
Elis yang menyaksikan tingkah laku suami dan orang-orang kepercayaannya itu, hanya dapat tertawa riang di hatinya, melihat kepolosan para pria dewasa yang begitu ke kanak-kanakan.
"Berhentilah kalian bertiga, Putraku bukan hanya milik kalian saja. Dia adalah milik semua orang yang sudah lama menantinya di luar sana, bawalah dia ke dekat jendela. Biarkan Putra kecilku membawa kebahagiaan bagi semua orang." Elis berkata kepada Michael dan kedua sahabatnya, untuk segera memperkenalkan putranya kepada masyarakat yang sudah menunggu di luar Mansion untuk melihat Tuan Muda yang begitu mereka dambakan.
"hehehe.. Kamu benar sayang, baiklah. Ayah akan memperkenalkanmu kepada orang-orang yang akan selalu mendo'akan kebaikanmu. Kalian berdua ikut denganku." Michael berjalan menuju Balkon kamarnya yang menghadap ke halaman depan Mansion di ikuti oleh Jenderal Varus dan Sebas di belakangnya, dimana saat ini, halaman depan Mansion sudah dipadati oleh ribuan orang dari berbagai usia dan kalangan masyarakat, yang ingin melihat momen sakral proses pengenalan Putra pertama sang Marquis kepada rakyatnya.
ini adalah Momen penting bagi seorang pemimpin bangsawan ketika memiliki putra pertama mereka, dimana sang pemimpin akan memberi putranya sebuah nama dan disaksikan oleh seluruh rakyatnya.
saat ini, keadaan di luar Mansion yang tadinya ramai dengan banyak perbincangan, tiba-tiba saja menjadi sangat hening, bahkan suara dedaunan di dahan pohon yang tertiup angin, dapat terdengar dengan sangat jelas. Semua mata tertuju kepada Michael yang saat ini tengah berdiri di atas balkon kamar sambil menggendong seorang bayi bersama dengan dua orang kepercayaannya. Balkon ini terletak di luar kamar yang berada di lantai kedua Mansion, sehingga membuat semua orang yang hadir di luar Mansion saat ini, dapat melihat Michael dan putranya dengan sangat jelas.
"Aku Michael Rosenthal, sebagai Marquis Zeron saat ini dan Kepala keluarga Rosenthal ke 13. Akan memberikan penghargaan berserta kompensasi yang setinggi-tingginya, kepada seluruh prajurit yang telah berjuang dan mengorbankan nyawanya di medan pertempuran. Sehingga wilayah Zeron yang kita cintai ini dapat terhindar dari kehancuran. " Michael memberikan pidato singkatnya kepada semua orang yang hadir dihalaman Mension, sambil menggendong Aland Putranya.
Pidato singkat dan ucapan terimakasih darinya itu, di sambut dengan tepuk tangan dan sorakan yang begitu meriah dari ratusan orang di bawahnya.
"Hidup Marquis.. Hidup Pasukan Zeron.." "Terimakasih banyak Tuan"
"Semoga Dewa selalu memberkatimu"
Terdengar berbagai sorakan dan ucapan terimakasih dari setiap orang, atas kebijaksanaan dan keputusan yang telah dibuat oleh Michael sebelumnya.
"Syukurlah, saat ini Zeron memiliki pemimpin yang bijaksana dan dicintai rakyatnya seperti Michael. Sehingga hal itu akan memudahkan setiap rencanaku kedepannya dan menyelamatkan dunia ini dari kehancuran." Aland tersenyum melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah orang-orang di sekitarnya.
__ADS_1
Ketika semua orang sedang bersorak dengan suara yang lantang dan penuh suka cita, Jenderal Varus kemudian mengangkat tangan kanannya, untuk memberikan sebuah tanda kepada setiap orang agar berhenti berbicara.
Dengan Karismanya yang luarbiasa, keadaan yang sebelumnya sangat ramai dan penuh antusias, tiba-tiba saja kembali menjadi tenang tanpa ada suara keributan sedikitpun.
"Bertepatan di hari yang bersejarah ini, putra pertamaku telah lahir ditengah pertempuran sengit melawan ribuan Monster yang hendak menyerang Benteng Zeron sebelumnya. Dimana pada saat itu, Aku dan seluruh pasukan Zeron telah terdesak dan mundur hingga ke garis pertahanan terakhir."
"Hanya ada kematian dan suara teriakan penuh rasa sakit dari para prajurit yang telah gugur mendahuluiku saat itu. Membuatku begitu putus asa dan hanya bisa membayangkan kehancuran yang akan terjadi di seluruh wilayah Zeron, setelah kami semua mati dalam pertempuran itu."
"Namun takdir berkata lain. Dewa Luvinus memberikan pencerahan kepadaku di detik-detik terakhir itu, membuatku dapat memahami dan membangkitkan kekuatan warisan darah keluarga Rosenthal yang telah lama hilang."
"Meskipun telah mendapatkan pencerahan, tubuhku yang saat itu telah terluka dan kehilangan banyak tenaga, tidak cukup kuat untuk menahan beban besar dari penggunaan kekuatan warisan darah. Syukurlah, kita memiliki generasi penerus yang sangat hebat dan pemberani, seperti tuan Roddin dan Nona Jasel yang berada di sana." Michael memuji Rodin dan Jasel dengan memandang dan memeberi senyuman yang tulus kearah keduanya.
"Mereka berdua juga telah memberikan kontribusi yang besar di akhir pertempuran, Nona Jasel telah membantu Jenderal Varus bersama seluruh pasukan untuk mengulur waktu dan melindungi tuan Rodin bersama penyihir lainnya, yang sedang memulihkan kekuatanku saat itu, hingga mampu melancarkan serangan penentuan."
"Terimakasih atas keberanian dan dedikasi anda." Michael sedikit menundukan kepalanya, memberikan rasa hormat dan apresiasi darinya untuk memotivasi para generasi muda seperti Rodin dan Jasel.
"Tii..Ti..Ti..Tidak masalah tuan Marquis, Ka..Ka...kam." tepat sebelum Rodin menyelsaikan ucapannya, Jasel memukul pundak nya dengan keras. Karena kesal dengan ucapannya yang terbata-bata.
"BERBICARALAH DENGAN BENAR.. BHUUK!!" Terdengar suara pukulan yang sangat kencang.
Tingkah lucu anak-anak ini, sontak mengundang gelak tawa dari setiap orang yang menyaksikan pertengkaran keduanya.
__ADS_1
"Kami merasa terhormat dan sangat senang bisa membantu anda tuan Marquis" Jasel yang sedikit merasa malu, kemudian melanjutkan ucapan Rodin yang sempat tertunda sebelumnya, dengan membungkuk dan sedikit menundukan kepalanya untuk memberikan penghormatan khas seorang bangsawan.
"Baiklah, karena kelahiran putraku ini bertepatan dengan kemenangan pasukan Zeron. Maka, akan kuberikan putraku sebuah nama. Aland Rosenthal, Seorang pria yang akan selalu membawa kebahagiaan dan kedamaian di hati setiap orang." Michael berteriak menyebutkan nama anaknya itu dengan penuh semangat dan mengangkat tubuh bayi Aland di atas kepalanya. Menunjukan wajah mungil Aland yang lucu dan mengemaskan dengan rabut seputih Perak dan wajah rupawan dari seorang Bangsawan Elf.
"Apakah ini memang sebuah takdir? Aku juga diberi nama Aland di kehidupanku kali ini. Tapi yasudahlah, mungkin ini semua memang sudah kehendak dewa. Aku yakin, kehidupanku kali ini akan jauh lebih baik daripada sebelumnya. Terimakasih atas semua Berkahmu ini Dewa."
Setiap orang yang melihat wajah bayi Aland saat ini. Langsung berteriak histeris dan menyebut-nyebut namanya.
"Ahhhh... Tuan Aland, kami mencintaimu"
"Tuan Aland, aku ingin menikahimu"
"Tuan Aland.. Lihat kemari"
Berbagai teriakan dan ucapan histeris yang lebih banyak di dominasi dari kaum wanita ini, terdengar begitu kecang hingga membuat setiap orang khususnya kaum lelaki, begitu keheranan dengan tingkah laku kaum wanita ini.
"Lihatlah itu, tuan muda Aland yang baru terlahir kedunia saja, sudah mendapatkan banyak sekali perhatian dari para wanita. Bahkan ada yang meminta untuk di nikahinya, cobalah kau bandingkan dengan dirimu itu kawan. Hahahaha.." seorang kesatria berbicara kepada teman di sebelahnya.
"Hahaha, kau benar kawan. Ini adalah fakta yang cukup menyakitkan. Hahaha...."
Bahkan Kedua Pria dewasa yang menyedihkan ini, masih bisa tertawa di atas penderitaan mereka hanya dengan melihat sosok Tuan muda yang begitu mereka banggakan.
__ADS_1