
Jasel yang berada di luar perpustakaan juga dibuat terkejut karena merasakan kekuatan Magis yang begitu dahsyat tiba-tiba saja menerjang tubuhnya dari dalam ruang perpustakaan. dia mencoba untuk memahami situasi dan hendak masuk kembali kedalam perpustakaan. Namun yang terjadi malah sekujur tubuhnya terasa gemetar, pikirannya seolah di ikat oleh suatu kekuatan magis yang misterius, membuatnya sulit untuk bergerak atau menggunakan kemampuannya dengan normal.
“A.. Apa yang sebenarnya terjadi di dalam sana, mengapa tubuhku sangat sulit untuk di gerakan. Mungkinkah ini adalah kekuatan yang dimiliki tuan muda. Semoga saja hal buruk tidak terjadi di dalam sana.” Jasel yang kehilangan kekuatan magisnya untuk berkomunikasi dengan Rodin melalui sihir Telepati, hanya bisa pasrah dan menyimpulkan situasi yang sedang terjadi saat ini.
Disisi lain, Alan terlihat sangat tenang. Dia memandang sosok Rodin yang begitu pucat di hadapannya. Dia ingin membuktikan bahwa bakatnya adalah sesuatu yang istimewa, bahkan untuk standar dunia sihir mereka yang penuh misteri.
"Bukankah tidak sopan untuk melihat privasi seseorang tanpa izin tuan Rodin? Saya harap.. Anda dan nona Jasel dapat memahami keadaan ini." Dengan nada yang sedikit menyinggung, Aland berbicara kepada Rodin yang duduk tersimpuh di hadapannya.
Setelah dirasa cukup untuk memberi keduanya pelajaran, Aland kemudian menghentikan kemampuan Wisdom Domination miliknya, dan berjalan menghampiri Rodin yang saat ini terjatuh dan duduk di lantai.
“Apakah Anda tidak apa-apa tuan Rodin.” Ucap Aland seraya menjulurkan tangannya untuk membantu Rodin bangkit dari Lantai.
“Fyuuhhh... Dari awal saya sudah menduga bahwa hal semacam ini mungkin akan terjadi, dan ternyata firasatku memang benar.
Maafkan atas kelancangan kami tuan muda. Semua ini adalah Ide gila yang direncanakan oleh Jasel sebelumnya, sekali lagi... saya harap Anda dapat memaafkan kesalahan kami berdua.” Rodin menyelesaikan perkataannya sambil meraih tangan Aland dan bangkit dari lantai.
“Permintaan maaf diterima.. Mulai Sekarang ayo kita berteman tuan Rodin.” Ucap Aland sambil tersenyum tulus kepada Rodin, lalu melirik kesudut ruangan.
“Tentu saja Anda juga akan menjadi teman saya nona Jasel.” Aland berbicara kepada sosok Jasel yang sejak beberapa saat yang lalu, bersembunyi di balik Lemari buku.
Jasel yang lagi-lagi terkejut karena keberadaannya dapat diketahui dengan mudah oleh Aland, hanya bisa menarik nafas panjang dan melepaskannya dengan suara yang pasrah.
__ADS_1
“Heeemmm... Hahhhhh... Mohon maaf atas segala kesalah pahaman ini tuan muda, semua ini adalah ide yang sudah saya buat. Sebagai gantinya, tolong berikan kami sebuah hukuman.” Ucap Jasel sambil sedikit membungkukan badannya untuk menunjukkan rasa hormat dan ketulusan.
Rodin yang melihat Jasel sahabatnya meminta maaf kepada seseorang untuk pertama kalinya, tampak begitu terkejut dan tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh sahabatnya itu. Pasalnya, sosok Jasel yang dikenalnya selama ini adalah seorang wanita yang begitu keras kepala bahkan kepada ayahnya sendiri yang tidak lain adalah Jenderal Varus, sosok yang menjadi tangan kanan Marquis Zeron saat ini.
Setelah melihat kesungguhan yang ditunjukan oleh sahabatnya itu, Rodin kemudian mengalihkan kembali pandangannya kepada Aland. Dia hawatir Aland akan benar-benar menjatuhkan hukuman kepada mereka berdua.
Merasakan kehawatiran dari kedua orang dihadapannya, Aland kemudian tersenyum.. dan memikirkan sebuah rencana untuk memberi keduanya hukuman yang ringan.
“Permintaan maaf diterima, kalau begitu.. mulai sekarang Anda juga akan menjadi teman saya nona Jasel.. dan sebagai hukumannya.. kalian berdua harus menemaniku bermain kedalam hutan pada hari ini. Apakah kalian bersedia?” tanya Aland sambil memberikan senyuman yang tulus kepada keduanya.
“A.. Apakah Anda benar-benar serius dengan hukuman semacam ini tuan muda?” jawab Jasel yang sedikit terkejut namun sedikit lega, karena dirinya berpikir terlalu jauh mengenai sosok Aland di hadapannya. Diapun berpikir, bagaimanapun juga Aland tetaplah seorang anak berusia 7 tahun, meskipun dia memiliki bakat yang begitu kuat dan misterius. Namun kenyataan bahwa dirinya hanya memberikan hukuman untuk bermain, adalah hal yang polos dan wajar bagi anak-anak seusianya.
“Tentu saja aku serius, ada banyak tempat yang ingin aku kunjungi di dalam hutan, aku harap kalian berdua dapat menemaniku kesana.” Aland menegaskan kembali permintaannya. Tentu saja saat ini dirinya hanya berpura-pura menjadi seorang anak yang polos, hal ini dilakukannya untuk mengurangi ketegangan yang sebelumnya terjadi dan kecurigaan dari kedua orang dihadapannya itu.
Disisi lain, Rodin hanya bisa kembali pasrah karena lagi-lagi harus terseret persoalan baru karena ulah sahabatnya.
“Haahhhhh... Apa boleh buat, sepertinya hanya hal ini yang bisa kami lakukan untuk anda. Terima kasih atas kemurahan hati Anda Tuan muda.” Rodin kembali memberikan rasa hormatnya kepada Aland.
“Yoshh... kalau begitu tunggu apa lagi, ayo kita pergi kesana sekarang juga..!” ucap Aland dengan santai sambil mengajak keduanya berjalan keluar dari perpustakaan.
Mereka bertiga pun akhirnya meninggalkan perpustakaan Keluarga Rosenthal, dan pergi menuju ke hutan yang berada di dekat perbatasan wilayah Zeron dengan Lembah Volem.
__ADS_1
Rodin dan Jasel mengikuti Aland dengan rasa ingin tahu didalam hati mereka. Terlepas dari awal Pertemuan yang kacau, mereka mulai merasa bahwa permintaan dari Aland untuk menemainya bermain kedalam hutan, bukanlah sesuatu yang bisa dianggap enteng. Hal ini menyangkut keselamatan Tuan Muda mereka dan kepercayaan yang telah diberikan oleh Marquis Zeron kepada keduanya.
“Jasel? Apakah kamu juga merasakannya, entah firasatku ini benar atau tidak. Tapi sepertinya... pada saat ini, kita berdualah yang sedang di uji kelayakannya oleh Tuan Muda.” Ucap Rodin kepada Jasel dengan menggunakan sihir Telepati.
“Ya.. Kau benar, sejak awal.. memang kitalah yang sedang di uji olehnya.. Fyuuhh.. Ini benar-benar memalukan.” Jawab Jasel dengan nada yang begitu lemas.
“HAHAHAHA... Sudahlah... Bukankah memang hal seperti ini yang diharapkan oleh Tuan Marquis, sejak awal beliau memang meminta kita untuk mengenali tuan muda dan melatihnya.. Aku rasa menemaninya bermain kedalam hutan seperti ini, bukanlah ide yang buruk untuk melakukan kedua permintaannya itu secara bersamaan.”
“Ya, kamu benar Rodin... Selain itu, apakah kamu sudah mengirim kabar kepada tuan Marquis mengenai kegiatan kita hari ini?” Tanya Jasel dengan serius.
“Tentu saja! Aku sudah mengirimkan laporan yang mendetail kepadanya.” Jawab Rodin dengan sedikit keresahan di wajahnya.
Setelah itu, mereka berdua kembali mengikuti Aland yang memimpin perjalanan kali ini dengan bantuan Semangat dan kebahagiaan di wajahnya.
"Rodin..jasell.. Ayoo lari lebih cepat, aku tidak sabar ingin segera berendam di sungai.. Hahaha." Ucap Aland sambil berlari dan menoleh kebelakang sambil melambaikan tangannya kepada Rodin dan Jasel.
Setelah Aland berbicara kepada Rodin dan Jasel yang berlari di belakangnya, dia kemudian meminta sistem untuk menungeluarkan sebuah peta yang di dapatkannya dari Sistem sebagai hadiah karena telah menyelsaikan tugas yang diberikan.
"Mari kita lihat, seberapa jauh lagi tujuan kita kali ini." ucap Aland sambil membuka sebuah peta kuno di tangannya.
Dia memiliki keyakinan, bahwa lokasi yang ditunjukan di dalam peta ini, ada di sekitar pedalaman hutan yang berbatasan dengan wilayah Volem.
__ADS_1
Hal ini membuat Aland menjadi semakin bersemangat untuk pergi menjelajah dan mengeksplorasi hutan. Ditambah dengan bantuan dari seorang kesatria dan penyihir hebat yang ikut bersamanya kali ini, semakin membuatnya percaya diri.