
Embun pagi berkilauan di atas daun-daun pohon yang tumbuh subur di wilayah Zeron. Matahari pagi menyinari tanah dan ladang yang subur dengan sinar hangatnya yang mempesona.
Di kediaman pribadi Marquis Zeron, Aland yang saat ini sudah berusia 7 tahun, baru saja terbangun dari tempat tidurnya. Dia berjalan menuju jendela kamar untuk membuka Tirai tebal yang menghalangi cahaya Matahari yang mencoba menerobos masuk kedalam ruangan.
"Sraakkk!!" Terdengar suara Tirai yang di buka.
“Heeemmm Ahhhhh... Udara pagi di wilayah Zeron memang yang terbaik, ini benar-benar sejuk dan menyegarkan.” Ucap Aland dengan penuh semagat sambil menghirup udara segar dari jendela kamarnya.
Dia menyaksikan pemandangan wilayah zeron yang sangat indah dari tempat tinggalnya yang berada di dataran tinggi wilayah Zeron, pemandangan dari pemukiman wilayah Zeron yang ramai, terhampar luas di bawahnya.
Tidak lama kemudian, seorang pelayan wanita mengetuk pintu kamar Aland dan menghampiri dirinya yang berdiri di depan Jendela Kamar.
“Tuan muda, apakah Anda sudah bangun?”
“Ya, aku sudah bangun Cheryl!” jawab Aland.
“Apakah kami boleh masuk Tuan muda, Tuan Marquis dan Nyonya Elis sudah menunggu Anda di meja makan. Anda harus segera berpakaian, dan bergabung dengan mereka untuk Sarapan pagi.” Desak Cheryl kepada Tuan muda yang di layaninya.
Ini adalah sebuah prosedur yang cukup umum di dunia ini, dimana Para pelayan wanita akan membantu untuk menyiapkan segala kebutuhan yang diperlukan oleh seorang Putra Bangsawan, termasuk membantu mereka mengganti pakaian setiap harinya.
“Emmm.. Cheryl, bisakah kita melewatkan prosedurnya. Aku sudah berumur 7 tahun saat ini, jadi aku bisa memakai pakaianku sendiri..”
__ADS_1
“Itu tidak diperbolehkan Tuan Muda, kami akan tetap membantumu. Kami akan masuk sekarang.” Ucap Cheryl dengan tegas.
“Tu.. tunggu Cheryl.. Aku bisaa..” sebelum Aland menyelesaikan perkataannya, Cheryl dan beberapa orang pelayan Wanita sudah masuk kedalam kamar dan membawanya ke depan lemari pakaian.
“Akhhh Dewaa.. Selamatkan aku. Meskipun ini adalah hal yang wajar bagi seorang putra Bangsawan berumur 7 tahun di Dunia ini, tapi aku ini tetaplah seorang Pria Dewasa di kehidupan ku sebelumnya.. Jika beberapa orang pelayan wanita membuka bajuku seperti ini, hal macam apa yang mungkin dipikirkan seorang Pria sepertiku.” Gumam Aland di dalam hatinya, dengan wajah pucat tanpa ekspresi sambil menutup kedua matanya.
Setelah beberapa saat kemudian, Cheryl dan beberapa Pelayan wanita lainnya sudah selesai melakukan tugas mereka.
“Kiiyaaahh... Tuan muda sangat lucu dan menggemaskan.. Lihatlah Anda Tuan, apakah sekarang Anda sudah mulai merasa malu saat saya mengganti pakaian Anda?” Ucap Chery sambil menggoda Tuannya.
“Berhentilah menggodaku Cheryl, A.. Aku, hanya masih sedikit mengantuk. Terima Kasih atas kerja keras kalian semua.”
“Kyaaaaa.... Anda begitu mempesona Tuan Muda.” Ucap para pelayan wanita yang semakin menggila dengan sikap dan prilaku Tuannya.
Aland berbicara di depan cermin, merenungkan kehidupannya selama beberapa tahun terakhir. "Sudah Tujuh tahun sejak aku terlahir kembali di dunia ini, aku bersyukur Dewa Luvinus telah mengirimku ke dunia ini sebagai Apostle-nya." gumamnya dengan suara rendah.
Langkah kakinya menghampiri pintu kamar, dan dengan penuh semangat, dia melangkah keluar menemui kedua orang tuanya di meja makan. Cheryl dan Para pelayan lainnya mengikuti Aland dengan lemah lembut di belakangnya.
“Baiklah, ayo kita temui ayah dan ibu.” Ucap Aland dengan penuh semangat.
Langkahnya beriringan dengan irama hatinya, Aland tiba di ruang makan utama. Di sana, ayahnya, Marquis Michael, duduk dengan sikap tegar dan bijaksana, sementara ibunya, Elis Yellowhope, memancarkan keanggunan sebagai seorang permaisuri yang cantik dan sosok seorang ibu yang begitu lembut.
__ADS_1
"Selamat pagi, Ayah, Ibu," sapa Aland dengan hormat sambil membungkuk rendah.
"Selamat pagi, Aland," jawab Marquis Michael dengan senyuman hangat. "Bagaimana tidurmu semalam?"
"Aku tidur dengan nyenyak, Ayah," jawab Aland sambil tersenyum.
Elis yang melihat putra kesayangannya mengenakan pakaian seorang bangsawan yang tampak megah dan mempesona, membuat hatinya terpana dan langsung melompat ke arah putranya, dia menerkam Aland putranya, seperti seekor singa betina yang bermain dengan bayi kecilnya yang menggemaskan.
"Kyaaaa... Putra kecilku yang tampan, kamu terlihat semakin gagah dan menggemaskan dengan pakaian ini, Kyaaa... ibu sangat mencintaimu.. kemari dan peluk ibumu ini.. mmm muach... muach.. muach.."
Marquis Michael dan para pelayan yang sudah biasa melihat kejadian ini, hanya bisa tersenyum dan tertawa bahagia di dalam hati mereke, ketika melihat kedekatan antara Aland dengan sosok ibunya.
“Ehemm.. Ehem.. sayang, bukankah putra kita harus sarapan terlebih dulu, lihatlah dia sudah begitu lemas karena kamu terus memeluknya seperti itu." ucap Marquis Michael kepada istrinya, karena tidak tega melihat putranya yang terlihat kesulitan untuk bernapas.
Elis pun melihat kearah suaminya sambil tetap memeluk Aland yang terjebak diantara kedua gunung Everest miliknya.
"apa yang kamu bicarakan sayang? tentu saja putra kita akan selalu senang jika ibu yang di cintainya, memeluknya seperti ini.. Bukankah begitu Aland?" tepat ketika Elis menoleh kembali kearah putranya, Aland yang sejak tadi kesulitan bernafas karena dipeluk begitu erat olehnya. Terkulai lemas tak berdaya dipangkuan ibunya.
"Eh.. Eeeeehhhhh..." Elis terkejut, dan menangis sambil berupaya mengembalikan kesadaran putranya.
Dan kepanikanpun terjadi di ruang makan keluarga Marquis pada saat ini, kejadian ini sontak mengundang gelak tawa dari para pelayan yang sedikit merasa kasihan kepada Tuan Muda mereka.
__ADS_1
Di sisi lain, Aland yang masih terkulai lemas hanya bisa pasrah di dalam hatinya. Mengingat dirinya sudah sangat beruntung, mendapatkan keluarga yang begitu hangat dan harmonis di kehidupan keduanya kali ini.