
Seorang Ana yang tidak suka dandan dia lebih suka tampil apa adanya. Dengan sangat merasa berat hati dia harus menerima di dandani ibunya dan harus memakai gamis yang kata dia seperti ibu-ibu.
tok.. tok.. tok..
"An ayo keluar tamunya udah datang" Kata bu Yani membujuk Ana.
" Ana malu buk, Ana gak mau keluar" jawab Ana dari dalam kamar dalam keadaan pintu masih tertutup.
CEKLEK...
Bu Yani membuka pintu dan melihat Ana yang memandangi wajahnya lewat cermin.
" Anak ibuk itu cantik, coba liat " rayu bu Yani sambil melihat wajah anaknya.
" tapi buk " bantah Ana
" gak ada tapi-tapian, ayo keluar sekarang kasian mereka sudah menunggu"
Ana pun terpaksa mengikuti kemauan ibunya, dengan malu-malu akhirnya dia menampakkan diri.
DEGG....
Jantung Ana serasa berhenti berdetak.Dia melihat ada lelaki yang dia kenal, lelaki yang pernah di cintainya tapi hanya bertepuk sebelah tangan, dan bahkan mungkin sekarang pun dia masih mencintai lelaki itu tapi tertutupi oleh kebencian.
Lelaki itu, dia Andre yang sedang berdiri bersama orang-orang yang salah satu dari mereka Ana juga mengenalnya, yaitu bu sari ibunya Andre.
Pakain rapi, memakai baju batik, rambut pendeknya juga tertata rapi membuat setiap wanita memujanya tak terkecuali Ana.
" Andre ngapain dia disini" tanya Ana dalam hati dan melihat Andre tanpa berkedip. Begitu pula Andre yang menatap dirinya tanpa berkedip. Sampai senggolan ibunya membuat dia tersadar dari lamunannya.
" buk ada apa ini, kenapa Andre ada disini juga? " tanya Ana antusias jantungnya tidak berhenti bergetar.
" Karena sang wanita sudah hadir jadi langsung saja kita mulai acaranya" ucap seorang pria yang berumur sekitar 40 tahunan, yang menambah banyak pertanyaan dalam benak Ana.
Mereka semua duduk di kursi yang sudah disiapkan bu Yani begitu pula Ana yang duduk disamping ibunya dengan wajah menunduk tidak mau melihat Andre.
" Assalamu'alaikum wr. wb" ucap salam seorang pria paruh baya yang wajahnya mirip dengan Andre.
" waalaikumsalam wr wb" jawab mereka serempak, sedangkan Ana menjawabnya dalam hati.
__ADS_1
" eee langsung saja saya beserta keluarga datang kesini untuk menyampaikan maksud dari Anak saya Andre untuk melamar Ana menjadi istrinya" kata pria itu yang membuat Ana langsung mendongakkan kepala ,kaget campur bingung entah dia salah dengar atau tidak tapi rasanya dia ingin lari dari tempat ini untuk menyadarkan bahwa apa yang di dengarnya itu hanya mimpi.
Keringat dingin membanjiri tubuh Ana dia menggenggam erat tangan ibunya.
" An... apa yang di ucapkan bapakku benar, aku kesini ingin melamarmu untuk menjadi istriku, apakah kamu bersedia menerima lamaranku? " ucap Andre dengan lancar tidak seperti biasanya yang hanya diam seperti patung.
Jangan tanya tentang perasaan Ana, yang pastinya sulit untuk di ungkapkan dengan kata-kata.
" buk apa aku bermimpi tolong cubit pipiku buk" kata Ana menyuruh ibunya untuk meyakinkan dirinya kalau dia hanya bermimpi sambil menahan air mata yang ingin terjatuh.
" enggak sayang kamu gak mimpi, ini nyata kamu akan menjadi istrinya Andre" ungkap bu Yani meneteskan air mata kebahagiaan.
Ana menunduk tidak berani melihat orang-orang, dia belum percaya kalau ini nyata.
" gimana nak Ana, apa kamu bersedia menerima lamaran anak saya Andre" ucap bapaknya Andre membuat Ana sedikit demi sedikit mengangkat kepalanya, dan melihat Andre tersenyum, iya sudah lama Ana ingin melihat senyuman Andre seperti dulu waktu masih kelas dua SMP. Dan akhirnya sekarang Ana melihat senyum itu lagi.
Wajah Ana pucat pasi, dia bingung harus jawab apa, tapi inilah yang di impikan Ana selama ini meskipun dia mengira ini tak akan terwujud. suasana hening seketika.
" gimana an? " tanya bu Yani
Ana melihat wajah ibunya meminta persetujuan, ibunya pun mengangguk.
"Alhamdulillah" ucap mereka serempak.
Andre tersenyum manis menatap Ana.
Acara tukar cincin pun berlangsung. Ibunya Andre memakaikan cincin itu kepada Andre dan Ana karena mereka belum muhrim jadi harus melalui perantara.
Pembahasan kapan akan di langsungkan pernikahan sudah sepakat, mereka akan menikah satu bulan dari sekarang. Lalu dilanjut dengan acara makan-makan.
Ana hanya diam tidak berani berkutik. Lalu dia berpamitan untuk kedepan mencari udara. Ternyata Andre mengikutinya.
Ana tidak berani berbicara, Andre juga hanya diam memasang wajah esnya tapi sekarang lebih sedikit hangat.
" apa coba maksudnya gak ada angin gak ada ujan tiba-tiba datang nglamar, tapi tetep aja sikapnya aneh, diam aja kayak patung, apa jangan-jangan dia ada niatan buruk sama aku, mau ngebuat aku meleleh sama dia trus ntar aku di tinggalin pas lagi sayang-sayangnya.. aishh kayak lagu aja.. " batin Ana menggerutu.
Dan akhirnya Ana ada keberanian untuk mengungkapkan isi hatinya.
" Apa maksud semua ini? " tanya Ana memasang muka garangnya tidak seperti tadi yang hanya diam dan malu.
__ADS_1
" Ya kita akan nikah " jawab Andre santay
" nikah itu bukan permainan " kata Ana sedikit kesal.
" Aku gak bilang ini permainan" jawab Andre lagi dengan santay sambil duduk di kursi menikmati kue-kue buatan bu Yani.
" Susah ngomong sama orang aneh" ucap Ana lalu masuk kedalam langsung ke kamar tanpa basa basi dengan orang-orang.
Andre hanya senyam senyum sendiri penuh kemenangan.
Acara selesai Andre dan keluarganya berpamitan untuk pulang.
Ana menatap sinis ke arah Andre, sebenarnya dia senang karena akhirnya dia bisa menjadi istri seseorang yang dia idam-idamkan semenjak dulu, tapi dia ragu dengan sikap Andre yang aneh dan gak bisa ditebak itu.
"kalau begitu kami permisi, terimakasih atas jamuannya" ucap bapaknya Andre
" An aku balik dulu " kata Andre tapi Ana hanya menanggapi dengan senyuman yang terpaksa.
" Assalamu'alaikum "
" waalaikumsalam "
Selepas kepergian keluarga Andre, Ana langsung masuk kedalam, dan diikuti oleh keluarganya.
" ayah ibuk kalian udah ngrencanain ini semua? " tanya Ana merasa di bodohi
" iya kami udah ngrencanain ini semua, karena kata Andre kamu juga cinta sama dia, jadi ibu pikir kamu pasti nerima dia" ungkap bu Yani dengan jujur.
" emang Andre bilang apa aja sama ibuk?" tanya Ana antusias.
" kamu udah suka sama andre semenjak SMP, dan Andre yakin sekarang kamu masih menyukainya jadi dia memberanikan diri untuk melamar kamu"
" Apaaa....Andre bilang gitu, kurang ajar banget tuh orang" kata Ana memaki karena kesal.
" Jangan ngomong gitu, dia itu calon suami kamu" tutur ayah Ana yang akhirnya membuka suara.
" bener itu kata ayah kamu " kata Bu Yani membenarkan.
bersambung
__ADS_1