Sistem Penguasa Alam

Sistem Penguasa Alam
Berlatih 1


__ADS_3

[Ding! Menampilkan status]


Nama : Arsaka Dirgantara


Status : Calon Penguasa Alam


Kultivasi : Ranah Immortal⁷


Tingkat Tubuh : Fisik Dewa Abadi


Ketrampilan Aktif :


- Tinju militer (max)


- Taekwondo (max)


- Snipper (max)


- Langkah angin (6/10)


- Harimau membelah gunung (3/10)


- Mata Dewa (2/10)


- Teknik Pedang Semesta


- Teknik Auman Naga


- Teknik Hukum, Ruang, dan Waktu


- Teknik Jari Setan


- Teknik Menyatu Alam


- Teknik Mata Ilusi


- Teknik Jejak Jiwa


- Teknik Tombak Penghancur Langit


Pekerjaan : - Master Array 3/10


                     - Master Alkemis 1/10


Elemen : Api Naga Abadi, Cahaya,Angin, Es Semesta


Energi mental : 1.790.000 (setara dengan ranah Mahayana)


Ketrampilan Pasif :


- Teknik Penyerapan Ilahi / Tubuh Kekosongan


Poin Pengalaman : 132/1M


Poin Sistem : 7.080.000 ps


Inventory : Satu kotak emas, satu kotak berlian, senapan Steyr SSG 69, revolver, selengkapnya 》》


Versi Sistem : 2.0


"Hmm, elemenku tidak bertambah karena Tigra juga memiliki elemen angin." Saka mengangguk-angguk menatap status miliknya. Tidak banyak yang berubah, hanya namanya kini benar-benar berubah menjadi Arsaka Dirgantara.


"Sistem, apa yang berubah darimu setelah upgrade? Sepertinya sama saja?" tanya Saka saat tak mendapati fitur-fitur baru di laman sistem.

__ADS_1


[Ding! Silakan Tuan mencari tahu sendiri]


Saka membeku, bibirnya berkedut dengan keinginan untuk mengunyah sesuatu secara brutal. Andai sistem memiliki wujud fisik sudah pasti ia akan mengunyahya hingga lembut.


Saka kemudian menjelajahi sistem, kecuali beberapa barang yang awalnya abu-abu menjadi berwarna, tidak ada lagi perubahan yang spesifik.


Saka kemudian mendengkus dan berdecak. "Sepertinya perubahan yang terjadi setelah upgrade adalah sistem yang semakin menyebalkan."


[Ding! Sistem hanya tidak ingin Tuan semakin malas, di luar sana ada banyak kekuatan yang lebih tinggi dan Tuan harusnya tidak berpuas diri]


"Huh, aku juga tahu, tapi bukankah kamu tahu sendiri aku bisa naik tingkat atau ranah jika membunuh makhluk hidup? Apa aku harus membantai seluruh penghuni hutan hanya agar bisa naik ranah? Itu hanya akan memengaruhi keseimbangan alam."


[Ding! Kenapa semakin naik ranah, ingatan Tuan justru semakin memudar? Bukankah ada banyak artefak yang Tuan beli saat voucher gratis 24 jam?]


Meskipun tak ada intonasi dari ucapan sistem, entah kenapa Saka tetap merasa tersentil. Kenapa juga ia harus melupakan keberadaan cermin dimensi dan kawan-kawannya? Bahkan jika ia membantai semua penghuni cermin dimensi hanya membutuhkan waktu 1x24 jam untuk menghidupkan mereka kembali.


Tak ingin menyiakan waktu, Saka segera kembali ke istana, ia mengeluarkan dua cermin dimensi yang ia letakkan di aula agar semua orang bisa berlatih di cermin dimensi. Saka kemudian keluar dan menatap tanah lapang yang ada di sebelah utara istana.


"Sepertinya ini tempat yang cocok untuk meletakkan Pagoda Naga."


Saka kemudian mengeluarkan artefak pagoda naga lalu menggigit jari dan meneteskan darah di atasnya.


"Membesarlah!"


Perlahan artefak itu membesar hingga menimbulkan bunyi gemuruh yang membuat semua penghuninya keluar.


"Kak, apa itu?" tanya Alice yang langsung melesat mendekat ke arah Saka.


"Itu pagoda naga, memiliki lima lantai dengan kesulitan berbeda. Kalian bisa berlatih di dalamnya, tapi berhati-hatilah, karena Pagoda Naga tidak seperti cermin dimensi yang akan dikeluarkan saat mati. Tapi Pagoga Naga adalah tempat yang paling tepat untuk melatih fisik kalian karena tekanan gravitasi yang tinggi."


Semua orang tampak berbinar dan tak sabar untuk segera mencoba masuk ke Pagoda Naga untuk berlatih.


Tak lama, Pagoda Naga sudah berdiri kokoh dengan tinggi yang hampir menyamai istana.


"Nah, sekarang Pagoda Naga sudah siap, yang mau mencoba silakan, yang mau istirahat juga terserah. Untuk cermin dimensi, aku meletakkannya di aula. Kalian bisa berlatih sepuasnya."


"Aku ingin masuk ke cermin dimensi, kenapa?" Dengan alis yang terangkat sebelah, Saka menatap Alice dengan penuh selidik.


"Ikut," pintanya dengan wajah memelas.


"Kau tak lelah?"


Alice menggeleng. "Baiklah, kita masuk ke cermin dimensi."


Di sisi lain, Vega tampak menggigit bibirnya bimbang. Tengah terjadi pergumulan batin yang membuatnya gelisah.


Sebagai pemilik dunia cincin, Saka tentu saja menyadari perasaan gelisah akut yang dirasakan Vega, maka dari itu ia melirik ke arah saudara kembar itu.


"Ada apa, Vega? Apa ada yang ingin kau katakan?"


Mendapat pertanyaan seperti itu membuat Vega gelagapan. "Anu ... Tuan, aku ... anu...."


Saka hampir saja menyemburkan tawa mendengar jawaban gagap dari Vega.


"Kau boleh ikut." Mata Vega berbinar mendengar ucapan Saka.


"Benarkah, Tuan?"


Saka mengangguk. "Oh ya, untuk Vega dan Venus ke depannya jangan memanggilku Tuan lagi, panggil saja aku kakak."


Venus terharu, sementara Vega justru tersipu. "Baik, Kak!" jawab keduanya serentak.


"Kakak mau ke mana?" Arunika yang sejak tadi terdiam membuka suara.

__ADS_1


Saka berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Arunika lantas mengelus rambut gadis cilik itu dengan lembut.


"Kakak akan latihan biar lebih kuat lagi."


"Apakah Aru boleh ikut?" tanyanya penuh harap. Mata bundarnya berkaca-kaca penuh harap yang membuat Saka hampir saja meleleh karena gemas.


"Tidak, di sana sangat berbahaya dan Aru belum boleh di sana. Malam ini Aru harus istirahat yang banyak agar besok bisa berlatih dengan Kak Saka, gimana?" tanya Saka memberikan penawaran.


"Janji ya, Kak?" Arunika menyodorkan kelingkingnya yang disambut Saka dengan kekehan kecil.


"Kakak janji, besok Aru akan belajar berkultivasi biar bisa kuat seperti kakak."


"Baiklah, malam ini Aru akan istirahat dengan ibu dan besok berlatih dengan Kakak," ucap Arunika patuh.


Saka tersenyum lantas bangkit dan menatap semua orang yang tengah berkumpul.


"Mari kita manfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, karena dalam waktu dekat aku akan membantai para sekte aliran hitam dan vampire."


"Baik, Penguasa!"


"Baik, Yang Mulia!"


"Baik, Tuan Muda!"


"Baik, Kak!"


Semua orang menjawab serentak dengan panggilan yang berbeda-beda.


Saka tersenyum masam. "Tidak bisakah kalian memanggilku dengan nama panggilan yang sama? Sepertinya Tuan Muda lebih baik."


"Tidak berani, Penguasa!" balas Tigra.


"Ini perintah, Tigra!" tegas Saka.


"Baik, Tuan Muda!"


Saka kemudian menatap Gentala. "Paman!"


"Baiklah, Tuan Muda!"


Saka kemudian tersenyum. "Baiklah, ayo Alice, Vega, kita berlatih di cermin dimensi!" ajak Saka, lantas ketiganya berlalu ke aula di mana cermin dimensi berada. Sementara Gentala, Tigra, Orion serta Venus memilih untuk mencoba Pagoda Naga yang baru saja dibangun. Tentu saja untuk Sinta dan Arunika kembali ke kamar untuk istirahat.


Sementara itu Saka, Vega serta Alice telah berada di depan cermin dimensi.


"Kalian ingin berlatih sendiri atau ikut denganku? Karena kita nanti akan diteleportasikan di tempat berbeda. Jika ingin ikut denganku, maka pegang tanganku," ucap Saka sembari mengulurkan tangannya ke dua arah yang berbeda.


Alice tanpa malu langsung memeluk tangan Saka hingga bongkahan kenyal yang sedang mekar-mekarnya itu terasa di lengan Saka, tetapi Vega justru berbeda, ia tampak malu jika ingin memegang tangan Saka.


"Vega, kau ingin berlatih sendiri?" tanya Saka saat Vega tak juga memegang tangannya setelah beberapa saat.


"A-aku ikut, Kak!" jawab Vega tergagap, lalu dengan pelan, mencoba memegang tangan Saka.


"Ah, kau lama sekali!" ujar Saka tak sabaran lalu menyambar Vega dan Alice dengan kedua tangan di pinggang kedua gadis itu lalu masuk ke dalam cermin dimensi.


Blush!


Semburat merah tampak di pipi Alice dan Vega sebelum kemudian tertelan cahaya dan masuk ke cermin dimensi.


**


Maaf kemarin nggak update soalnya aku lembur sampe 14 jam 🥲


Nyampe kosan dan terlalu capek buat nulis jadi libur update.

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, komen, subscribe, dan sawer (panjang amat macam pembukaan channel youtube wkwkwk)


seee youuu


__ADS_2