Simfoniku

Simfoniku
MASA LALU 7


__ADS_3

Reni datang membawa motornya.


"ayo An" ajak Reni


"aku pulang ya sayang" pamit Reni kepada Johan


" ya sayang, hati-hati sama orang judes belakang kamu"


"hehhhh.. " bentak Ana tak Terima


Reni hanya ketawa melihat kelakuan mereka berdua.


Di post satpam.


"pak roni (nama satpam) saya nitip motor saya ya, kaki saya sakit gak bisa nyetir" kata Ana


"oke siap neng" dengan senyuman khasnya


"makasih pak, yaudah kita pulang ya pak" pamit Reni


"ya neng hati-hati"


Diperjalanan pulang Ana mengingat sesuatu, oh iya Ana ingat kelakuan Johan tadi pagi.


" Tapi tadi kata Johan dia hanya becanda, segampang itu kah dia becanda, kurang ajar banget tuh anak, untung aku belum cerita sama Reni, huhhh " gerutu Ana dalam hati


"Kamu kenapa An? " tanya Reni yang sedang menyetir motornya.


"kenapa apanya aku gapapa"


" lah itu mukamu kayak orang marah-marah" kata Reni menunjuk arah spion


" gapapa kok, eh hubunganmu sama Johan baik-baik aja kan? "


" baik sih, tapi gak tau kenapa akhir-akhir ini dia jarang hubungin aku duluan, kenapa emangnya? "


" emmm gapapa sih cuma nanya aja, hubungan kalian kan udah satu tahun, kamu gak ada rasa curiga atau apa gitu sama Johan? "


" curiga apa Ana? "


" misal curiga kalau dia selingkuh? "


" selama ini sih aku percaya sama dia, tapi kemarin pas aku pinjam hpnya, aku liat galeri ada foto cewek yang difoto dari belakang cewek itu pakai jilbab, aku nanya itu siapa, katanya sepupu dia" jelas Reni panjang lebar


" kamu curiga itu selingkuhannya Johan? "


" ya pertama liat sih aku mikir gitu, tapi aku percaya kalau cewek itu emang sepupunya"


Karena terlalu asyik mengobrol, mereka tidak sadar kalau Andre yang sedang boncengan dengan Santi menyalip mereka.


"Ann.. itu Andre sama Santi" kata Reni


"lah terus? "


"kamu gak marah? "


"Reni emangnya aku punya hak apa untuk marah aneh-aneh aja kamu"

__ADS_1


Padahal sebenarnya hati Ana terasa di remas-remas, entah sampai kapan dia akan cinta sendirian kayak gini.


"ya gak ada sih, tapi seharusnya kamu perjuangin cinta kamu An" kata Reni


" Males Ren, gak penting"


"huuuuu dasarrr"


Tak terasa perjalanan pulang berakhir, Reni mengantarkan Ana sampai kedalam rumah, menuntun Ana yang jalannya kayak orang pincang.


"Assalamualaikum buk, Ana pulang" Ana masuk kedalam rumah yang memang pintunya dalam keadaan terbuka.


"Waalaikumsalam" ibu datang dari arah dapur


Mereka gantian mencium punggung tangan bu Yani lalu duduk diruang tamu yang sempit itu.


"pintunya kok gak ditutup bu , kalau ada maling gimana? " kata Reni


" Tadi kebetulan ada tukang yang benerin listrik, jadi pintunya ibu biarin terbuka, eh nak Reni gimana kabar mama kamu, semenjak kalian pindah ibu belum pernah ketemu? "


Ya Reni dan Ana dulu tetanggaan, saking dekatnya mereka seperti saudara sendiri yang setiap hari bersama. Tapi sekarang Reni pindah kerumah baru yang lebih bagus di komplek perumahan, karena Reni termasuk anak orang berada di daerah tersebut. Sedangkan Ana masih tinggal di perkampungan.


"kabar mama baik kok bu" kata Reni


"kaki kamu kenapa An?" tanya bu Yani


" gapapa buk, tadi cuma jatuh pas main futsal"


"hadehh Ana, gak hati-hati kamu"


"gini bu Yani sebenarnya... " belum sempat melanjutkan pembicaraan perut Reni di cubit sama Ana.


Ibu Yani hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan mereka berdua.


"Yaudah bu, Reni pamit pulang takut dicariin mama, soalnya tadi belum ijin"


" Loalah gak makan siang disini dulu Ren" ucap Bu yani


" tidak perlu repot-repot bu terimakasih, An besok aku jemput kamu kesekolah"


" Ya Ren" kata Ana


" la motor kamu dimana An? "


" aku titipin disekolah bu, soalnya kakiku agak sakit, susah nyetir"


" kalau gitu Reni pamit bu Assalamualaikum" seraya mencium punggung tangan bu yani


" Waalaikumsalam"


Reni pulang ke rumahnya, dan Ana masuk ke kamarnya untuk ganti baju sholat trus makan siang.


Selama kaki Ana masih sakit, Reni dengan setianya antar jemput Ana.


Hari terakhir classmeeting di isi dengan acara penampilan band-band sekolah atau juga anak-anak yang lain perwakilan dari kelas masing-masing. Karena kelas XI-B tidak ada yang ngeband, entah apa yang ada dalam pikiran Wali kelasnya sehingga menunjuk Ana untuk menyanyi di atas panggung mewakili kelasnya.


Ketika semua anak didalam kelas. Bu vena selaku wali kelas XI-B datang.

__ADS_1


"Ana.. " panggil bu vena


"iya bu"


" kamu yang wakilin kelas kita untuk nyanyi ya"


" haaa kok saya bu, mana bisa bu, saya tidak bisa nyanyi bu" wajah kaget ana bercampur bingung.


" kata Reni kamu bisa nyanyi? "


Ana memeloti Reni, tapi Reni hanya cengengesan.


" bohong bu, saya tidak bisa nyanyi bu" tolak Ana


"kamu aja yang nyanyi An, suaramu juga gak terlalu buruk, gimana teman- teman setuju gak" ucap ketua kelas meyakinkan


" setujuuu" kata teman sekelas Ana


"duhhh gimana ini, malulah lah aku dilihat banyak orang" batin Ana


"oke Ana kamu yang wakilin, tidak ada penolakan" kata bu vena


" tapi bu" Ana merengek


" tidak ada tapi-tapian, kalau gak mau nilai kamu saya kurangi" ancam bu vena


"jangan bu, yaudah saya mau"


" yeeeyyyyy..." sorak-sorak teman sekelas Ana


"gara-gara kamu sih Ren... huhhh, ngapain coba bilang ke bu vena kalau aku bisa nyanyi padahal kan gak bisa" omel Ana


"ucuucu cayang, kamu pasti bisa oke, hehe" Reni meyakinkan Ana sambil tersenyum memamerkan gigi-giginya


"nyebelinnn" gerutu Ana


"oke teman-teman semua, mari kita berkumpul dilapangan kita saksikan penampilan dari teman-teman kita" ucap pembawa acara.


Semua siswa menuju kelapangan. Acara dimulai satu persatu perwakilan Kelas sudah selesai tampil. Kini giliran kelas XI-B untuk tampil.


"duhhh Ren, aku deg-degan nih,, gimana kalau ntar aku pingsan di atas panggung gara-gara grogi" kata Ana


"yaelahhh ada-ada aja loh, rileks Ana, tarik nafas buang, tarik nafas buang. oke beby good job" ucap Reni menyemangati sahabatnya.


"penampilan selanjutnya dari kelas XI-B, beri tepuk tangan" kata pembawa acara


"ayo An, ituloh udah di panggil" ucap Reni


" tapi Ren"


"udah cepetan" Reni mendorong Ana untuk naik ke atas panggung


Ana naik ke atas panggung , dia hanya menunduk tidak berani menatap teman-temannya. Ketika dia mencoba untuk menegakkan kepala, tepat sekali dia bertatapan dengan sepasang mata yang dia rindukan.


DEGGGG.. DEGGGG..


Jantung Ana berdetak dengan cepat, seperti sedang lari maraton. Semua mata tertuju kearah Ana, karena sedari tadi dia hanya diam saja.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2