
Aland yang saat ini sedang di pangku oleh Sebas di sudut ruang kamar, menyaksikan Pertempuran Elis dan Seraphina yang menghadapi seorang Assassin dari kejauhan.
Kekuatan mereka yang luar biasa membuat setiap serangan dan kemampuan dari keduanya, menghancurkan seisi ruangan.
Dalam sekejap, ruangan yang sebelumnya megah dan indah itu berubah menjadi pemandangan yang hancur berantakan. Furnitur terpental dan hiasan-hiasan dinding terjatuh hingga pecah berkeping-keping. Lantai yang dulunya halus dan indah, kini dipenuhi dengan pecahan-pcahan batu dari serangan Proyektil Bumi yang dilancarkan Seraphina sebelumnya.
Namun, kehancuran ruang kamar utama itu, tidak berhenti sampai di sini. Serangan terakhir dari Elis menggunakan senjata jiwa miliknya, yang dipadukan dengan kekuatan energi Elemental bumi dan alam. Melepaskan sebuah sebuah Ledakan Energi yang sangat dahsyat, hingga membuat lubang yang begitu besar pada dinding ruangan yang mengarah keluar halaman. Lubang itu memperlihatkan halaman mansion dengan jelas dari dalam ruangan, seolah-olah menciptakan sebuah gerbang besar yang langsung mengarah keluar.
Cahaya sinar bulan purnama, memancar masuk melalui lubang besar yang telah terbentuk, menyinari tubuh Elis yang berdiri di sudut ruangan, nafasnya terengah-engah setelah pertarungan yang sengit itu terjadi.
Tetesan keringat mengalir di wajahnya yang lelah, namun kepuasan terpancar dalam matanya. Keadaan ruangan yang hancur adalah bukti dari kebangkitan kekuatannya yang telah lama menghilang.
Dalam keheningan malam yang terisi dengan hembusan angin, Elis mengumpulkan tenaganya kembali. Ia melangkah maju menemui putranya yang sedang di pangku oleh sebas di dekat tempat tidur.
"Sebas, apakah putraku baik-baik saja?" ucap Elis yang menghawatirkan keadaan putranya.
"Tuan muda baik-baik saja nyonya, tolong maafkan kesalahan hamba karena datang terlambat untuk menyelamatkan anda dan tuan muda. Saya mendapatkan sedikit hambatan ketika menuju kesini." ucap Sebas sambil menundukan kepalanya untuk meminta maaf.
"Terimakasih atas pertolongan mu Sebas, kamu tidak perlu menyalahkan diri sendiri. Berkat kejadian ini, sepertinya keinginan kuat dari dalam hatiku untuk melindungi Aland dari serangan Assassin itu sebelumnya, telah membuka Segel Spiritual di dalam jiwaku secara Paksa dan mengembalikan kekuatanku yang telah lama hilang. Semua ini pasti sudah kehendak Dewa." Ucap Elis sambil menggendong kembali putranya yang tampak begitu ceria.
"Selamat atas kebangkitanmu Nyonya, Tuan Marquis pasti akan sangat terkejut setelah mendengar kabar mengenai kejadian ini."
"Hei Sebas, apakah menurutmu Putraku ini adalah pembawa Keberuntungan? Dia terlihat begitu ceria, seolah segala sesuatu berjalan sesuai dengan rencananya." ucap Elis yang bertanya kepada Sebas, sambil menatap Wajah Aland dan tersenyum kepadanya.
"Hmmp.. Hamba juga merasakan hal yang sama Nyonya, Sejak pertarungan anda sebelumnya. Tuan muda tampak begitu Antusias memperhatikan setiap laju pertarungan, sambil sesekali tertawa dan tersenyum kepada anda. Seolah dirinya sedang mendukung dan menyemangati anda dari kejauhan." Sebas menyampaikan kebenaran yang dilihatnya ketika Menggondong Aland sebelumnya kepada Elis.
__ADS_1
Aland yang mendengar pembicaraan Sebas dengan ibunya ini, tampak begitu terkejut ketika mendapati kedua orang dewasa itu melihat ke arahnya.
"Apakah aku akan tertangkap basah kali ini?" Aland sedikit panik, setelah mendengar pernyataan dari kedua orang dewasa di dekatnya.
"Hahaha.. Bukankah dia anak yang luar biasa Sebas, ketika dia tumbuh besar nanti. Mungkin dirinya akan selalu merepotkanmu."
"Itu akan menjadi sebuah kebahagiaan untuk hamba Nyonya." Sebas Tersenyum dan membungkukan badannya untuk memberikan sebuah penghormatan.
"Pyuhh.. Syukurlah, mereka tidak menyelidiki aku lebih jauh. Insting orang tua memang sangat mengerikan. Jika aku tidak pandai menyembunyikan rahasiaku kedepan nya, sepertinya mereka berdualah yang akan selalu mencurigai setiap tindakanku."
Aland akhirnya dapat beenafas Lega untuk saat ini, setelah berbagai rintangan yang terus menerus datang menghampirinya. Saat ini matanya tiba-tiba saja berbinar setelah melihat Jendela Pemberitahuan System muncul di depan matanya.
[Selamat! Anda telah berhasil lolos dari rencana pembunuhan, dan menyelamatkan orang lain dari kematian]
[Mendapatkan Tittle :"The Catalyst of Hidden Potential"]
...***...
Keesokan harinya, matahari pagi bersinar dengan terang di wilayah Zeron, menyinari Mansion Pribadi Marquis yang tampak sangat ramai dengan para pekerja di pagi hari. Semua orang terlihat sangat sibuk saat ini, ketika mengetahui telah terjadi penyerangan terhadap keluarga Marquis tadi malam.
Sementara itu, di sebuah ruang kamar lainnya yang berada di dalam Mansion Pribadi Marquis. Elis terlihat sedang duduk bersandar di atas tempat tidur, bersama dengan tubuh mungil Aland yang terbaring di sebelahnya.
Wajah kelelahan dan penuh kantuk, terlihat jelas saat mata Aland yang kecil terus berkedip-kedip dengan sangat lelah. Hal itu di karenekan sepanjang malam, dirinya tidak dapat tidur.
Setelah para Assassin yang menyerang tadi malam itu berhasil di kalahkan, puluhan prajurit berjaga silih berganti di sekitar Mansion dan seluruh ruangan, membuat suasana di sekitar kamar tidur tempat a Aland beristirahat, menjadi begitu ribut dan ramai oleh suara para penjaga, ditambah kehadiran dua orang perempuan di sebelahnya yang terus menerus bercerita sepanjang malam.
__ADS_1
Kedua perempuan itu tidak lain adalah Elis dan Seraphina sahabatnya, yang sudah sangat lama tidak bertemu. Mereka menghabiskan waktu sepanjang malam untuk bercerita dan mengobrolkan banyak hal hingga pagi hari menjelang.
Mereka terus bergosip dan tertawa tanpa henti, hingga tak menghiraukan bayi kecil yang berusaha mati-matian untuk dapat tidur dengan tenang di sebelahnya.
Aland, yang sudah tak tahan dengan keasyikan ibunya yang mengobrol dengan Seraphina, akhirnya tidak dapat menahan kantuknya lebih lama lagi. Dengan gerakan tangan yang gemetar, ia menggelengkan kepala dalam keadaan setengah sadar, memberikan sinyal terakhir kepada ibunya.
"Aku sangat mengantuk!" ucal Aland dengan suara yang lesu.
Namun, Elis dan Seraphina masih asyik tertawa tanpa henti, dan tidak menyadari isyarat yang sudah di tunjukannya. Sangking kesalnya, Aland pun mengambil tindakan drastis dengan memutar tubuhnya di tempat tidur dan membuat tingkah aneh seorang bayi yang begitu lucu.
"berisik, berisik, berisik. Ku mohon, aku ingin tidur." bisik Aland dengan suara kecil yang berusaha keras merayu ibunya. Namun, Elis dan Seraphina masih tidak menyadari maksud yang disampaikannya.
Hal itu semakin membuat Aland merasa putus asa, meski sudah menggerak-gerakkan kakinya dengan pola yang konyol, seperti seorang penari salsa di atas tempat tidur. Elis dan Seraphina masih saja melanjutkan percakapan mereka tanpa henti.
Hingga pada akhirnya, Aland pun menghela nafas panjang dari hidungnya. Dengan gerakan tangan yang dramatis, ia menutup mata dan menyerah pada rasa kantuknya yang tak tertahankan.
Dengan perlahan, tubuh kecil Aland melemas dan ia terjatuh ke dalam tidur yang mendalam. Elis dan Seraphina akhirnya sadar akan keadaan bayi mereka yang terlihat begitu mengantuk. Mereka menatap Aland yang terlelap dengan raut wajah yang penuh penyesalan, kemudian Elis dan Seraphina saling memandang satu sama lain dan melepaskan tawa yang riang Bersama-sama.
"Hahaha, tampaknya dia tak bisa menahan kantuknya lagi!" kata Elis di antara serangkaian tawa.
"Ya, putramu sangat lucu dan menggemaskan!" Seraphina menjawab sambil tertawa terbahak-bahak.
Keduanya kemudian berjalan keluar dari kamar itu dengan senyum di wajah mereka, sementara Aland terus tertidur pulas tanpa peduli dengan obrolan mereka yang membuatnya begitu mengantuk.
Dalam keheningan yang penuh kebahagiaan, Elis dan Seraphina tahu bahwa cerita ini akan menjadi anekdot lucu yang akan mereka ceritakan kepada Aland di kemudian hari.
__ADS_1