Sistem Penguasa Alam

Sistem Penguasa Alam
Gejolak Kota Ngiwa


__ADS_3

Sesuai prediksi, nama Pasukan Garuda melambung tinggi usai menghancurkan Sekte Bukit Tengkorak dalam waktu singkat. Bahkan keberadaan manusia bersayap pun beredar dengan cepat dan diketahui oleh semua pihak. Tuan Kota dengan sigap mendatangi bekas bangunan sekte untuk memastikan kabar yang didengarnya. Melihat sendiri bagaimana bangunan yang dulu megah kini rata dengan tanah, semua orang bersuka cita. Apalagi saat beberapa anggota keluarga mereka kembali setelah diculik.


Kabar tentang vampire yang bersembunyi di Sekte Bukit Tengkorak juga beredar, membuat semua orang kini waspada dengan semua kekuatan yang ada. Di saat Kota Ngiwa heboh dengan musnahnya sekte besar dalam sekejap, Saka justru tengah bermesraan di dunia cincin.


Setelah pertemuan mengharukan antara Pasukan Garuda dan keluarga yang sebelumnya diculik, Saka langsung menyeret Alice ke kamar untuk istirahat. Ia juga memberi waktu kepada pasukannya untuk beristirahat sebelum menyerang sekte lain yang terbukti bekerja sama dengan vampire. Total ada tiga sekte dan dua keluarga bangsawan di Kota Ngiwa yang bekerja sama dengan vampire dan Saka akan memusnahkan semuanya sebelum melanjutkan ke kota selanjutnya.


"Ada apa?" tanya Alice saat melihat kening Saka berkerut. Ia berhenti mengelus kepala Saka yang ada di pangkuannya dan berganti mengelus kening Saka agar tak terlalu keras dalam berpikir.


"Tidak, hanya saja aku cukup terkejut mendapati pergerakan para vampire yang sudah sejauh ini," ucap Saka dengan helaan napas dalam.


"Kita pasti bisa mempertahankan alam ini dari invasi mereka," ucap Alice dengan yakin.


Saka tersenyum tipis, lalu mengubah posisi tidurnya menghadap perut Alice dan memeluknya. Merasa nyaman, Saka pun memejamkan mata. Alice sendiri bersandar di kepala ranjang dengan bantal di punggungnya, sehingga tak menjadi masalah jika ia tidur dalam keadaan duduk. Pasangan itu akhirnya terbuai dalam mimpi.


*


Hari berganti di dunia cincin, tetapi di dunia nyata matahari baru saja bergerak ke arah barat. Masih ada waktu untuk menghancurkan satu sekte lagi, sementara yang lainnya, Saka akan menghancurkan sendiri. Hitung-hitung menambah poin pengalaman untuk kenaikan ranahnya. Meski hanya bernilai setitik air dalam kolam.


Di halaman istana, sudah berkumpul Pasukan Garuda dengan kondisi puncaknya setelah beristirahat selama satu malam dan berkumpul lagi dengan keluarga.


"Kalian siap?" tanya Saka sembari melihat pasukannya yang begitu antusias.


"Siap, Tuan!"


"Baiklah, aku akan keluar terlebih dahulu, setelah memantau keadaan, aku akan mengeluarkan kalian seperti kemarin. Apa kalian mengerti?"


"Kami mengerti, Tuan!"


Saka keluar dari dunia cincin dan langsung berteleportasi ke Sekte Teratai Hitam, tempat di mana vampire lainnya berada. Saat ini Saka melihat penjagaan sekte dua kali lipat lebih ketat. Mungkin karena mendengar kehancuran Sekte Bukit Tengkorak dan mereka takut menjadi target selanjutnya.


Saka hanya tersenyum miring. Melihat formasi tingkat rendah yang bahkan dengan telunjuknya saja bisa hancur. Namun, Saka memilih operasi seperti kemarin. Memastikan para sandera aman, lalu mengeluarkan Pasukan Garuda dan menggempur Sekte Teratai Hitam sekuat tenaga.


[Ding! Selamat Tuan, telah membunuh 347 kultivator ranah Bumi, mendapatkan 347.000 poin pengalaman]

__ADS_1


Dering notifikasi terus bergema, membuat Saka tak henti menarik bibirnya. Sesekali ia menjentikkan jari, meledakkan kepala petinggi sekte yang sekiranya tidak bisa dihadapi oleh pasukannya.


Dalam waktu dua setengah jam, Sekte Teratai Hitam sudah tak berpenghuni. Berbeda dengan Sekte Bukit Tengkorak yang ia sapu dengan sayapnya, Saka menggunakan api semesta untuk membakar seluruh bagusan Sekte Teratai Hitam. Fenomena ini kembali membuat geger Kota Ngiwa. Lantaran tak ada satu orang pun yang bisa mendekat ke arah api dalam jangkauan lima ratus meter. Ada seorang kultivator lepas ranah Langit awal hangus terbakar karena nekat mendekat. Api itu juga tak bisa padam meski sudah banyak orang berusaha memadamkannya.


Sampai malam menjelang, lokasi Sekte Teratai Hitam masih dikelilingi oleh api.


**


Saat Kota Ngiwa berada dalam kondisi siaga, sekelebat bayangan mulai melesat mendekati lokasi sekte terakhir yang menjadi tempat persembunyian para vampire. Karena tak ingin membuang waktu, Saka langsung membantai semua orang yang ia temui. Kobaran api kedua pun, kini terlihat di sekte itu.


"Sepertinya ini tempatnya," gumam Saka sembari melihat sebuah kediaman bangsawan yang megah dan luas.


Mengedarkan kesadarannya, Saka mendapati ruang bawah tanah di mana vampire berada. Beberapa sudah mulai berjalan keluar. Sepertinya malam ini mereka akan beraksi. Mungkin saja berita tentang hancurnya dua lokasi persembunyian membuat mereka gelisah dan ingin segera menyelidiki siapa yang menghancurkannnya.


"Sepertinya kalian sangat gelisah, lagi menunggu giliran kah?" tanya Saka dengan seringai lebar melihat raut terkejut dari para vampire yang baru saja keluar.


"Siapa kamu?" tanya vampire itu sembari menodongkan senjata.


"Aku? Tentu saja dewa kematian bagi makhluk seperti kalian."


Tuk!


"Wow, Wow! Easy peasy, Bro! Santai dulu napa, sih? Malam masih sangat panjang," seloroh Saka sembari menahan pedang dengan kedua jari tangannya.


Para vampire itu terkesiap. Kewaspadaan mereka meningkat dua kali lipat. Meski tak bisa melihat tingkat kultivasi milik Saka, tetapi bisa menahan pedang seorang ranah Langit akhir berarti orang itu kultivasinya lebih tinggi.


"Jangan terlalu percaya diri bisa menang melawan kami. Saat waktunya tiba, manusia hanya akan menjadi budak dan sumber makanan kami," ucap salah satu vampire dengan pongah. Bahkan kini kedua taringnya muncul sembari menjilat bibir.


"Ck, sepertinya kalian yang terlalu percaya diri!" ucap Saka sembari melesat menyerang.


Pertempuran itu kemudian mengundang kerumunan. Para anggota keluarga bangsawan yang melihat vampire yang mereka lindungi tengah bertarung dengan seseorang pun berkeringat dingin. Takut jika kedok mereka terbongkar dan akhirnya keluarga mereka musnah.


Seorang diri, Saka melawan seluruh anggota keluarga bangsawan itu. Malam yang kelam, menjadi pertumbuhan darah dan pembantaian.

__ADS_1


**


Kota Ngiwa di pagi hari kembali digegerkan dengan musnahnya satu sekte lagi dan dua keluarga bangsawan. Namun yang membuat mereka kembali geram adalah mayat para vampire yang sengaja Saka gantung di gerbang kediaman. Saka menggunakan energi miliknya agar para vampire itu tidak hangus saat matahari terbit.


Tuan Kota bahkan sampai tak bisa berbuat apa-apa menyadari kotanya menjadi sarang vampire selama ini. Namun ia juga sangat penasaran dengan sosok yang membantai tiga sekte dan dua keluarga besar hanya dalam sehari semalam.


Berita itu beredar dengan sangat cepat karena termasuk sebuah peristiwa yang sangat besar.


Bahkan hanya dalam waktu dua hari, Raja Dharma sudah menerima berita tentang gejolak yang terjadi di Kota Ngiwa.


"Bagaimana? Sudah menemukan siapa yang membantai para vampire itu?"


"Yang Mulia, tidak ada satu pun warga Kota Ngiwa yang mengetahui siapa sosok orang itu. Hanya saja, beberapa dari mereka yang menjadi saksi jika Sekte Bukit Tengkorak dihancurkan hanya dalam waktu tiga jam oleh sebuah kelompok yang menamakan dirinya Pasukan Garuda."


Kening Raja Dharma melipat. "Pasukan Garuda? Sepertinya aku baru mendengarnya sekarang."


"Ampun, Yang Mulia! Menurut keterangan para saksi, Pasukan Garuda memang seperti pasukan yang baru terbentuk. Hanya saja, yang unik dari pasukan itu adalah semuanya anak-anak yang berumur 15 tahun ke bawah dan memiliki ranah kultivasi yang sangat tinggi. Bahkan ada yang sudah berada di ranah Langit."


Raja Dharma tak bisa untuk tidak terkejut. Berita ini benar-benar sangat sulit untuk diterima.


"Bagaimana mungkin?" sergah Raja Dharma tak percaya.


"Mungkin saja, Dharma! Aku menyaksikan sendiri."


Seorang pria paruh baya bercaping bambu masuk ke dalam ruang tahta.


"Ayah!" seru Raja Dharma.


"Salam, Raja terdahulu!" sambut yang lain.


Pria paruh baya yang tak lain adalah leluhur Kerajaan Victoria itu duduk di kursinya dan melepas caping bambu lalu diletakkan di meja.


"Aku melihat sendiri kelompok itu membantai Sekte Bukit Tengkorak dengan mudah. Apalagi pemimpinnya, dia masih berusia 17 tahun dan ranahnya sudah jauh di atasku."

__ADS_1


Penjelasan dari Raja terdahulu, sekali lagi membuat mereka tak bisa berkata-kata.


__ADS_2