Sistem Penguasa Alam

Sistem Penguasa Alam
Elemen Cahaya


__ADS_3

Usai sarapan, Saka hanya mengobrol ringan dengan keluarganya sembari menyantap pudding sebagai makanan penutup. Setelah selesai, barulah ia menatap Sinta dan Alice dengan serius.


"Ibu, Alice, aku ingin kalian menjadi lebih kuat, karena ada banyak tempat lebih tinggi yang ingin kutuju, dan aku ingin kalian terus menemaniku," ucap Saka yang membuat ketiganya membisu. Ada rasa takjub, tak percaya dan skeptis, tapi tak ada yang membuka suara.


"Saka, apa kamu berencana untuk menggulingkan kerajaan Victoria?" Pertanyaan Sinta membuat Saka tertawa.


"Bukan seperti itu, Bu! Kerajaan Victoria bukanlah akhir tujuanku. Apakah Ibu tidak tahu tentang alam lain?" Saka kembali bertanya.


Sinta mengangkat sebelah alisnya. "Jangan bilang kamu berencana menjelajahi seluruh alam?"


"Mungkin?" jawab Saka dengan ambigu. Ia kemudian bangkit dari duduknya, menuju salah satu sudut goa yang kosong lalu membuat formasi kubah yang hampir menyentuh langit-langit goa dengan lebar yang sama seperti kamar tidur. Kubah itu mengandung ketebalan energi 10 kali lipat, begitu pula dengan gravitasinya.


Tak berhenti di sana, Saka kini berjalan ke tengah goa di mana tumpukan batu roh surgawi berada. Saka membuat pola rumit dengan tangan yang berwarna keemasan sebelum melemparkannya ke arah formasi.


Kraak!


Kraakk!


Pyarr!


Kini tak ada lagi formasi yang melindungi tumpukan batu roh itu. Sinta, Alice, dan Orion mendekat dengan pandangan berbinar. Sejak pertama kali melihat, mereka sudah takjub, tapi tak berani mendekat mendengar perkataan Saka jika ada formasi serangan petir yang melindunginya.


"Ambillah sesuai kebutuhan. Untuk Ibu dan Alice, gunakan batu roh saat berkultivasi setelah kalian menempa fisik di sana." Saka menunjuk formasi kubah yang ia bentuk tadi.


"Tuan Muda, bolehkah aku mencoba di sana?" Orion mengajukan diri. Ia sudah sangat penasaran dan cukup terkejut mengetahui Tuannya adalah ahli formasi array.


"Boleh."


Orion mendekat, formasi yang digunakan oleh Saka bukanlah sebuah kubah tertutup yang mengharuskan si pembuat membuka celah agar bisa dimasuki. Namun, kubah itu terbuka dalam jarak yang sudah ditandai. Siapa pun bisa masuk dengan mudah dan akan langsung menghadapi tekanan gravitasi begitu masuk meski hanya satu langkah.


Oh!

__ADS_1


Orion sedikit mengernyit. Karena tingkat kultivasinya yang sudah tinggi, tekanan gravitasi 10 kali lipat tak terlalu berpengaruh meski ia masih merasakan pundaknya berat. Orion hanya merasa seperti memikul beban seberat 50 kg, tetapi ia masih mampu berdiri tegak dan bergerak tanpa hambatan berarti.


"Tidak terlalu berpengaruh untukku Tuan Muda, tetapi sangat bagus jika digunakan oleh Ibu dan Alice," kata Orion begitu kembali ke sisi Saka.


Saka hanya terkekeh. Sebenarnya ia juga sudah mengetahui hal tersebut.


"Baiklah, agar tidak membuang waktu, aku yang akan membagikan sumber daya. Saka kemudian mengambil semua batu roh menyisakan sebuah peti. Beberapa saat kemudian, Saka mengambil tiga cincin penyimpanan yang berisik batu roh tingkat rendah sampai tingkat surgawi, ratusan pil penyembuhan, penambah energi, penguat pondasi, dan penguat jiwa. Saka juga memberikan jutaan koin emas yang membuat ketiganya melongo.


"Kak, i-ini semua buat aku?" tanya Alice tergagap.  Seumur hidupnya, baru kali ini ia memiliki harta yang begitu banyak. Hidup di kampung nelayan hanya bisa dikategorikan sebagai hidup pas-pasan.


"Tentu saja itu semua buat kalian. Sebaiknya ibu dan Alice segera melatih kekuatan fisik dan naik ranah. Terutama kamu, Alice! Kamu harus cepat menembus ranah Bumi karena akan ada hadiah untukmu." Saka tersenyum misterius yang membuat Alice berbinar mendengar kata hadiah.


"Aku pasti akan menembus ranah Bumi secepatnya, Kak!" Alice bertekad. Meski sekarang ranahnya hanya berada di tingkat Prajurit akhir, tetapi dengan banyaknya sumber daya dan ketebalan energi tak akan menyulitkan langkahnya dalam naik ranah.


Sinta pun hanya mampu berdecak kagum. Ia juga bertekad untuk semakin kuat agar bisa mengimbangi ambisi Saka yang terasa sangat tinggi. Sinta sangat mengenal Saka yang begitu berambisi dan melakukan segalanya demi mencapainya.


Alice dan Sinta pun pergi bersamaan ke kubah formasi. Baru satu langkah, keduanya langsing tersungkur tak mampu menahan tekanan gravitasi yang ada.


Wuungg!


Cermin dimensi dan cincin dunia sedikit bergetar saat menerima darah Saka dan menyerapnya.


Sesaat kemudian Saka tersenyum puas. Ia sudah bisa merasakan keterkaitan dengan ketiga benda itu. Saka meletakkan satu cermin dimensi di dekat kubah formasi. Ia juga membuat sebuah formasi array yang menjadi pintu bagi siapa pun yang ingin masuk ke dalam cermin dimensi.


"Ibu, Alice! Saat kalian telah selesai menempa fisik dan berkultivasi lalu ingin mengasah kemampuan bertempur, kalian bisa masuk ke cermin dimensi ini. Tak perlu khawatir dengan keselamatan kalian, karena kalian akan dikirim keluar saat terbunuh di cermin dimensi."  Saka mengirimkan telepati kepada Sinta dan Alice yang sibuk menahan tekanan gravitasi hingga tak sanggup menggerakkan anggota tubuhnya.


Sinta dan Alice hanya mampu mengedipkan matanya sebagai jawaban.


Saka kemudian kembali ke tempat Orion yang masih berdiri di dekat peti, mengamati semua tindakan Saka.


"Tuan Muda, apakah Tuan Muda berniat meninggalkan goa haru ini?" tanya Orion saat mengamati semua tindakan Saka seolah akan pergi selama beberapa hari.

__ADS_1


Saka mengangguk. "Aku memiliki janji dengan seorang Tetua Paviliun Bunga Mekar, setelah itu aku akan menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi di kota ini, aku merasa sedikit janggal dengan klan darah yang kemarin aku temukan," jawab Saka yang kemudian membuka peti.


Saat peti terbuka, sebuah cahaya menyilaukan membuat Orion dan Saka menutup mata. Saat cahaya itu menghilang, Saka juga menghilang membuat Orion kelabakan.


Di sisi lain, Orion kini tengah berada di sebuah tempat yang semuanya berwarna putih. Semakin Saka melihat warna putih tak berujung, hatinya semakin gelisah. Saka merasa seseorang telah membuat kekacauan di hatinya.


[Ding! Energi mental +2]


[Ding! Energi mental +3]


Saka terdiam dan memejamkan mata setelah mengambil posisi lotus. Ia terus berkonsultasi sementara sistem terus memberikan notifikasi penambahan energi mental. Saka tentu saja tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini, enegeri mental adalah poin utama teknik Hukum, Ruang dan Waktu. Semakin tinggi energi mental atau jiwa seseorang, maka teknik Hukum, Ruang dan Waktu juga semakin tinggi. Untuk saat ini, Saka hanya mampu menggunakan teleportasi sebagai salah satu teknik Hukum, Ruang dan Waktu. Namun tak menutup kemungkinan Saka bisa menghentikan waktu, merobek ruang, dan mengubah tatanan dunia.


"Bangunlah, Anak Muda!" Suara lembut mendayu, membuat Saka membuka mata. Saat ini, bukan hamparan warna putih tak berujung yang ia lihat, tetapi sebuah taman yang sangat indah dengan seorang dewi yang begitu cantik tengah menatapnya dengan tenang.


"Di mana aku?" tanya Saka sembari bangkit dan melihat sekeliling.


"Tenanglah, kamu berada di kesadaran terakhirku," ucap Dewi itu dengan senyuman sendu.


"Apa maksud Dewi?" tanya Saka tak mengerti.


"Anak Muda, waktuku tidak banyak. Bersiaplah menerima warisan terakhir dariku!"


Tanpa aba-aba, Dewi itu menembakkan cahaya ke arah Saka membuat pemuda itu menjerit kesakitan. Sebuah ingatan yang bukan miliknya, masuk secara paksa membuat kepalanya seolah tertimpa beban ribuan ton, hingga ia tak sanggup sekedar menegakkan kepala. Langkah terakhir, tubuh Dewi itu kemudian bersinar menjadi sebuah cahaya sebesar kelereng yang langsung melesat ke bawah pusar di mana dantian Saka berada. Tubuh Saka sempat bergetar sesaat menyesuaikan masuknya cahaya itu. Jika Saka melihat, kini di dantiannya tidak hanya terdapat inti elemen api yang berwarna hitam, tetapi juga inti elemen cahaya yang berwarna putih cerah seolah menyinari lautan dantiannya.


Duaarr!


Duarrr!


Duaarrr!


Ledakan teredam terdengar dari dalam tubuh  Saka.

__ADS_1


Ranah Langit tingkat satu, kini menjadi tingkat kultivasinya.


__ADS_2