
Setelah puas menonton pertandingan, Saka dan Alice kembali ke penginapan karena esoknya, Saka berencana untuk melanjutkan perjalanan.
Saka menghempaskan tubuhnya di ranjang. Ia merasa cukup kelelahan meski kegiatannya seharian hanya duduk dan menyaksikan.
"Lelah?" tanya Alice yang menyusul Saka berbaring di ranjang.
Saka menoleh ke arah Alice dan tersenyum tipis. Tangannya merengkuh wanita itu ke dalam pelukannya.
"Sudah tidak lagi," balasnya.
Alice tersenyum tipis mendengar ucapan Saka. Ia pun membalas pelukan dari Saka dan keduanya pun tertidur pulas.
Pagi harinya, Saka dan Alice segera pergi dari penginapan setelah sarapan untuk melanjutkan perjalanan.
Dengan kecepatan terbang menyesuaikan Alice, keduanya melesat ke arah kota Ngiwa berada.
"Kira-kira berapa lama kita akan sampai di kota Ngiwa?" tanya Alice setelah keduanya terbang selama lima jam dan sudah keluar dari kota Rogo. Hutan belantara tanpa ujung kini yang menjadi pemandangan.
"Dengan kecepatan terbang sekarang, kita akan tiba di kota Ngiwa dua minggu lagi," jawab Saka.
"Lumayan lama, kalau lebih cepat lagi?"
"Kalau dengan kecepatanku bisa tiba di sama dalam waktu satu hari."
Alice tampak terdiam sejenak, raut datarnya terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Aku mau kembali ke dunia cincin saja," katanya tiba-tiba.
"Kenapa seperti itu?" tanya Saka kaget.
"Karena kecepatanku sekarang terlalu lambat. Aku belum bisa mengimbangi kecepatan Sasa," ucap Alice dengan murung.
"Sasa?" Dahi Saka mengernyit heran.
"Sayang Saka, disingkat Sasa."
Saka memegang perut sembari tertawa terpingkal-pingkal. Apalagi saat melihat sorot mata polos di wajah datar Alice. Sungguh, Saka merasa konyol dan gemas di waktu bersamaan. Apa-apaan Sasa? Memangnya dia micin?
"Kenapa? Sasa nggak suka?" Sorot matanya meredup dan raut sedih tak bisa disembunyikan membuat Saka merasa sedikit bersalah. Ya sudahlah biarkan saja! Nama Sasa meskipun terkesan seperti merk micin tetapi ini mungkin nama panggilan kesayangan yang sudah dipikirkan oleh wanitanya dengan sungguh-sungguh.
"Baiklah, kamu bisa memanggilku sesukamu," jawab Saka pasrah.
Alice tersenyum hingga matanya menyipit. "Baiklah, kalau begitu Sasa, aku ingin kembali ke dunia cincin."
"Bisakah menemaniku saja? Aku mempunyai cara untuk kita bisa cepat ke kota Ngiwa."
"Benarkah? Bagaimana caranya?"
__ADS_1
"Pejamkan matamu!"
Tanpa diperintah dua kali, Alice memejamkan mata.
Saka kemudian ikut memejamkan mata dan membayangkan dirinya berubah menjadi burung garuda.
"Eh, kok nggak berubah?" gumam Saka beberapa saat kemudian.
[Ding! Tuan belum memasang teknik pengubah wujud]
Saka hanya menepuk keningnya akibat sifatnya yang pelupa.
"Baiklah sistem, pasangkan tekniknya!"
[Ding! Memasang teknik pengubah wujud]
Dalam hitungan hela napas, berbagai informasi tentang teknik pengubah wujud membanjiri otak Saka.
"Sasa, sudah belum?" tanya Alice yang sejak tadi masih setia menutup mata.
"Sebentar lagi, tapi jangan terkejut."
Saka kemudian berubah menjadi burung garuda yang sangat besar. Beruntung karena mereka sedang berada di atas hutan yang terkenal dengan hewan buas dan monster tingkat tinggi sehingga tidak ada kultivator yang berani menjelajahinya. Karena perubahan wujud Saka tersebut, kultivasinya naik menjadi ranah Mahayana, membuat para monster dan hewan buas tertekan sehingga tak ada yang berani mendekat.
"Sekarang buka!" titah Saka.
"Tenanglah! Ini aku!" ucap Saka dalam bentuk burungnya yang membuat Alice linglung.
"Ini ... Sasa?" tanyanya tak percaya.
Saka dalam bentuk burung mengangguk.
"Kok bisa?"
"Tentu saja bisa, kekasihmu ini sangat luar biasa bukan?"
Alice terdiam dan menggigit bibir. Ia dalam fase setengah sadar di mana otaknya dipaksa menerima semua kenyataan yang tak masuk akal.
"Jadi ... selama ini Sasa itu hewan? Memangnya bisa hewan menikah dengan manusia?" tanya Sasa polos.
Namun pertanyaan Alice pun menyentak Saka.
"Sistem, di tubuhku banyak garis darah hewan suci, apakah aku akan bisa mempunyai keturunan jika menikah dengan manusia biasa?"
[Ding! Normalnya tidak bisa, Tuan! Karena manusia biasa tidak akan bisa menahan gen dari darah milik Tuan! Kecuali Tuan memberikan darah Tuan untuk memperkuat gen milik calon ibu dari anak-anak Tuan]
Saka kemudian menghela napas lega. Jika seperti ini, ia hanya perlu memberikan darahnya kepada Alice kelak.
__ADS_1
"Lalu, darah apa yang akan mengalir pada anakku nanti sistem?"
[Ding! Tergantung Tuan! Saat melakukan proses perkembangbiakan Tuan membangkitkan darah yang mana. Garis darah pasangan Tuan juga berpengaruh. Artinya, jika Tuan memiliki pasangan dari ras naga, dan saat proses perkembangbiakan Tuan membangkitkan darah naga, maka anak Tuan menjadi ras naga juga]
Bibir Saka berkedut mendengar penjelasan sistem. "Perkembangbiakan ya? Sepertinya aku benar-benar menjadi hewan," gumamnya lirih.
Mengabaikan penjelasan dari sistem, Saka kemudian menatap Alice yang masih termangu.
"Aku memiliki banyak garis darah di tubuhku," jawab Saka. "Sudahlah! Cepat naik ke punggungku, kita akan terbang ke Kota Ngiwa dengan cepat!"
Alice tak membantah dan naik ke punggung Saka yang lebar. Saka juga memasang perisai energi agar Alice tak terkena imbas akibat kecepatannya.
"Sudah siap, Tuan Putri?" goda Saka yang membuat pipi Alice memerah.
"Mm," jawabnya singkat lalu merebahkan diri di punggung Saka. Bulu-bulu emas milik Saka yang ia sentuh terasa sangat lembut hingga membuatnya tanpa sadar terbuai.
Saka tersenyum tipis merasakan Alice yang tertidur di punggungnya. Ia kemudian melesat dengan cepat menuju Kota Ngiwa, tentu saja ia terbang di atas awan untuk menghindari kehebohan.
*
Setelah terbang selama lima jam, tampak tak jauh terlihat sebuah perkotaan.
"Kota Ngiwa, kita telah sampai," gumam Saka.
"Alice, bangun! Kita telah sampai!" ucap Saka mencoba membangunkan Alice yang seolah tenggelam dalam mimpi.
"Ugh! Sasa, ada apa?" Dengan enggan, Alice bangun. Ia masih tergeletak di punggung Saka, enggan meninggalkan sensasi lembut dan empuk dari bulu-bulu emas milik Saka.
"Kita sudah sampai di kota Ngiwa, Tuan Putri," ulang Saka dengan sedikit tekanan.
Dengan mulut sedikit maju, Alice akhirnya turun dari punggung Saka. Saka pun juga merubah dirinya menjadi manusia dan terkekeh kecil melihat Alice yang ngambek.
"Sudahlah, masih ada kesempatan lain, aku tidak akan kemana-mana," hibur Saka yang membuat Alice sedikit membaik.
"Baiklah, tapi setiap tidur aku mau Sasa nanti berubah lagi menjadi burung seperti tadi. Aku ingin tidur di punggung Sasa."
"Hanya burung? Aku bisa berubah menjadi yang lainnya jika kamu mau," ucap Saka dengan kerlingan jahil.
"Benarkah? Apakah Sasa bisa berubah menjadi anjing?"
Wajah Saka menghitam. Kenapa dari sekian hewan justru anjing yang ada di pikirannya?
"Kenapa harus anjing? Aku bisa berubah menjadi yang lebih besar dari anjing," ujar Saka sedikit ketus.
"Benarkah?" Sedikit binar tampak di mata Alice. "Kalau begitu berubah menjadi beruang?"
Saka tertekan.
__ADS_1
"Sebaiknya kita segera turun dan masuk ke kota, aku sudah lapar," ujar Saka sambil melesat turun, meninggalkan Alice yang mendengkus lalu mengikuti jejak sang kekasih.