Sistem Penguasa Alam

Sistem Penguasa Alam
Memulai Petualangan


__ADS_3

Sebuah rengkuhan hangat menghentikan langkah Saka.


"Cucuku, kakek minta maaf!" Suara serak dari lelaki tua menyapa pendengaran Saka. Kedua tangannya masih terkulai di sisi tubuh. Saat ini perasaannya sangat rumit. Ada rindu, asing dan benci yang saling tumpang tindih.


Saat ini, dia adalah Arsaka, bukan Wisaka. Namun sepertinya perasaan tentang Wisaka masih tertinggal meski kini yang menghuni raganya adalah jiwa yang lain. Perasaan rindu yang menggebu-gebu teringat tentang bagaimana sang kakek yang selalu memanjakannya, membuat air mata Saka jatuh tanpa sadar.


Tetua Sana bisa merasakan jika Saka tengah menangis. Ia pun menguraikan pelukan dan ikut berkaca-kaca melihat air mata Saka yang tak berhenti mengalir.


"Kakek minta maaf, maaf karena tidak ada di samping Saka saat Saka mengalami masa sulit. Maaf karena Saka mempunyai keluarga yang begitu buruk. Maafkan kakek." Tetua Sana kembali memeluk Saka sembari mengecupi kening cucunya itu dengan sayang. "Kamu tetap cucu kakek bagaimana pun keadaanmu," bisiknya yang mampu membuat Saka terisak. Lelaki tua ini adalah orang kedua di keluarga Hirawan yang bersikap begitu hangat padanya setelah ia tiba di sini.


"Kakek, meskipun aku memutuskan hubungan keluarga dengan keluarga Hirawan, kamu tetap kakekku. Anggap ini bakti terakhirku kepada keluarga Hirawan. Maafkan Saka, Kek!"


Tetua Sana menggeleng tanpa kata. Bulir bening mengalir di kulit pipinya yang tak lagi muda. Ia merasa ini adalah pertemuan terakhirnya dengan sang cucu. Sementara itu, Pandu hanya mampu menatap nanar tanpa punya keberanian untuk mendekat. Ia terlalu malu bahkan untuk sekedar meminta maaf. Pada akhirnya ia hanya menangis dalam diam sembari mengucap maaf yang tak tersampaikan. Permintaan maaf untuk istri dan anaknya yang sudah ia sia-siakan.


"Saka, tidak bisakah kamu mengurungkan niatmu?" bujuk Tetua Sana penuh harap.


Saka tersenyum. "Maafkan Saka, Kek!"


Bahu Tetua Sana melemas. Ia menunduk dan menyalahkan dirinya sendiri. Andai ia ada di sisi Saka saat itu, mungkin ia bisa melindungi sang cucu hingga Saka tak perlu merasa sakit hati karena perlakuan ayah bodohnya.


Saka kembali mendekat dan memeluk kakeknya. "Tenanglah, Kek! Kalau tugas Saka sudah selesai nanti, Saka akan pulang demi kakek. Kakek adalah satu-satunya alasan Saka untuk kembali, jadi pastikan kakek selalu sehat sampai kita bertemu kembali."


Tetua Sana mengangguk. Ia mulai bisa menerima keputusan dari cucunya. Saka yang melihat sang kakek sudah sedikit tenang pun berjalan sedikit menjauh. Matanya terpejam sebentar, lalu melesat ke atas kediaman keluarga Hirawan. Tampilan Saka sudah berubah dengan fisik dewa-nya. Aura yang begitu agung membuat semua orang yang melihat merasakan kagum dan segan. Tetua Sana bahkan sudah kembali menangis.

__ADS_1


"Cucuku, tidak peduli bagaimana pun kamu, berubah menjadi seperti apa pun, kamu tetap cucuku," gumam Tetua Sana lirih. Melihat perubahan Saka, ia menyadari jika mungkin cucunya memiliki takdir yang tidak biasa.


Saka yang mendengar gumaman dari Tetua Sana pun tersenyum. Matanya yang semula terpejam kemudian membuka, tangannya membuat gerakan rumit bersamaan sinar keemasan yang muncul dari ujung jarinya. Dalam dua hela napas, terlihat empat sinar keemasan menjulang tinggi dari empat sudut kediaman Hirawan. Pilar itu kemudian mulai melengkung membentuk setengah lingkaran yang melingkupi seluruh kediaman Hirawan.


Groaaarrr!


Sebuah siluet naga emas muncul dari udara dan menyatu dengan bertemunya empat pilar. Formasi itu kemudian bersinar bersamaan dengan berpindahnya orang-orang yang ada di kediaman Hirawan. Raut keheranan tak bisa ditutupi dari semua orang yang tiba-tiba saja berada di luar kediaman Hirawan. Saat ingin masuk lagi, mereka seperti menabrak sebuah tembok tak kasat mata.


Usai memasang formasi, Saka turun perlahan. Saat ini yang berada di dalam hanya Saka, Tetua Sana dan Orion. Bahkan, Pandu pun berpindah keluar.


"Kakek, ini adalah batu informasi. Tanpa ijin dari kakek, tidak ada seorang pun yang bisa masuk ke kediaman keluarga Hirawan. Kakek bisa meneteskan darah di batu ini," ucap Saka sambil memberikan sebuah batu yang diterima oleh Tetua Saka dengan tangan gemetar. Seorang ahli formasi, adalah keberadaan langka di kerajaan Victoria ini.


Usai Tetua Sana meneteskan darahnya di atas batu, Saka kembali membuat sebuah formasi yang mempertebal energi hingga tiga kali lipat. Wajah Tetua Sana pun semakin terkejut merasakan kekentalan energi yang sangat tidak mungkin ditemukan dengan mudah.


"Kakek, formasi ini sangat kuat, membutuhkan ratusan orang ranah Immortal untuk menghancurkannya, jadi kakek tidak perlu kemana-mana kalau ingin berkultivasi." Saka kemudian menyerahkan sebuah cincin penyimpanan. "Dengan ini kakek bisa mencapai ranah Immortal dalam waktu dua minggu," ucapnya. "Satu lagi, pecahkan slip jadi ini jika kakek berada dalam bahaya. Ini akan membawa kakek ke tempat yang aman."


"Terima kasih, Nak! Terima kasih. Jasamu sangat besar untuk keluarga ini, padahal kamu sudah merasakan sakit yang luar biasa, maafkan ketidakberdayaan orang tua ini."


Saka mengelus punggung sang kakek sebelum melepaskannya.


"Sampai bertemu lagi, Kek! Saka pamit!"


Saka meraih tangan Orion dan dalam sekejap menghilang. Meninggalkan Tetua Sana yang tergugu di tempatnya.

__ADS_1


*


Hueeekk!


Saka menepuk keningnya karena sifat pelupa yang ia miliki. Ia lupa meminta Orion untuk menutup mata dan alhasil pemuda dengan ranah tinggi itu pun muntah-muntah tanpa bisa dicegah.


Teleportasi memang berbeda dengan langkah angin, sehingga orang yang tak biasa akan merasakan pusing dan mual.


"Maaf, Kak Rion! Aku benar-benar lupa memintamu menutup mata."


Orion bersandar di batang pohon sembari menutup mata. Mencoba menahan gejolak perut yang meminta dimuntahkan.


"Makan ini, Kak! Setidaknya mualmu akan mereda," ucap Saka sembari memberikan sebuah permen mentol.


Orion menerima permen dari Saka dan langsung ia makan. "Rasanya tidak enak." Keningnya mengernyit, sementara Saka menghela napas berat.


"Bungkusnya dibuang dulu, Kak! Seperti ini!" Saka memberikan contoh, diikuti oleh Orion.


"Ooohh, ternyata begini cara makannya? Kenapa ribet sekali," keluhnya yang membuat Saka mendelik kesal. Andai Orion tahu bagaimana perjuangan para pembeli es krim Turki, maka sudah pasti Orion akan membuat perhitungan dengan penjualnya.


"Kemana tujuan kita selanjutnya, Tuan Muda?" tanya Orion begitu merasa lebih baik dan tak lagi mual.


Saka terdiam sejenak. Menimbang mana yang harus ia lakukan lebih dulu.

__ADS_1


"Memberantas bandit, aku juga perlu menyelidiki sesuatu tentang klan darah. Jika hal ini tidak ditangani dengan benar, aku khawatir kota Tanica akan berada dalam bahaya."


Orion hanya terdiam dan mengangguk. Keduanya kemudian melesat ke arah timur, di mana Saka pernah bertemu dengan bandit yang pernah menyebutkan tentang klan darah. Jika ia bisa menemukan sarang mereka, mungkin ia bisa menemukan hal yang lebih spesifik.


__ADS_2