah menemukan sampelnya segera lakukan tes DNA!”
__ADS_1
Sampel bisa diambil dari darah, air liur, dan rambut. Ketiga metode pengambilan sampel tersebut yang paling lazim. Dilakukan jika ingin melakukan tes DNA garis keturunan. Sean menyudahi percakapannya dengan Enzo, lalu membuka laptopnya. Dan, mulai memasuki dunia tipu-tipu, bagi Sean dunia bisnis adalah dunia tipu-tipu. Banyak sekali pebisnis yang hanya mementingkan keuntungan tanpa memperhatikan dampaknya pada sekitar baik itu pada orang lain atau pun pada lingkungan.
Sean mempelajari jenis bidang usaha yang Crownly geluti selain perbankan. Satu jam, dua jam dia berada di ruang kerja. Sean meregangkan badannya dan melihat jam di dinding sudah menunjukan jam 12 malam. Dia pun segera menyudahi pekerjaannya lalu pergi ke kamar utama.
Melihat istrinya telah tertidur, Sean melangkah perlahan ke kamar mandi, mencuci wajah, menyikat gigi lalu berganti baju dengan piyama tidur. Dia menarik selimut, merebahkan diri di sisi Charlotte.
Sean memeringkan tubuhnya, memandangi wajah terpulas nyenyak istrinya lalu membuat dia merasa mengantuk juga, dan ikut terlelap di sisi Charlotte.
Di pagi hari Charlotte terbangun karena merasakan deru napas yang menjalar di tengkuk lehernya, dia pun merasakan jika saat ini sedang ada yang memeluknya, “Hei!” ujar pelan Charlotte.
“Eum …” jawab Sean.
“Apa kau tidak pergi bekerja?” tanya Charlotte dengan sedikit canggung.
“Sebentar lagi, biarkan aku memelukmu sebentar lagi,” jawab Sean.
Merasa masih mengantuk maka Charlotte pun tidur kembali. Mereka terbangun pada jam sembilan pagi itu pun karena Charlotte merasa lapar, “Sean … Sean bangun, apa kau tidak pergi bekerja!”
“Sean,” jawab pelan Charlotte.
“Sean kau memanggil ku Sean, tidak Tuan Smith lagi,” ujarnya senang, turun dari ranjang dan sedikit berjingkrak kesenangan.
“Oh ya ampun, kau ini kekanakan sekali,” ujar Charlotte dengan sedikit tertawa.
Sean mengambil ponselnya di atas nakas, lalu menghubungi manajer HRD dan berkata, “Hari ini selesai jam kantor kita semua pergi makan bersama, pesan satu restoran untuk kita semua makan!”
HRD Manajer sedikit merasa bingung, tapi ini adalah perintah bos jadi mau tidak mau dia segera mencari restoran dan segera memesannya untuk Grup Smih pada hari ini. Charlotte yang mendengar percakapan itu langsung saja bertanya, “Mau ada acara apa?”
__ADS_1
“Nanti malam kita akan makan malam bersama dengan seluruh karywan Grup Smith,” jawab Sean dengan tawa sumringahnya.
“Bersiaplah, aku akan menunggumu di restoran nanti malam,” ujar Sean seraya langsung masuk ke kamar mandi untuk bersiap bekerja.
Pelayan masuk dan membawakan sarapan untuk Charlotte, “Tuan bilang hari ini, Nyonya sarapan di kamar,” ujar pelayan itu seraya meletakan meja lipat kecil di atas ranjang besar milik Tuan dan Nyonya Smith.
Sean pun tiba di Grup Smith, baru saja tiba sudah diberondong oleh pertanyaan dari Enzo, “Ada acara apa, makan malam di restoran untuk semua karyawan?”
“Iya,” jawab Sean.
“Dalam rangka apa?” tanya Enzo lagi.
Sean berdiri, mengambil napas panjang lalu dengan mata berkaca-kaca dia berkata, “Charlotte sudah bersedia memanggil namaku.”
Enzo sedikit terdiam, lalu menyadari jika selama ini panggilan yang biasa Charlotte lontarkan untuk Sean adalah Tuan Smith. Dia pun berkata, “Wah jika begitu aku ucapkan selamat.”
Sore harinya, sebuah mobil telah siap untuk mengantar Charlotte, kepala pelayan akan mengantarkan Nyonya Smith ke resotran. Pada saat ini Sean menghubungi ponsel Charlotte, “Hati-hati di jalan.”
“Eum …” jawab Charlotte seraya tersenyum sambil memandangii pemandangan jalan di balik jendela kaca mobilnya.
Sean mengambil jas kerjanya dan bergegas juga pergi ke restoran, Sean lebih dulu sampai dan menunggu di lobi restoran. Begitu melihat mobil yang membawa istrinya itu tiba. Dia langsung saja menghampiri dan langsung secara pribadi membukakan pintu mobil itu.
Charlotte menglurukan tangannya, Sean meraihnya dan merangkulkan di lengannya. Melihat jika restoran terlihar hening, Charlotte pun berkata, “Apa mereka sudah datang?”
“Sudah, mereka hanya tinggal menunggu bintang tamunya,” jawab bercanda Sean.
Dua penjaga yang beridri di depan pintu pun membukakan pintu aula restoran itu, langkah Charlotte sempat terhenti ketika melihat di dalam sudah begitu ramai dengan orang, Sean pun menundukan kepalanya dan berbisik, “Angkat kepalamu, kau adalah Nyonya Smith, kau juga pemiliki Grup Smith.”
__ADS_1
Charlotte menatap kepada suaminya itu, masih tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Sean mengangguk untuk meyakinkan istrinya itu. Lalu mengajaknya masuk sambil memegangi telapak tangan yang sedang merangkul lengannya itu.
Tuan dan Nyonya Smith berjalan diatas karpet merah, Semua karyawan berdiri sembari bertepuk tangan ketika keduanya berjalan. Dulu ketika menikah sean menyembunyikan status Charlotte sebagai istrinya,dan kali ini dia ingin mengatakan dengan lantang jika Charlotte Brown adalah Nyonya Smith.