Simfoniku

Simfoniku
BUNGA


__ADS_3

Andre pun berjalan ke arah Ana sambil membawa bunga tersebut. Ramai sorak- sorak dari para undangan dan semua mata pun pandangannya tertuju ke arah Andre.


" ini bunga buat ibu, semoga keindahan bunga ini seperti keindahan dalam hidup ibu" Andre menyerahkan rangkaian bunga itu kepada bu Yani ibunya Ana, entah apa yang di pikirkannya.


" terimakasih nak Andre semoga Allah SWT selalu mencurahkan kebaikan dalam hidupmu" doa bu yani


" Aamiin "....


Semua orang bertepuk tangan kecuali Ana, dia merasa aneh. Aneh banget, tidak mengerti jalan pikiran Andre yang sebenarnya.


" hmmm kirain mau di kasih ke aku, ternyata ke ibuk" gerutu Ana dalam hatinya


" huhhh kepedean banget kan aku, dasarrr " Ana melangkah pergi meninggalkan kerumunan orang-orang itu.


Pesta berakhir ketika Ana ingin pulang dan mencari keluarganya ternyata dia tidak menemukan mereka.


" Ren sekali lagi selamat ya" Ana memeluk sahabatnya untuk berpamitan.


" eh kamu liat ibuk sama yang lain gak? " tanya Ana


" loh tadi bu yani udah pamit deh An, katanya mau pulang, lah kalian gak ketemu? "


" enggak , aku gak ketemu mereka, sebentar aku telpon dulu"


tut.. tut.. tut..


Ibuk : Assalamu'alaikum An,


Ana : Waalaikumsalam buk, ibuk dimana?


Ibuk : ibuk sudah perjalanan pulang, maaf ya ibuk ninggalin kamu, ibuk fikir kamu masih ingin disana.


Ana : lah gimana sih ibuk, hmmm yauda deh Ana pulang sendirian aja.


Ibuk : hati-hati An.


Ana : iya buk Assalamu'alaikum


Ibuk : Waalaikumsalam.


" hmmm ternyata mereka udah pulang, bisa-bisanya ninggalin aku" kata Ana sedikit kesal dengan keluarganya itu.


" yaudah kamu balik sama Andre aja An" kata Reni memberikan solusi.


" gak ah ngapain, aku bisa pulang sendiri" jawab Ana

__ADS_1


" Aku pamit ya Ren"


" iya An hati-hati, kalau udah sampai nanti kabarin"


" siap Assalamu'alaikum "


" waalaikumsalam "


Ana pulang dengan raut wajah kesal. Sampai di depan dia nunggu bus tapi dari tadi gak ada bus yang lewat Ana jadi nambah kesal.


" Ayo naik " Tiba-tiba Andre datang menawarkan bantuan.


" hehh kamu itu lama-lama kayak setan tau gak, tiba-tiba muncul, tiba-tiba ilang" kata Ana ketus.


" Mau pulang gak atau mau nunggu bus sampai malam? "


" huhhh nyebelin banget sih kamu jadi orang, siniin helmnya"


Ana pun terpaksa mengikuti kemauan Andre daripada dia nunggu bus tapi gak datang datang.


Perjalanan pulang kurang lebih tiga jam, Ana merasa punggungnya pegal.


" Ndre bisa berhenti sebentar di warung gak, pegel nih punggungku mau istirahat sebentar" kata Ana dengan nada tinggi.


Tanpa jawaban Andre pun membelokkan motornya ke rest area. Mereka lalu masuk ke dalam warung bakso lesehan yang lumayan luas .


" duhhh enak banget bersandar kayak gini" ucap Ana.


Si Andre hanya diam saja sambil memainkan hpnya entah siapa yang ngechat dia, Ana gak ingin peduli lagi.


Tak lama pesanan pun datang. Mereka menikmati makanan dalam diam, tapi karena rasa penasaran Ana yang memuncak, akhirnya dia memberanikan diri untuk bertanya.


" Ndre aku mau nanya, dijawab ya, kalau kamu tetep diam aja, aku gak mau pulang bareng kamu" kata Ana mengancam, tapi sebenarnya dia takut kalau beneran Andre tetap diam , dia bakalan pulang sendiri.


" nanya apa? " si patung akhirnya bicara juga.


" kamu kenapa sih sekarang jadi orang aneh, jarang ngomong, gak jelas tau gak" tanya Ana bertubi-tubi


Suasana hening seketika, Ana sudah merasa kalau dia bakalan pulang sendiri.


" Aku gapapa perasaan kamu aja" jawab Andre sambil memasukkan pentol ke dalam mulutnya.


Ana lega karena dia tidak jadi pulang sendiri. tapi dia tidak puas dengan jawaban Andre. Mana mungkin perasaan dia aja, orang Reni juga tau kalau semenjak kelas tiga SMP Andre sikapnya berubah, sampai sekarang. tapi lebih baikan sekarang sih karena mereka sering berdua, ya meskipun cuma kebetulan dan lebih banyak diam.


Setelah mendengar jawaban Andre, Ana tidak bertanya lagi.Dia berdiri ingin membayar ke kasir tapi di cegah oleh Andre. Dan pada akhirnya Andre yang bayarin.

__ADS_1


" Makasih udah di bayarin" kata Ana ketika mereka berada di parkiran.


Tak ada jawaban, Andre tetap saja memasang muka es nya.


Perjalanan hanya memakan waktu satu jam, tibalah mereka di sebuah rumah sederhana yang halamannya di penuhi bunga warna warni, ya itu rumah Ana dari semenjak ia kecil, ibunya suka menanam dan merawat bunga maka jadilah taman yang indah di halaman rumahnya.


" Makasih udah nganterin" kata Ana turun dari motor dan melepas helm.


" aku langsung balik, titip salam buat yang lain" kata Andre


" iya " jawab Ana singkat.


Andre pun pergi meninggalkan Ana yang masih berdiri di depan pagar rumahnya.


**


Jam berganti hari, haripun berganti minggu. Hari ini Ana tidak ada jadwal kursus jadi dia ingin malas-malasan saja dirumah.


Tapi entah kenapa ibunya Ana memasak makanan yang cukup banyak seperti sedang ada acara.


" Buk masak banyak banget, mau ada tamu? " tanya Ana yang penasaran.


" Iya nanti ada tamu, kamu mandi gih dandan yang cantik" jawab bu Yani sambil merapikan meja tamu.


" ngapain harus dandan buk, emang tamunya siapa sih, penting banget apa pakek dandan segala? " tanya Ana antusias.


" pokoknya sekarang kamu mandi, ntar ibuk yang dandanin kamu"


" maless ahh buk, aku mau tiduran aja" kata Ana lalu pergi ke dalam kamar.


Bu Yani hanya geleng- geleng kepala melihat kelakuan anaknya itu tapi ia tidak kehabisan akal agar anaknya mau mandi dan dandan.


tok.. tok.. tok..


"An.. ayo mandi sebentar lagi tamunya akan datang, kita semua udah rapi tinggal kamu aja" Kata bu Yani membujuk Anak sulungnya itu.


" Males buk kalian aja yang nemuin tamunya" jawab Ana dari dalam kamar.


" An kita semua harus nemuin mereka, karena itu tamu penting ayah kamu, supaya usaha ayah kamu bisa berkembang, kamu mau usaha ayah kamu jadi merugi" kata bu Yani mengancam.


" emmm iya iya Ana mandi nih" Ana terpaksa menuruti ibunya demi usaha yang sedang dijalankan ayahnya.


Suara mobil berhenti di depan rumah Ana. Orang-orang berpakaian rapi turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah. Keluarga Ana menyambut mereka dengan suka cita, hanya Ana yang masih ribet di dalam kamar karena dia malu untuk keluar gara-gara dandanannya tapi dia juga penasaran siapa tamunya.


Seorang Ana yang gak suka dandan dia lebih suka tampil apa adanya. Dengan sangat merasa berat hati dia harus menerima di dandani ibunya.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2